Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mendobrak Stigma, Menafsir Ulang Calon Arang lewat Suara Perempuan dari Panggung Palegongan Satua Calonarang

Kompas.com, 14 November 2025, 12:16 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Sore itu, Teater Salihara Jakarta diselimuti keheningan sebelum denting gamelan perlahan mengalun.

Dari sisi kanan panggung, sekelompok penari muncul dengan gerak yang gemulai, tetapi tegas. Tak lama kemudian, sosok Calon Arangperempuan yang kerap disalahpahami sebagai simbol kejahatan—menapaki panggung.

Hari itu, ia bukan lagi sosok menakutkan. Melalui pementasan Palegongan Satua Calonarang garapan Bengkel Tari AyuBulan, tokoh ini tampil sebagai perempuan berilmu, penuh kasih, dan berani melawan stigma.

Pertunjukan yang digelar pada Minggu (9/11/2025) itu menjadi momen istimewa. Selain memperingati satu dekade sejak versi pertamanya dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya pada 2015, karya ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada mendiang Ayu Bulantrisna Djelantik, maestro tari Legong klasik Bali yang menjadi inspirasi lahirnya Bengkel Tari AyuBulan.

“Ini bukan sekadar pentas mengenang Ibu Bulantrisna. Kami ingin meneruskan semangat beliau dalam menjaga relevansi tari palegongan di masa kini—bagaimana seni tradisi bisa tetap bicara dengan bahasa zaman,” ujar pimpinan Bengkel Tari AyuBulan Nyoman Trianawati.

Baca juga: Perempuan Aceh dan Peran Budaya dalam Membangun Citra Tanah Rencong di Dunia

Versi terbaru Satua Calonarang ini hadir lebih panjang, sekitar satu jam, dengan tata gerak dan musik yang disempurnakan. Para penari lintas generasi bergantian menghidupkan kisah legendaris yang telah hidup berabad-abad di Jawa dan Bali itu.

Kisah Calon Arang pertama kali tercatat dalam naskah lontar abad ke-16 (tahun Saka 1462) dan diwariskan lewat tuturan lisan di berbagai daerah.

Cerita rakyat ini berkisah tentang Dirah, seorang janda sakti dari Desa Girah yang memiliki seorang putri cantik, Ratna Manggali. Ilmunya yang tinggi membuatnya dihormati sekaligus ditakuti.

Pertunjukan Palegongan Satua Calonarang dipentaskan Bengkel Tari AyuBulan di Teater Salihara Jakarta, Minggu (9/11/2025)SDQ Pertunjukan Palegongan Satua Calonarang dipentaskan Bengkel Tari AyuBulan di Teater Salihara Jakarta, Minggu (9/11/2025)

Selama berabad-abad, Calon Arang dikenal sebagai lambang “kejahatan”. Ia dicap sebagai perempuan yang melawan tatanan dan dianggap mengganggu keseimbangan dunia karena kekuatannya. Namun, pementasan Bengkel Tari AyuBulan berupaya membaca ulang makna itu.

“Bagi kami, Calon Arang bukan perempuan jahat. Ia justru perempuan berdaya, ibu tunggal yang mendidik anaknya dengan cinta. Tapi karena ia terlalu kuat, ia dilabeli negatif,” tutur pimpinan produksi pementasan Renny Triwahyuni.

Antara ilmu, cinta, dan stigma

Dalam pementasan itu, sosok Dirah ditampilkan sebagai perempuan yang terluka oleh ketidakadilan sosial. Ia disingkirkan karena keberaniannya, dituduh sesat karena ilmunya, dan dicap “jahat” karena tak tunduk pada norma yang diciptakan oleh laki-laki.

Baca juga: Lewat Teras Perwira, Grab Ajak Mitra-Pengguna, dan Komunitas Tuli Dukung Kesetaraan

Renny menyebut, pesan moral yang ingin mereka angkat adalah kebenaran dan kesalahan tidak selalu hitam dan putih.” Dalam kisah Calon Arang, baik Dirah maupun Baradah, sama-sama memiliki sisi benar dan salah.

“Cerita ini tidak memberi jawaban tunggal. Namun, di sanalah keindahannya. Kebenaran bisa dilihat dari banyak sisi, termasuk dari pandangan seorang perempuan yang selama ini dibungkam,” ucapnya.

Pementasan versi terbaru ini juga menambahkan unsur-unsur baru—seperti karakter prajurit Lemah Tulis, pengawal Baradah—dan menggabungkan karya lain dari Bulantrisna Djelantik dan koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani berjudul Solah Shanti di bagian awal.

Tak hanya kisah di atas panggung yang sarat makna, di balik layar pun pementasan ini merupakan cermin kekuatan perempuan. Sebagian besar kru, koreografer, dan penari utama adalah perempuan—dari generasi muda hingga senior.

Baca juga: Mendengar Suara Perempuan Penggerak Keberlanjutan di Lestari Summit 2025

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Riset CELIOS: Lapangan Kerja dari Program MBG Terbatas dan Tak Merata
Riset CELIOS: Lapangan Kerja dari Program MBG Terbatas dan Tak Merata
LSM/Figur
Presiden Prabowo Beri 20.000 Hektar Lahan di Aceh untuk Gajah
Presiden Prabowo Beri 20.000 Hektar Lahan di Aceh untuk Gajah
Pemerintah
IWGFF: Bank Tak Ikut Tren Investasi Hijau, Risiko Reputasi akan Tinggi
IWGFF: Bank Tak Ikut Tren Investasi Hijau, Risiko Reputasi akan Tinggi
LSM/Figur
MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua
MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua
LSM/Figur
Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
LSM/Figur
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
LSM/Figur
Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Pemerintah
PHE Konsisten Lestarikan Elang Jawa di Kamojang Jawa Barat
PHE Konsisten Lestarikan Elang Jawa di Kamojang Jawa Barat
Pemerintah
Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
LSM/Figur
Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Pemerintah
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Pemerintah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
Pemerintah
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
Pemerintah
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
LSM/Figur
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau