Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kurangi Polusi, Energi Surya dan Sampah Paling Potensial untuk Jakarta

Kompas.com, 25 September 2025, 16:31 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) merupakan energi terbarukan paling potensial untuk dikembangkan di Jakarta.

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2023 tentang Rencana Umum Energi Daerah, kapasitas PLTS terpasang di Jakarta pada 2050, ditargetkan sebesar 200 megawatt peak (MWp).

Selain itu, pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) juga menjadi energi terbarukan yang cocok untuk Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia lainnya. Untuk PLTSa ditargetkan menghasilkan 100 MWp pada 2050.

"Itu potensinya yang terbesar memang ada di surya. Kalau energi terbarukan dari air (pembangkit listrik tenaga air/PLTA) atau angin (pembangkit listrik tenaga angin atau bayu/PLTB) enggak potensial di Jakarta. Yang kedua sebetulnya sampah," ujar Kepala Bidang Energi Provinsi DKI Jakarta, Andono Warih di Jakarta, Rabu (24/9/2025).

Menurut Andono, dalam mencapai target kapasitas PLTS terpasang di Jakarta, tidak ada upaya khusus untuk mendorong kontribusi dari sektor rumah tangga.

Baca juga: Grand Indonesia Pasang PLTS Atap Terbesar di Jakarta untuk Bangunan Komersial

"Ini sebetulnya di mana pun atau siapa pun yang membangun nanti endingnya berkontribusi kepada energi yang lebih bersih, lebih ramah lingkungan, polusi berkurang, emisi gas rumah kaca berkurang, dan masing-masing pihak yang menginstal ini punya manfaat langsung, yaitu penghapusan listrik," tutur Andono.

Untuk pemanfaatan energi terbarukan secara komunal di permukiman padat penduduk, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta masih mengkaji dan mempertimbangkan pembangunan PLTS groundmounted yang dipasang di tanah. Hingga saat ini, peningkatan kapasitas PLTS terpasang di Jakarta masih disumbangkan bangunan komersial berskala kecil dan menengah.

Senada, Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna juga menganggap PLTS memang menjadi andalan untuk kawasan perkotaan seperti Jakarta.

Dari segi harga, saat ini PLTS sudah mulai kompetitif jika dibandingkan energi fosil, yang sebenarnya relatif murah.

"Sebagian masyarakat melihat masih cukup mahal. Jadi, memang di sini yang sangat diperlukan itu adalah kesadaran. Jadi, kebetulan pelanggan bisa menggunakan energi yang lebih ramah lingkungan," ucapnya.

Menurut Feby, pengembangan energi baru terbarukan di perkotaan masih terkendala akses untuk pendanaan yang agak sulit.

"Tapi sekarang dengan semakin berkembangnya awareness. Di tingkat global juga kredit-kredit untuk yang fosil sudah dikurangi, ini peluangnya sebenarnya cukup besar ya," ujar Feby.

Baca juga: Kapasitas PLTS Terpasang di Jakarta Capai 34 MWp, Disumbang oleh Perkantoran

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PBB Sebut Kerja Sama Iklim Global Terancam, Ajak Negara untuk Bersatu
PBB Sebut Kerja Sama Iklim Global Terancam, Ajak Negara untuk Bersatu
Pemerintah
Harimau Beku Ditemukan dalam Freezer, 2 Orang di Vietnam Ditangkap
Harimau Beku Ditemukan dalam Freezer, 2 Orang di Vietnam Ditangkap
Pemerintah
Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane Bisa Berdampak pada Kesehatan Jangka Panjang
Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane Bisa Berdampak pada Kesehatan Jangka Panjang
Pemerintah
Donald Trump Sebut Krisis Iklim Penipuan, Ilmuwan Ingatkan Dampaknya pada Kesehatan
Donald Trump Sebut Krisis Iklim Penipuan, Ilmuwan Ingatkan Dampaknya pada Kesehatan
LSM/Figur
Krisis Iklim, Perusahaan Prioritaskan Ketahanan Rantai Pasok
Krisis Iklim, Perusahaan Prioritaskan Ketahanan Rantai Pasok
LSM/Figur
Penyu Bertelur Lebih Awal dan Lebih Sedikit akibat Krisis Iklim
Penyu Bertelur Lebih Awal dan Lebih Sedikit akibat Krisis Iklim
LSM/Figur
IPB University Dampingi Masyarakat Adat Kembangkan Sea Farming di Wakatobi
IPB University Dampingi Masyarakat Adat Kembangkan Sea Farming di Wakatobi
LSM/Figur
Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane Atasi Pestisida, Ahli Jelaskan Dampaknya
Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane Atasi Pestisida, Ahli Jelaskan Dampaknya
LSM/Figur
Sungai Cisadane Ditargetkan Bersih Pestisida dalam 2 Minggu, Bagaimana Ekosistemnya?
Sungai Cisadane Ditargetkan Bersih Pestisida dalam 2 Minggu, Bagaimana Ekosistemnya?
LSM/Figur
Jangan Masukkan Sampah Plastik Bernilai Ekonomi Tinggi ke RDF, Mengapa?
Jangan Masukkan Sampah Plastik Bernilai Ekonomi Tinggi ke RDF, Mengapa?
Swasta
KLH Setop Operasional Boiler Pabrik Kertas di Tangerang karena Cemari Udara
KLH Setop Operasional Boiler Pabrik Kertas di Tangerang karena Cemari Udara
Pemerintah
Aksi Iklim Ambisius Bisa Selamatkan 1,32 Juta Jiwa pada 2040
Aksi Iklim Ambisius Bisa Selamatkan 1,32 Juta Jiwa pada 2040
LSM/Figur
Target Ambisius Eropa Pangkas Emisi 90 Persen pada 2040
Target Ambisius Eropa Pangkas Emisi 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Nilam Aceh Bangkit di Tengah Regulasi EUDR
Nilam Aceh Bangkit di Tengah Regulasi EUDR
LSM/Figur
60 Persen Peluang La Nina Bergeser ke El Nino pada 2026, Waspada Cuaca Ekstrem
60 Persen Peluang La Nina Bergeser ke El Nino pada 2026, Waspada Cuaca Ekstrem
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau