KOMPAS.com - Studi baru memperkirakan perlu biaya yang tak sedikit untuk meningkatkan skala teknologi penangkap karbon hingga skala yang diperlukan demi mencapai target emisi nol bersih dunia pada 2050.
Studi tersebut mengungkapkan diperlukan dana investasi tahunan yang berkisar antara 1,3 triliun hingga 6 triliun dolar AS.
Riset yang dipublikasikan oleh Allied Offsets menyimpulkan bahwa penggunaan teknologi carbon removal dalam skala gigaton harus dilakukan, beriringan dengan pengurangan emisi secara drastis.
Menurut laporan itu, pada tahun 2050, volume karbon yang harus dihilangkan secara global perlu mencapai kisaran 5 sampai 22 gigaton CO2 setiap tahun dan besarnya bergantung pada skenario yang diterapkan.
Sementara Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) memperkirakan untuk mencapai target emisi nol bersih pada 2050, dunia harus menghilangkan sekitar 10 miliar ton CO2 per tahun.
Baca juga: Terobosan Baru, Limbah Udang Disulap Jadi Teknologi Penangkap Karbon
Menurut IPCC, solusi ini akan melibatkan kombinasi antara pendekatan berbasis alam dan teknologi rekayasa buatan.
Di sisi lain emisi global saat ini diperkirakan mencapai 40 gigaton CO2 setiap tahun, sementara kapasitas penghilangan karbon yang tersedia baru mencapai sekitar 2 gigaton.
Jumlah 2 gigaton tersebut umumnya disumbang oleh solusi alamiah, seperti penanaman hutan baru, penghutanan kembali, penyerapan karbon oleh tanah, dan sistem pertanian berbasis kehutanan (agroforestri).
Riset AlliedOffsets ini sendiri disusun berdasarkan lebih dari 60 makalah ilmiah dan studi, dilengkapi dengan data pemodelan dari Carbon Removal Module.
Penelitian juga menyediakan analisis perbandingan mendalam tentang kelayakan skala, biaya, dan dana investasi yang dibutuhkan untuk berbagai jenis teknologi penghilangan karbon.
Melansir Edie, Kamis (2/10/2025) dalam skenario rendah hanya dua hingga tiga teknologi penghilangan karbon yang mampu ditingkatkan skalanya secara efektif.
Teknologi tersebut utamanya adalah penangkapan udara langsung, biochar, dan bioenergi dengan penangkapan dan penyimpanan karbon.
Metode-metode ini berhasil mencapai penghilangan karbon dalam skala gigaton, sedangkan teknologi lainnya tetap terbatas dan hanya mampu menyerap maksimum lima gigaton karbon per tahun menjelang tahun 2050.
Skenario menengah mengasumsikan bahwa emisi global turun sebesar 80 persen relatif terhadap kondisi saat ini.
Namun, 7 hingga 10 gigaton emisi residual atau misi sisa yang sulit dihilangkan tetap ada pada tahun 2050, sehingga membutuhkan teknologi penghilangan karbon untuk menutup kesenjangan tersebut.
Skenario tertinggi memproyeksikan kegagalan industri dalam mencapai target emisi nol bersih, di mana hanya 40 persen emisi yang berhasil dikurangi.
Situasi ini menciptakan defisit besar yang harus diatasi oleh teknologi carbon removal, sehingga mengharuskan penghilangan karbon hingga 22 gigaton CO2 per tahun pada 2050 dan tahun-tahun berikutnya.
Jumlah investasi yang diperlukan tersebut yaitu setara dengan 1 persen hingga 6 persen dari PDB global saat ini yang bernilai 100 triliun dolar AS, yang digambarkan sebagai angka yang substansial tetapi masih bisa dilakukan.
Pasalnya, biaya ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kerugian potensial yang diprediksi mencapai 20 persen dari PDB global akibat dampak perubahan iklim jika tidak ada tindakan pencegahan yang diambil.
Lebih lanjut, biaya rata-rata untuk menghilangkan karbon diperkirakan akan mencapai 160 dolar AS per ton pada tahun 2050.
Baca juga: Pertama Kali, China Kenalkan Kapal Minyak dengan Penangkap Karbon
Dengan biaya tersebut, biochar, BECCS, pelapukan batuan buatan, dan penyimpanan biomassa diperkirakan akan menyumbang hampir 50 persen dari total kebutuhan penghilangan karbon.
Laporan ini juga menyoroti bahwa semua jalur utama penghilangan karbon memiliki potensi signifikan untuk ditingkatkan skalanya.
Misalnya saja, Penangkapan Karbon Langsung dari Udara (Direct Air Capture) berpotensi menangkap hingga 40 gigaton per tahun, tetapi akan memerlukan porsi investasi terbesar, sekitar 37 persen.
Bioenergi dengan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (BECCS) memiliki potensi sekitar 11 gigaton per tahun dan menawarkan manfaat sampingan berupa energi.
Sementara itu, peningkatan alkalinitas laut memiliki rentang teoritis terbesar, diperkirakan antara 1 hingga 100 gigaton per tahun.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya