Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Industri Karet di Kalbar Bertahan dari Krisis Iklim dan Kepungan Sawit

Kompas.com, 28 Oktober 2025, 11:39 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KALIMANTAN BARAT, KOMPAS.com - Curah hujan tinggi akibat krisis iklim mengganggu proses penyadapan getah pada pohon karet. Hujan dapat mengurangi produksi dan kualitas getah karet.

"Kalau hujan, saya enggak bisa menyadap, itu getahnya yang keluar dari batang pohon enggak masuk ke mangkok," ujar seorang petani dari Desa Mekar Raya, Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Rawatrony, Sabtu (25/10/2025).

Saat hujan mengguyur berhari-hari, rayap menjadi lebih aktif dalam merusak pohon-pohon karet. Menurut Rawatrony, sawit cenderung lebih tahan terhadap cuaca ekstrem akibat krisis iklim daripada karet dan kopi. Ia menganggap, cuaca ekstrem akibat krisis iklim turut mempengaruhi banyak petani di Desa Mekar Raya beralih dari karet ke kopi.

Baca juga: Kisah Alexius Atep, Pilih Pertanian Organik dan Agroforestri hingga Raih Penghargaan Lingkungan

Salah satu ketua adat di Desa Mekar Raya, Martinus Singer, mengaku lebih menyukai menyadap karet daripada menanam merawat sawit.

"Karena saya sudah tua kan, memanen hasilnya sudah susah (membutuhkan tenaga dan berat). Kalau yang lebih muda memang lebih suka sawit, mereka bisa kerja keras," tutur Martinus.

Selain musim hujan, kata dia, musim durian juga dapat menurunkan produksi getah karet.

"Enggak ada yang menyadap (saat musim durian). Semua orang nyandau, mengambil durian yang jatuh dari pohonnya di (kawasan) Tembawang (hutan dari bekas permukiman kakek buyutnya duhulu dan sekarang sudah berusia ratusan tahun). Karena orang nyandau bisa siang-malam, hujan-panas enggak peduli, nyandau sampai dapat uang belasan juta. Adik sepupu sampai beli sepeda motor, tapi bekas lah, bukan yang baru," ucapnya.

Kekurangan suplai, pabrik karet berguguran

Jumlah pabrik pengelolaan getah karet di Kalimantan Barat (Kalbar) menyusut secara drastis akibat kekurangan suplai bahan baku. Bahkan, dalam lima tahun terakhir, sebanyak sepuluh pabrik pengelolaan karet di Kalbar ditutup. Kini, hanya tersisa lima pabrik pengelolaan karet di Kalimantan Barat. Pabrik-pabrik pengelolaan getah karet di Kalbar yang masih bertahan, mengimpor bahan baku dari provinsi lain, dan bahkan luar negeri.

Namun, kemungkinan pabrik-pabrik pengelolaan getah karet tersebut untuk tetap bertahan semakin menipis jika suplai bahan baku dari Kalbar terus merosot. Padahal, pabrik-pabrik pengelolaan getah karet di Kalbar masih mengekspor produknya ke luar negeri. Misalnya, PT Bintang Borneo Persada yang mengekspor produknya ke Jepang.

Direktur PT Bintang Borneo Persada, Merly mengatakan, industri pengelolaan karet di Kalbar harus bertahan tanpa dukungan pemerintah. Ia berharap masih ada petani di Kalbar yang masih mencari nafkah dengan menyadap getah karet.

"Nah, kesulitan kami karena motivasi petani menurun ya, sebagian telah berpindah ke komoditas lain (sawit) yang mungkin lebih baik secara harga. Yang lebih menguntungkan dan dari proses penyadapan karet itu sendiri ya, saat ini anak muda sangat jarang yang ini bekerja karet karena itu harus telaten, harus setiap hari," ujar Merly.

Krisis iklim memperparah penyebaran penyakit gugur daun dan penyakit akar yang berdampak pada penurunan produksi getah karet. Rendahnya produktivitas pohon-pohon karet di Kalbar juga diperburuk dengan usianya yang umumnya sudah lebih dari 20 tahun. Untuk menghadapi berbagai tantangan suplai bahan baku karet, Merly menjalin kemitraan dengan koperasi dan badan usaha milik desa (Bumdes).

Misalnya, PT Bintang Borneo Persada membeli getah karet langsung dari Koperasi Juring Jaya Sejahtera — yang memiliki anggota dari Desa Mekar Raya — dengan disertai pendampingan untuk menjaga kualitasnya.

"Dengan adanya kerja sama secara langsung dari pabrik ke koperasi, otomatis petani akan mendapatkan manfaat dari harga lebih baik," tutur Merly.

 Kendala produksi karet

Rawatrony, seorang petani dari Desa Mekar Raya, Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, menanam kopi, pisang, jagung, sampai terong di sela-sela pohon karet.Kompas.com/Manda Firmansyah Rawatrony, seorang petani dari Desa Mekar Raya, Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, menanam kopi, pisang, jagung, sampai terong di sela-sela pohon karet.

Koordinator Program Mobilizing More for Climate (MoMo4C) Tropenbos Indonesia, Triana mengatakan, praktik budi daya karet di Kalbar, termasuk di Desa Mekar Raya, masih bersifat tradisional dan kebunnya seringkali warisan dari generasi sebelumnya. Jadi, bukan perkebunan karet monokultur yang penyadapannya harus setiap hari dan memang tidak dikelola sebagai agrobisnis.

"Padahal, permintaan (karet) ada nih, terus harganya sudah lumayan. Pabrik sebenarnya kekurangan bahan baku. Di Kalbar banyak kebun karet. Orang yang menyadap kurang ya. Dulu harga karet tinggi sekali, terus hancur, jadi mereka masih ini (trauma). Mereka melihat sawit lebih menguntungkan," ucapnya.

Baca juga: Tropenbos Kembangkan Agroforestri Karet dan Kopi Liberika di Kalbar

Menurut Triana, pengembangan agroforestri melalui revitalisasi perkebunan karet yang diiringi dengan diversifikasi tanaman dapat menjadi solusi untuk memenuhi suplai getah. Misalnya, mengintegrasikan perkebunan karet dengan tanaman kopi sebagai sumber pendapatan tambahan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau