Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Hape ke Buku: Cara SMK di Pedalaman Kalimantan Bikin Murid Jatuh Cinta pada Membaca

Kompas.com, 2 Oktober 2025, 08:42 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KALIMANTAN TENGAH, KOMPAS.com - SMK Maharati, sekolah yang berdiri di tengah hutan Kalimantan Tengah, punya cara berbeda untuk mendidik murid-muridnya. Setiap pagi sebelum kegiatan belajar dimulai, seluruh murid diwajibkan membaca buku.

Gerakan ini bukan sekadar rutinitas. Program tersebut lahir dari hasil evaluasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang menunjukkan masih rendahnya kemampuan literasi dan numerasi. Targetnya sederhana: meningkatkan rapor pendidikan sekolah.

Setahun berjalan, hasilnya terasa. Indeks rapor pendidikan SMK Maharati naik dari warna kuning, kategori perlu diperbaiki, menjadi hijau atau sudah bagus.

“Saat awal datang ke sini, saya bikin progam 1 bulan wajib baca satu buku, terus report ke wali kelasnya. Kalau enggak mencapai, ya, enggak ada progress. Hapenya (gawainya) saya tahan, enggak dikasih di hari libur. Murid pegang hape di hari Sabtu dan Minggu,” ujar Kepala Sekolah SMK Maharati, Aris Dianto, Rabu (1/10/2025).

Dari Hukuman Jadi Kebiasaan

Program literasi ini sebenarnya pernah ada sebelum Aris memimpin pada 2023. Namun, sempat terhenti dan kini dihidupkan kembali dengan sistem yang lebih ketat.

Menurut Aris, murid bebas memilih genre bacaan apa pun, kecuali bacaan dewasa. Perpustakaan sekolah lebih dulu menyeleksi buku-buku yang masuk.

“Karena di asrama enggak boleh pakai hape ya dan SMK Maharati punya perpustakaan. Mereka (akhirnya) pinjam buku dalam waktu lama. Malamnya, supaya bisa tidur, (mereka) baca buku. Itu jadi habit (kebiasaan) baru. Selama ini, di SD dan SMP (mereka) enggak pernah baca buku, bahkan perpustakaannya enggak ada,” jelas Aris.

Murid juga dinilai lewat sistem poin. Membaca buku bisa menambah poin, sementara pelanggaran, termasuk malas membaca, akan mengurangi poin. Hukuman yang diberikan bukan berupa sanksi keras, melainkan penugasan membaca lebih banyak atau menuangkan gagasan ke perlombaan.

“(Membudayakan membaca) Itu sangat sulit sekali karena mereka sudah kecanduan atau ketergantungan dengan hape. Kami harus paksa, lama-lama mereka terbiasa dan menjadikan membaca buku sebagai kebutuhan. Jadi, tanpa kami kasih hukuman atau tanpa harus suruh-suruh lagi, anak itu harusnya sudah automatis untuk membaca buku,” lanjut Aris.

Baca juga: Tanoto Foundation Dorong Percepatan SDGs Bidang Pendidikan di Indonesia

Selain murid, guru dan staf juga diwajibkan membaca. Mereka mendapat pelatihan literasi agar bisa memberi contoh, sekaligus mengasah kemampuan memahami informasi dengan cepat dan menulis gagasan.

“Program pelatihan literasi untuk semua guru maupun staf harapannya supaya (mereka) memberi contoh,” katanya.

Tantangan Perpustakaan

Buku yang dibaca murid-murid mayoritas berasal dari perpustakaan SMK Maharati. Koleksinya sekitar 280 buku aktif, meski total keseluruhan, termasuk yang hilang, mungkin mendekati 1.000.

“Tahun lalu, saya meminta para guru yang cuti atau libur untuk membaca buku dan bukunya itu nanti disumbangkan ke perpustakaan (SMK Maharati),” tutur Aris.

Novel menjadi bacaan favorit para murid. Kepala Perpustakaan SMK Maharati, Dhia Zulfiqar, menyebut novel memberi hiburan sekaligus memperkaya kosakata.

“Kalau harus belajar terus ya bosan, sehingga di sini disediakan novel,” ujarnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau