Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BCA Ajak Penenun Kain Gunakan Pewarna Alami untuk Bidik Pasar Ekspor

Kompas.com, 7 November 2025, 08:52 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

MEDAN, KOMPAS.com - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui Bakti BCA menggelar pelatihan pewarnaan alami yang ramah lingkungan untuk melestarikan kain tradisional Indonesia atau wastra.

Pelatihan itu digelar untuk para penenun di empat daerah, yakni Timor Tengah Selatan dan Sumba Timur di Nusa Tenggara Timur (NTT), Baduy di Banten, serta Medan di Sumatera Utara.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, mengatakan tujuannya tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga membuka peluang bagi penenun agar bisa menembus pasar ekspor.

"Kalau untuk luar negeri, kami masih bekerja sama dengan partner-partner kami. Misalkan, kami pernah bekerja sama dengan World Bank Headquarters di AS," ujar Hera ditemui di Istana Maimoon, Medan, Selasa (4/11/2025).

Baca juga: Lestarikan Lagi Tenunan Berpewarna Alami, BCA Libatkan 32 Penenun Songket Melayu

Perusahaan juga memperhatikan aspek hak cipta dan perlindungan kekayaan intelektual terhadap motif-motif wastra. Sehingga, kata Hera, pihaknya sangat berhati-hati sebelum memperluas kain tenun ramah lingkungan ke pasar ekspor tertutama terkait royalti dan hak paten.

Di sisi lain, tantangan utama mengembangkan produk wastra berbasis pewarna alami yakni menyesuaikan kualitas, harga, dan pasar yang tepat.

"Maka, market orientated sebagai salah satu target ketika kami membina atau melakukan intervensi menjadi pertimbangan yang penting. Tantangannya tentu untuk market yang mungkin tidak sesuai dengan harga jual kerajinan tangan, jadi sebuah challenge," tutur dia.

Sementara ini, BCA memanfaatkan berbagai event korporat seperti BCA Expo yang rutin digelar dua kali setahun di BSD, Serpong untuk menjangkau pasar dalam negeri. Dia mencatat, penjualan dalam gelaran tersebut meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

Selain itu, BCA juga menggunakan produk-produk mitra binaannya sebagai suvenir dan simbol penghargaan saat kegiatan internal maupun korporasi.

"Mudah-mudahan akses pasar ini bisa terus ada, agar teman-teman yang memproduksi binaan kami juga tetap optimistis bisa mendapatkan penghasilan dari produk mereka," ucap Hera.

Baca juga: Dukung Pemberdayaan Ekonomi, BCA Dorong UMKM Lokal Menembus Pasar Global

BCA melakukan sejumlah kajian untuk menentukan anggota binaan Bakti BCA, sekaligus menjustifikasi jenis-jenis kerajinan yang berisiko punah. Kemudian, melihat karakter pengrajin yang sesuai dengan visi dan misi perusahaan.

"Kalau oke, kami akan masuk ke sana, kita akan intervensi, siapkan kalender plan-nya, seperti apa pelatihannya. Lalu sampai tujuan akhirnya itu bisa dijual," jelas Hera.

Pendampingan dilakukan secara berkala dengan evaluasi capaian dan perencanaan jangka panjang. Hera menyebutkan saat ini penggunaan warna alam dalam proses penciptaan kain tenun makin kalah pamor dari pewarna sintetis.

Produksinya yang panjang menyebabkan pewarna alam dianggap lebih sulit digunakan dan mahal daripada pewarna sintetis.

"Komunitas perajin di sini tak hanya sekadar mempertahankan tradisi tapi juga dapat bersaing di pasar lokal maupun global,” kata dia.

Berdasarkan Market Research Future 2025, nilai pasar pewarna alam dunia dapat mencapai 7,2 miliar dollar AS pada 2032 dengan estimasi pertumbuhan per tahun sekitar 8,5 persen sepanjang 2026-2033.

Tren pasar yang makin memperhitungkan dampak lingkungan dalam proses produksi menjadi pendorong utama popularitas pewarna alam.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau