Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 2 Oktober 2025, 14:42 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com – Isu perubahan iklim kini tak lagi berdiri sendiri. Kerusakan alam dan hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversitas) telah menjadi risiko finansial yang signifikan bagi bisnis global.

Untuk mengatasi krisis ganda ini, sebuah kerangka pelaporan baru bernama Taskforce on Nature-related Financial Disclosures (TNFD) muncul sebagai pilar yang mendesak korporasi untuk tidak hanya mengungkap risiko iklim, tetapi juga risiko yang terkait dengan alam.

Salah satu sesi diskusi panel Lestari Summit 2025 pada Kamis (2/10/2025), di Jakarta, mengangkat tajuk “Accelerating Green Investment in Indonesia Through Nature-Positive Disclosure,” secara khusus melihat TNFD sebagai gerbang utama Indonesia menarik modal dan investasi hijau yang transformatif.

Diskusi menghadirkan Imam Muttaqien (Vice President Safeguard PT PLN Persero), Fiona Armintasari (Sustainable Finance Specialist WWF Indonesia), dan Bimo Soewadji (Co-Founder & CEO CarbonEthics).

Imam Muttaqien menyampaikan, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memegang peran sentral dalam transisi energi, PT PLN menyadari betul bahwa operasional mereka sangat bergantung pada alam.

Dia menjelaskan, adopsi TNFD telah menjadi strategi kunci perusahaan untuk mengelola risiko operasional dan memenuhi tuntutan investor. PLN yang saat ini sedang gencar mencari pendanaan global untuk proyek energi terbarukan, melihat transparansi sebagai prasyarat utama.

“Di sektor energi, risiko iklim dan alam berjalan beriringan. TNFD membantu kami memetakan di mana aset kami rentan, misalnya jika pembangkit air terpengaruh deforestasi hulu atau kenaikan permukaan laut," ungkapnya.

"Melalui TNFD, kami bisa menunjukkan kepada investor bahwa kami mengelola risiko alam secara komprehensif, bukan sekadar basa-basi,” ujar Imam Muttaqien.

Dia menambahkan, komitmen terhadap transparansi ini secara langsung meningkatkan bankability proyek-proyek hijau PLN dan membuka pintu bagi kemitraan dengan lembaga keuangan internasional.

Dalam kesempatan sama, Fiona Armintasari, Sustainable Finance Specialist WWF-Indonesia, menyoroti peran penting TNFD dalam mempercepat penciptaan instrumen keuangan inovatif di Indonesia.

Dari perspektif keuangan berkelanjutan, TNFD dipandang sebagai alat yang memberdayakan lembaga keuangan untuk menyaring risiko alam dalam portofolio pinjaman dan investasi mereka.

Kerangka ini memungkinkan investor mengalihkan modal dari kegiatan yang merusak (nature-negative) ke solusi yang mendukung alam (nature-positive).

“TNFD adalah jembatan yang menghubungkan konservasi dengan pasar modal. Lembaga keuangan tidak hanya harus menghindari pendanaan yang merusak hutan atau pesisir, tetapi juga wajib menciptakan nature-based finance,” jelas Fiona.

Dia menyebut, kerangka TNFD menjadi dasar bagi pengembangan produk seperti nature bond atau biodiversity credit yang dapat digunakan untuk membiayai proyek restorasi, sehingga risiko alam diubah menjadi peluang investasi yang memberikan dampak long-lasting bagi lingkungan.

Bimo Soewadji, Co-Founder & CEO CarbonEthics, melihat tantangan utama dalam implementasi TNFD adalah bagaimana mengukur dan menilai kerusakan alam yang seringkali tidak terhitung dalam laporan keuangan tradisional.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau