KOMPAS.com - Bio-tar, cairan pekat hasil pembakaran limbah tanaman, kayu, atau bahan organik lain untuk memproduksi biochar dan energi, sering dianggap sebagai penyebab kerusakan mesin, pipa tersumbat, dan polusi lingkungan.
Namun, sebuah tinjauan baru yang diterbitkan dalam jurnal Biochar berpendapat bahwa limbah ini dapat diubah menjadi "bio-karbon," yaitu bahan bernilai tinggi yang dapat membantu mengurangi emisi, menghasilkan keuntungan, dan meningkatkan keberlanjutan.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa konversi bio-tar menjadi bio-karbon tidak sekadar mengatasi kendala teknis industri bioenergi, tetapi juga membuka jalan bagi produksi material karbon maju yang memiliki nilai jual tinggi," terang Dr. Zonglu Yao dari Chinese Academy of Agricultural Sciences yang juga merupakan penulis senior makalah.
Menurut penelitian itu, berbeda dari biochar biasa, bio-karbon mengandung karbon yang lebih pekat, menghasilkan lebih sedikit abu, dan memiliki struktur yang ideal untuk dimanfaatkan dalam aplikasi teknologi tingkat lanjut.
Baca juga: Energi Bersih Diperkirakan Gantikan 75 Persen Kebutuhan Bahan Bakar Fosil
Penelitian-penelitian awal mengindikasikan bahwa bio-karbon dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembakaran bersih, katalis untuk proses kimia ramah lingkungan, dan juga sebagai material elektroda dalam baterai dan supercapacitor mutakhir yang krusial untuk menyimpan energi terbarukan.
Biokarbon juga dapat membantu membersihkan air dan udara yang tercemar dengan memerangkap logam berat dan kontaminan organik.
Sementara itu melansir Independent, Senin (29/9/2025) mengganti batu bara dengan bahan bakar bio-karbon dapat membantu mengurangi ratusan juta ton karbon dioksida setiap tahun, sambil juga menambahkan aliran pendapatan baru bagi pabrik biomassa.
Namun, para peneliti memperingatkan bahwa kompleksitas bio-tar masih menimbulkan tantangan.
Metode produksi dalam skala besar masih belum mapan dan mengendalikan proses kimianya masih sulit.
Para peneliti menyarankan agar riset di laboratorium disinergikan dengan simulasi komputer dan kecerdasan buatan guna merancang metode produksi yang lebih efisien.
Baca juga: Akses Listrik di Asia-Pasifik Hampir Merata, tapi Transisi Energi Bersih Terhambat
"Proses polimerisasi bio-tar harus dipandang bukan sekadar sebagai penanganan limbah, melainkan sebagai wilayah baru yang menjanjikan untuk pengembangan bahan karbon yang ramah lingkungan dan berkelanjutan," kata Yuxuan Sun, penulis utama studi.
Hasil penelitian ini sendiri dipublikasikan di saat negara-negara global berupaya keras menemukan solusi untuk memangkas emisi dari sektor industri dan energi.
Pakar telah mengingatkan bahwa hanya mengandalkan energi terbarukan tidak akan memadai untuk mencapai target dekarbonisasi pada industri padat emisi seperti kimia, semen, dan baja.
Teknologi yang bertugas mengubah sampah menjadi produk bernilai guna yang disebut sebagai solusi ekonomi sirkular kian dianggap sebagai salah satu kunci penyelesaian masalah emisi dan industri.
Dan para ilmuwan berpendapat bahwa jika teruji kelayakannya secara luas, bio-karbon berpotensi mengatasi kendala utama dalam produksi energi biomassa, sembari menghasilkan material yang mendukung transisi menuju ekonomi yang lebih ramah lingkungan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya