Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PLTP Kamojang Hasilkan 1.326 GWh Listrik, Tekan Emisi 1,22 Juta Ton per Tahun

Kompas.com, 6 November 2025, 19:31 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

BANDUNG, KOMPAS.com – Pengembangan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Kamojang menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung transisi energi bersih di Indonesia. Langkah ini juga berkontribusi terhadap pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Melalui pengembangan WKP Kamojang, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memperkuat perannya sebagai penggerak utama industri panas bumi nasional.

“Sebagai pionir panas bumi di Indonesia, Kamojang bukan hanya simbol sejarah, tetapi bukti nyata kontribusi Indonesia dalam mewujudkan masa depan energi bersih. Kami berkomitmen menjadikan Kamojang sebagai pusat inovasi yang membuktikan bagaimana energi panas bumi dapat memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar General Manager PGE Area Kamojang, I Made Budi Kesuma Adi Putra, Kamis (6/11/2025).

Kamojang, Pionir Panas Bumi Indonesia

Area Kamojang dikenal sebagai wilayah panas bumi tertua di Indonesia. Eksplorasi pertama dilakukan pemerintah kolonial Belanda pada 1926, kemudian dilanjutkan oleh Pertamina sejak 1974.

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang resmi beroperasi secara komersial pada 1983. Kini, lima unit PLTP di WKP Kamojang memiliki total kapasitas 235 megawatt (MW) dari total 727 MW kapasitas terpasang yang dikelola PGE.

PGE terus memperluas kapasitasnya dengan target mencapai 1 gigawatt (GW) dalam 2–3 tahun ke depan, serta 1,8 GW pada 2033. Dalam jangka panjang, PGE menargetkan kapasitas total 3 GW dari 10 WKP yang telah teridentifikasi.

Salah satu proyek quick win yang diprioritaskan adalah pemanfaatan uap dari sumur bertekanan rendah di Kamojang berkapasitas 5 MW, yang ditargetkan beroperasi pada 2028.

Dengan kapasitas tersebut, PLTP Kamojang mampu memasok listrik bagi lebih dari 260.000 rumah tangga setiap hari selama setahun penuh, tanpa bergantung pada sinar matahari, cuaca, maupun bahan bakar fosil.

Hingga September 2025, produksi listrik Kamojang telah mencapai 1.326 gigawatt hour (GWh) — tertinggi di antara seluruh WKP PGE — sekaligus menekan emisi karbon hingga 1,22 juta ton CO? per tahun.

Seimbang antara Energi, Lingkungan, dan Masyarakat

WKP Kamojang menjadi contoh nyata pengelolaan panas bumi yang berjalan seimbang antara pertumbuhan bisnis, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Baca juga: PGE: Panas Bumi Bisa menjadi Fondasi Transisi Energi di Asia

Salah satu inovasinya adalah program Digital Rangers App, yang menghadirkan berbagai layanan digital seperti transportasi, jasa wisata, platform penjualan daring, hingga media promosi. Melalui program ini, masyarakat Kamojang dapat menjadi mitra driver motor listrik yang tenaganya bersumber dari listrik bersih PLTP Kamojang.

Selain itu, pemanfaatan panas bumi secara langsung (direct use) juga menggerakkan ekonomi lokal. Melalui Geothermal Dry House pertama di dunia, petani dapat memanfaatkan uap panas bumi dari PLTP Kamojang untuk mempercepat proses pengeringan kopi.

Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu 30–45 hari kini hanya memakan waktu 3–10 hari. Inovasi ini meningkatkan pendapatan petani kopi hingga tiga kali lipat, bahkan membuat kopi Kamojang menembus pasar Jepang, Korea, dan Eropa.

Pelestarian Elang Jawa dan Pertanian Berkelanjutan

Dalam bidang konservasi, PGE bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Raptor Indonesia, dan masyarakat Kamojang untuk melestarikan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) — burung pemangsa dengan kecepatan hingga 300 km/jam.

Sejak 2014, Pusat Konservasi Elang Kamojang telah melepasliarkan 153 Elang Jawa dari total 392 ekor yang telah dikonservasi.

Terbaru, PGE meluncurkan program Geothermal Empowerment for Maximizing Agriculture through Kamojang Responsible and Sustainable Farming (GEMAH KARSA). Melalui program ini, PGE memberdayakan 2.647 penerima manfaat dari kelompok rentan lewat pertanian berkelanjutan berbasis energi panas bumi, penyediaan air bersih, dan produksi pupuk organik.

“Keberadaan PLTP Kamojang tidak hanya memberikan manfaat energi, tetapi juga nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Melalui berbagai program pemberdayaan, kami ingin memastikan bahwa setiap langkah pengembangan energi panas bumi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan komunitas lokal,” tutur Made Budi.

Berbagai inisiatif PGE di Kamojang telah mendapatkan pengakuan nasional dan internasional, termasuk penghargaan PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup yang telah diterima 14 kali berturut-turut.

Baca juga: PT SGI Dorong Keterlibatan Anak Muda Kembangkan Pembangkit Panas Bumi di Flores

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau