Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Randi Syafutra
Dosen Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Seorang yang suka menulis

Hari Pahlawan dan Pejuang Lingkungan Kita

Kompas.com, 10 November 2025, 06:21 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

SETIAP tanggal 10 November, bangsa Indonesia mengenang jasa para pahlawan yang berjuang mempertahankan kemerdekaan. Namun makna kepahlawanan tidak berhenti di masa lalu.

Dalam konteks hari ini, perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga berarti menjaga keberlanjutan bumi. Musuh kita bukan lagi penjajah bersenjata, tetapi kerusakan alam, eksploitasi sumber daya yang berlebihan, dan perubahan iklim yang mengancam masa depan generasi berikutnya.

Pahlawan Lingkungan, Penjaga Tanah Air Masa Kini

Semangat perjuangan para pahlawan sejati lahir dari cinta tanah air. Kini, cinta tanah air diwujudkan dengan menjaga hutan, laut, dan sungai sebagai sumber kehidupan bangsa. Tanah air tidak hanya berarti wilayah, tetapi juga seluruh sistem ekologi yang menjadi penopang kehidupan manusia Indonesia.

Mereka yang menanam pohon di lahan kritis, memungut sampah di sungai, atau merawat mangrove di pesisir sejatinya sedang mempertahankan kemerdekaan lingkungan. Upaya menjaga keseimbangan alam adalah bentuk nyata cinta tanah air yang setara nilainya dengan perjuangan di medan perang.

Baca juga: Lakukan Konservasi Burung Paruh Bengkok, Pasutri Dudi-Dwi Raih Beasiswa Kuliah S2-S3 UGM

Konservasi sebagai Perjuangan Zaman Baru

Upaya konservasi merupakan perlawanan terhadap ancaman baru yang mengintai bumi. Deforestasi, pencemaran, dan perubahan iklim menjadi penjajah modern yang menggerus kesejahteraan rakyat. Konservasi berarti menahan laju kerusakan dan memastikan sumber daya alam digunakan secara bijak untuk jangka panjang.

Konservasi membawa manfaat yang jelas. Keanekaragaman hayati terlindungi, keseimbangan ekosistem terjaga, dan risiko bencana alam seperti banjir, longsor, dan kekeringan dapat ditekan. Konservasi juga menjamin keberlanjutan sumber daya air dan tanah bagi generasi mendatang serta mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, termasuk akses air bersih dan sanitasi layak bagi masyarakat.

Keteladanan Para Pejuang Lingkungan

Indonesia memiliki banyak pahlawan konservasi yang berjuang bukan dengan senjata, tetapi dengan ketekunan dan keikhlasan. Sebagian besar bekerja tanpa sorotan publik, menghadapi risiko besar, dan sering berjuang di tengah minimnya dukungan pemerintah.

Di tingkat nasional, Prof. Emil Salim dikenal sebagai Bapak Lingkungan Hidup Indonesia, yang memperkenalkan konsep pembangunan berkelanjutan di negeri ini. Siti Nurbaya Bakar berperan mendorong paradigma konservasi yang lebih dinamis, dari sekadar perlindungan menuju restorasi ekosistem.

Delima Silalahi adalah contoh pejuang hak tanah adat yang menorehkan sejarah dengan meraih Goldman Environmental Prize 2023. Ia memperjuangkan pengakuan hak masyarakat adat di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara, agar hutan adat tetap lestari dan menjadi sumber kehidupan bagi komunitasnya.

Abdon Nababan juga layak dikenang sebagai tokoh nasional yang konsisten membela masyarakat adat. Penerima Ramon Magsaysay Award ini memperjuangkan pengakuan hak-hak adat serta pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis komunitas. Dedikasinya memperlihatkan bahwa pelestarian alam tidak bisa dilepaskan dari keadilan sosial.

Daman dan Tini Kasmawati adalah simbol pejuang lingkungan di tingkat akar rumput. Daman menjaga hutan bakau dan populasi lutung Jawa di Muara Gembong, Bekasi, sementara Tini Kasmawati merawat Owa Jawa di Hutan Lengkong, Sukabumi, meski penglihatannya terganggu. Keduanya bekerja secara mandiri untuk melindungi alam di tengah lemahnya peran negara.

Mbah Sadiman menjadi sosok inspiratif yang menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari satu orang. Dengan tekad dan kerja keras, ia menghijaukan lahan kritis di lereng Gunung Lawu, menanam ribuan pohon hingga menghidupkan kembali sumber air di desanya. Kisahnya menjadi simbol nyata bahwa kepahlawanan tidak mengenal usia dan tidak bergantung pada jabatan.

Pejuang lingkungan lainnya juga pantas disebut. Wasito di Kendal menanam lebih dari dua ratus ribu mangrove untuk menahan abrasi di pesisir utara Jawa. Oday Kodariyah (Mamah Oday) di Jawa Barat mengabdikan hidupnya untuk melestarikan tanaman obat tradisional di tengah arus modernisasi.

Nur Hidayati, aktivis lingkungan dan mantan Direktur Eksekutif WALHI, dikenal gigih dalam memperjuangkan keadilan ekologis di tingkat nasional. A’ak Abdullah Al-Kudus melalui Laskar Hijau menggerakkan masyarakat agar peduli terhadap penghijauan dan konservasi.

Sukianto Lusli, Yusup Cahyadin, dan Agus Budi Utomo dari Burung Indonesia merintis program restorasi hutan alam produksi, sebuah inisiatif yang awalnya diragukan, tetapi kemudian diakui sebagai langkah penting dalam konservasi nasional.

Baca juga: Cerita Inspiratif Mbah Sadiman, Peraih Kalpataru Asal Wonogiri (1): Tanam Ribuan Pohon Rumah Makhluk Halus demi Hijaukan Lereng Gunung Lawu

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau