JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) merupakan energi terbarukan paling potensial untuk dikembangkan di Jakarta.
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2023 tentang Rencana Umum Energi Daerah, kapasitas PLTS terpasang di Jakarta pada 2050, ditargetkan sebesar 200 megawatt peak (MWp).
Selain itu, pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) juga menjadi energi terbarukan yang cocok untuk Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia lainnya. Untuk PLTSa ditargetkan menghasilkan 100 MWp pada 2050.
"Itu potensinya yang terbesar memang ada di surya. Kalau energi terbarukan dari air (pembangkit listrik tenaga air/PLTA) atau angin (pembangkit listrik tenaga angin atau bayu/PLTB) enggak potensial di Jakarta. Yang kedua sebetulnya sampah," ujar Kepala Bidang Energi Provinsi DKI Jakarta, Andono Warih di Jakarta, Rabu (24/9/2025).
Menurut Andono, dalam mencapai target kapasitas PLTS terpasang di Jakarta, tidak ada upaya khusus untuk mendorong kontribusi dari sektor rumah tangga.
Baca juga: Grand Indonesia Pasang PLTS Atap Terbesar di Jakarta untuk Bangunan Komersial
"Ini sebetulnya di mana pun atau siapa pun yang membangun nanti endingnya berkontribusi kepada energi yang lebih bersih, lebih ramah lingkungan, polusi berkurang, emisi gas rumah kaca berkurang, dan masing-masing pihak yang menginstal ini punya manfaat langsung, yaitu penghapusan listrik," tutur Andono.
Untuk pemanfaatan energi terbarukan secara komunal di permukiman padat penduduk, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta masih mengkaji dan mempertimbangkan pembangunan PLTS groundmounted yang dipasang di tanah. Hingga saat ini, peningkatan kapasitas PLTS terpasang di Jakarta masih disumbangkan bangunan komersial berskala kecil dan menengah.
Senada, Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna juga menganggap PLTS memang menjadi andalan untuk kawasan perkotaan seperti Jakarta.
Dari segi harga, saat ini PLTS sudah mulai kompetitif jika dibandingkan energi fosil, yang sebenarnya relatif murah.
"Sebagian masyarakat melihat masih cukup mahal. Jadi, memang di sini yang sangat diperlukan itu adalah kesadaran. Jadi, kebetulan pelanggan bisa menggunakan energi yang lebih ramah lingkungan," ucapnya.
Menurut Feby, pengembangan energi baru terbarukan di perkotaan masih terkendala akses untuk pendanaan yang agak sulit.
"Tapi sekarang dengan semakin berkembangnya awareness. Di tingkat global juga kredit-kredit untuk yang fosil sudah dikurangi, ini peluangnya sebenarnya cukup besar ya," ujar Feby.
Baca juga: Kapasitas PLTS Terpasang di Jakarta Capai 34 MWp, Disumbang oleh Perkantoran
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya