"Ada kemungkinan bahwa mekanisme yang dipakai koral untuk mengendalikan cairan di area pembentukan kerangka mereka itu jauh lebih rumit dari yang pernah kita duga," katanya.
"Perlu dilakukan studi lanjutan untuk melihat apakah spesies koral yang lain, atau spesies yang sama di habitat yang berbeda akan menunjukkan reaksi adaptif yang sejenis," tambah Hankins.
Selain pengasaman laut, koral masih menghadapi peningkatan tekanan dari suhu permukaan laut yang memanas, polusi akibat ulah manusia, dan praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan.
Antara tahun 2023 hingga pertengahan Mei 2024, para ilmuwan telah mengonfirmasi terjadinya pemutihan koral massal (mass coral bleaching) di setidaknya 62 negara dan wilayah di seluruh dunia.
Pemutihan koral terjadi ketika koral mengeluarkan alga yang hidup di dalam jaringannya karena kondisi stres, seperti suhu laut yang tinggi, yang menyebabkan koral berubah warna menjadi putih sepenuhnya.
Koral menyediakan kerangka fisik yang menjadi sandaran ekosistem terumbu karang. Jika mereka secara terus-menerus menumbuhkan kerangka yang lebih lemah dan kurang padat, hal itu dapat memicu efek domino yang mengarah pada keruntuhan ekologis yang lebih luas.
Baca juga: Mengapa Terumbu Karang yang Cantik Mendorong Konservasi yang Lebih Kuat
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya