Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Ungkap 2025 Jadi Salah Satu dari Tiga Tahun Terpanas Global

Kompas.com, 7 November 2025, 17:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan rentetan suhu luar biasa yang mengkhawatirkan telah menempatkan tahun 2025 pada jalurnya untuk menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat, meskipun PBB menegaskan bahwa tren ini masih bisa dihentikan.

Meskipun tahun 2025 tidak akan melampaui 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat, tahun ini akan menduduki peringkat kedua atau ketiga, kata badan cuaca dan iklim PBB.

Sementara itu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga memperingatkan konsentrasi gas rumah kaca tumbuh mencapai rekor tertinggi baru pada 2024, menyerap lebih banyak panas dan menyebabkan suhu global akan terus meningkatkan di tahun-tahun mendatang.

Peringatan itu dirilis saat puluhan pemimpin dunia bertemu di Amazon Brasil menjelang KTT Iklim PBB COP30 minggu depan.

Baca juga: Kita Tak Bisa Menghindar Lagi, Suhu Bumi Naik Minimal 2,3 Derajat Celsius

Program Lingkungan PBB juga mengonfirmasi bahwa emisi gas rumah kaca meningkat sebesar 2,3 persen tahun lalu, pertumbuhan didorong oleh India, China, Rusia dan Indonesia.

"Merujuk pada rentetan suhu ekstrem dan rekor gas rumah kaca, dunia tidak mungkin menjaga pemanasan di bawah ambang batas 1,5 derajat C tanpa melampaui target Perjanjian Paris dalam waktu dekat," ungkap Kepala WMO Celeste Saulo, dikutip dari Phys, Kamis (6/11/2025).

Perjanjian iklim Paris 2015 bertujuan untuk membatasi pemanasan global hingga jauh di bawah dua derajat Celsius di atas tingkat pra-industri dan hingga 1,5 C jika memungkinkan.

Laporan WMO menyatakan bahwa tahun-tahun antara 2015 hingga 2025 akan menjadi terhangat sejak pengamatan dimulai 176 tahun yang lalu.

Dan tahun 2023, 2024, dan 2025 berada di puncak peringkat tersebut.

WMO menyatakan dampak kenaikan suhu dapat dilihat pada luasan es laut Arktik, yang setelah musim dingin membeku tahun ini mencapai titik terendah yang pernah tercatat.

Sementara itu, luasan es laut Antartika tercatat jauh di bawah rata-rata sepanjang tahun.

WMO juga menyoroti berbagai peristiwa ekstrem terkait cuaca dan iklim selama delapan bulan pertama tahun 2025, mulai dari banjir dahsyat hingga panas dan kebakaran hutan yang brutal, dengan dampak berantai pada kehidupan, mata pencaharian, dan sistem pangan.

Baca juga: WMO Prediksi Suhu Bumi Meningkat Lagi hingga November 2025

Kendati demikian, WMO memuji kemajuan signifikan dalam sistem peringatan dini dari sebelumnya.

Sejak tahun 2015, jumlah negara yang mengadopsi sistem peringatan dini telah meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 56 menjadi 119.

Namun, WMO menyesalkan bahwa 40 persen negara di dunia masih belum memiliki sistem peringatan dini semacam itu.

"Tindakan mendesak diperlukan untuk menutup kesenjangan yang tersisa ini," tegas WMO.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Presiden Prabowo Beri 20.000 Hektar Lahan di Aceh untuk Gajah
Presiden Prabowo Beri 20.000 Hektar Lahan di Aceh untuk Gajah
Pemerintah
IWGFF: Bank Tak Ikut Tren Investasi Hijau, Risiko Reputasi akan Tinggi
IWGFF: Bank Tak Ikut Tren Investasi Hijau, Risiko Reputasi akan Tinggi
LSM/Figur
MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua
MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua
LSM/Figur
Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
LSM/Figur
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
LSM/Figur
Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Pemerintah
PHE Konsisten Lestarikan Elang Jawa di Kamojang Jawa Barat
PHE Konsisten Lestarikan Elang Jawa di Kamojang Jawa Barat
Pemerintah
Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
LSM/Figur
Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Pemerintah
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Pemerintah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
Pemerintah
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
Pemerintah
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
LSM/Figur
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Swasta
KLH Identifikasi Hutan di Aceh Dibuka untuk Sawit dan Tambang Ilegal
KLH Identifikasi Hutan di Aceh Dibuka untuk Sawit dan Tambang Ilegal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau