Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Perubahan Iklim: Sudah Telat Selamatkan Kopi, Cokelat, dan Anggur

Kompas.com, 9 November 2025, 17:14 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Para ilmuwan memperingatkan tanaman-tanaman mewah yang diandalkan jutaan orang setiap hari seperti kopi cokelat dan anggur makin terdesak karena perubahan iklim.

Kenaikan suhu serta perubahan pola curah hujan mengancam panen sekaligus mata pencaharian para petani.

Dan kini, peneliti berdasarkan studi mereka menyebut bahwa tanaman-tanaman tersebut mungkin tidak dapat diselamatkan.

Melansir Earth, Kamis (6/11/2025), tanaman yang ditanaman terutama karena nilai pasarnya yang tinggi disebut tanaman mewah.

Tanaman-tanaman tersebut mencakup tanaman seperti kopi, kakao, teh, vanili, safron, dan truffle.

Para petani membudidayakan tanaman ini karena orang-orang di seluruh dunia bersedia membayar harga premium untuk rasa, aroma, atau kelangkaan uniknya.

Baca juga: Melihat Upaya Konservasi Tanaman dan Fauna Endemik Sulawesi di Taman Kehati Sawerigading Wallacea

Tanaman ini seringkali membutuhkan kondisi pertumbuhan tertentu seperti ketinggian, suhu, atau jenis tanah yang membatasi tempat mereka dapat tumbuh subur. Kelangkaan itulah yang menjadikannya "mewah".

Namun perubahan iklim telah mengancam masa depan tanaman mewah tersebut.

Tanaman seperti kopi, kakao, dan teh bergantung pada rentang suhu, pola curah hujan, dan kualitas tanah yang sangat spesifik. Seiring meningkatnya suhu global, kondisi-kondisi ini bergeser atau bahkan menghilang sama sekali.

Sebelumnya, ada wacana untuk mendinginkan planet sebagai upaya menyelamatkan tanaman-tanaman tersebut.

Tapi benarkah itu efektif?

Untuk mengetahuinya tim peneliti Colorado State University (CSU) menguji metode yang disebut injeksi aerosol stratosfer (SAI) untuk menurunkan suhu permukaan.

Peneliti pun menemukan bahwa pendinginan matahari mendistribusikan kembali panas dan kelembapan alih-alih menargetkan kebutuhan pertanian tertentu.

Secara keseluruhan, hanya enam dari delapan belas tempat yang menunjukkan manfaat jelas dengan penggunaan metode pendinginan. Sisanya, tidak menunjukkan perbaikan yang jelas atau memperlihatkan hasil yang beragam.

Sebagai gambaran, budidaya anggur memerlukan keseimbangan suhu yang sangat spesifik. Meskipun suhu rendah membantu mengatasi stres panas di musim panas, kualitas dan kelangsungan hidup tanaman anggur secara keseluruhan sangat bergantung pada masa dingin yang memadai untuk mencegah kerusakan akibat tunas dini dan embun beku.

Sementara itu di wilayah penghasil kakao, minggu-minggu yang lebih basah dapat memicu wabah jamur yang merusak.

Kondisi iklim yang berbeda dapat memberikan hasil positif sekaligus negatif pada tanaman kopi.

Baca juga: Pembakaran Sisa Tanaman Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba

Kopi Arabika sangat sensitif terhadap dingin. Suhu rendah yang ekstrem, bahkan hanya sebentar, dapat menghentikan pertumbuhan atau merusak buah kopi.

Kekeringan yang lama menghambat proses penting yang berujung pada penurunan drastis hasil panen.

“Mengurangi suhu hanya dengan SAI saja tidak cukup. Misalnya, spesies kakao, meskipun lebih toleran terhadap suhu panas daripada kopi dan anggur, sangat rentan terhadap hama dan penyakit yang disebabkan oleh kombinasi suhu tinggi, curah hujan, dan kelembapan,” kata Ariel L. Morrison, Ph.D., dari CSU.

Peneliti pun berkesimpulan pendinginan planet dapat menurunkan suhu ekstrem tetapi tidak menjamin panen yang lebih baik untuk tanaman mewah ini.

“Intervensi iklim SAI mungkin menawarkan bantuan sementara dari kenaikan suhu di beberapa wilayah, tetapi tidak menjamin solusi untuk tantangan yang dihadapi pertanian tanaman mewah,” kata Dr. Morrison.

“Strategi adaptasi yang disesuaikan dengan kondisi lokal, investasi dalam praktik pertanian yang tangguh, dan kerja sama global sangat penting untuk menyelamatkan tanaman-tanaman ini dan masyarakat yang bergantung padanya,” paparnya lagi.

Pasalnya, perubahan iklim tidak hanya mengubah cuaca tetapi juga mengubah geografi dan kelangsungan hidup tanaman dan pertanian mewah di seluruh dunia.

Beberapa variasi adaptasi yang bisa diaplikasikan berdasarkan tanaman dan lokasi misalnya saja mengganti varietas, mengubah tata kelola, memperbaiki drainase, menyesuaikan waktu panen, atau berinvestasi untuk perlindungan naungan dan angin.

Studi ini dipublikasikan di Environmental Research Letters.

Baca juga: PGE Manfaatkan Panas Bumi untuk Keringkan Kopi hingga Budi Daya Ikan di Gunung

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau