KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan rentetan suhu luar biasa yang mengkhawatirkan telah menempatkan tahun 2025 pada jalurnya untuk menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat, meskipun PBB menegaskan bahwa tren ini masih bisa dihentikan.
Meskipun tahun 2025 tidak akan melampaui 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat, tahun ini akan menduduki peringkat kedua atau ketiga, kata badan cuaca dan iklim PBB.
Sementara itu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga memperingatkan konsentrasi gas rumah kaca tumbuh mencapai rekor tertinggi baru pada 2024, menyerap lebih banyak panas dan menyebabkan suhu global akan terus meningkatkan di tahun-tahun mendatang.
Peringatan itu dirilis saat puluhan pemimpin dunia bertemu di Amazon Brasil menjelang KTT Iklim PBB COP30 minggu depan.
Baca juga: Kita Tak Bisa Menghindar Lagi, Suhu Bumi Naik Minimal 2,3 Derajat Celsius
Program Lingkungan PBB juga mengonfirmasi bahwa emisi gas rumah kaca meningkat sebesar 2,3 persen tahun lalu, pertumbuhan didorong oleh India, China, Rusia dan Indonesia.
"Merujuk pada rentetan suhu ekstrem dan rekor gas rumah kaca, dunia tidak mungkin menjaga pemanasan di bawah ambang batas 1,5 derajat C tanpa melampaui target Perjanjian Paris dalam waktu dekat," ungkap Kepala WMO Celeste Saulo, dikutip dari Phys, Kamis (6/11/2025).
Perjanjian iklim Paris 2015 bertujuan untuk membatasi pemanasan global hingga jauh di bawah dua derajat Celsius di atas tingkat pra-industri dan hingga 1,5 C jika memungkinkan.
Laporan WMO menyatakan bahwa tahun-tahun antara 2015 hingga 2025 akan menjadi terhangat sejak pengamatan dimulai 176 tahun yang lalu.
Dan tahun 2023, 2024, dan 2025 berada di puncak peringkat tersebut.
WMO menyatakan dampak kenaikan suhu dapat dilihat pada luasan es laut Arktik, yang setelah musim dingin membeku tahun ini mencapai titik terendah yang pernah tercatat.
Sementara itu, luasan es laut Antartika tercatat jauh di bawah rata-rata sepanjang tahun.
WMO juga menyoroti berbagai peristiwa ekstrem terkait cuaca dan iklim selama delapan bulan pertama tahun 2025, mulai dari banjir dahsyat hingga panas dan kebakaran hutan yang brutal, dengan dampak berantai pada kehidupan, mata pencaharian, dan sistem pangan.
Baca juga: WMO Prediksi Suhu Bumi Meningkat Lagi hingga November 2025
Kendati demikian, WMO memuji kemajuan signifikan dalam sistem peringatan dini dari sebelumnya.
Sejak tahun 2015, jumlah negara yang mengadopsi sistem peringatan dini telah meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 56 menjadi 119.
Namun, WMO menyesalkan bahwa 40 persen negara di dunia masih belum memiliki sistem peringatan dini semacam itu.
"Tindakan mendesak diperlukan untuk menutup kesenjangan yang tersisa ini," tegas WMO.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya