Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan Ungkap Limbah Beracun Berpotensi Jadi Sumber Energi Bersih

Kompas.com, 1 Oktober 2025, 17:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bio-tar, cairan pekat hasil pembakaran limbah tanaman, kayu, atau bahan organik lain untuk memproduksi biochar dan energi, sering dianggap sebagai penyebab kerusakan mesin, pipa tersumbat, dan polusi lingkungan.

Namun, sebuah tinjauan baru yang diterbitkan dalam jurnal Biochar berpendapat bahwa limbah ini dapat diubah menjadi "bio-karbon," yaitu bahan bernilai tinggi yang dapat membantu mengurangi emisi, menghasilkan keuntungan, dan meningkatkan keberlanjutan.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa konversi bio-tar menjadi bio-karbon tidak sekadar mengatasi kendala teknis industri bioenergi, tetapi juga membuka jalan bagi produksi material karbon maju yang memiliki nilai jual tinggi," terang Dr. Zonglu Yao dari Chinese Academy of Agricultural Sciences yang juga merupakan penulis senior makalah.

Menurut penelitian itu, berbeda dari biochar biasa, bio-karbon mengandung karbon yang lebih pekat, menghasilkan lebih sedikit abu, dan memiliki struktur yang ideal untuk dimanfaatkan dalam aplikasi teknologi tingkat lanjut.

Baca juga: Energi Bersih Diperkirakan Gantikan 75 Persen Kebutuhan Bahan Bakar Fosil

Penelitian-penelitian awal mengindikasikan bahwa bio-karbon dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembakaran bersih, katalis untuk proses kimia ramah lingkungan, dan juga sebagai material elektroda dalam baterai dan supercapacitor mutakhir yang krusial untuk menyimpan energi terbarukan.

Biokarbon juga dapat membantu membersihkan air dan udara yang tercemar dengan memerangkap logam berat dan kontaminan organik.

Sementara itu melansir Independent, Senin (29/9/2025) mengganti batu bara dengan bahan bakar bio-karbon dapat membantu mengurangi ratusan juta ton karbon dioksida setiap tahun, sambil juga menambahkan aliran pendapatan baru bagi pabrik biomassa.

Namun, para peneliti memperingatkan bahwa kompleksitas bio-tar masih menimbulkan tantangan.

Metode produksi dalam skala besar masih belum mapan dan mengendalikan proses kimianya masih sulit.

Para peneliti menyarankan agar riset di laboratorium disinergikan dengan simulasi komputer dan kecerdasan buatan guna merancang metode produksi yang lebih efisien.

Baca juga: Akses Listrik di Asia-Pasifik Hampir Merata, tapi Transisi Energi Bersih Terhambat

"Proses polimerisasi bio-tar harus dipandang bukan sekadar sebagai penanganan limbah, melainkan sebagai wilayah baru yang menjanjikan untuk pengembangan bahan karbon yang ramah lingkungan dan berkelanjutan," kata Yuxuan Sun, penulis utama studi.

Hasil penelitian ini sendiri dipublikasikan di saat negara-negara global berupaya keras menemukan solusi untuk memangkas emisi dari sektor industri dan energi.

Pakar telah mengingatkan bahwa hanya mengandalkan energi terbarukan tidak akan memadai untuk mencapai target dekarbonisasi pada industri padat emisi seperti kimia, semen, dan baja.

Teknologi yang bertugas mengubah sampah menjadi produk bernilai guna yang disebut sebagai solusi ekonomi sirkular kian dianggap sebagai salah satu kunci penyelesaian masalah emisi dan industri.

Dan para ilmuwan berpendapat bahwa jika teruji kelayakannya secara luas, bio-karbon berpotensi mengatasi kendala utama dalam produksi energi biomassa, sembari menghasilkan material yang mendukung transisi menuju ekonomi yang lebih ramah lingkungan.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau