Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masa Depan Keberlanjutan Sawit RI di Tengah Regulasi Anti Deforestasi UE dan Tekanan dari AS

Kompas.com, 15 November 2025, 08:43 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

BALI, KOMPAS.com - Regulasi anti deforestasi (EU’s Deforestation Regulations/EUDR) dan ketertelusuran (traceability) menjadi standar baru pasar global. Industri sawit di Indonesia perlu menanggapi EUDR dan ketertelusuran bukan sebagai hambatan.

Sebaliknya, industri sawit di Indonesia justru harus menjadikannya area kompetisi baru dalam membangun kepercayaan dan nilai tambah.

"Saat ini, kita berada di titik balik, di mana ancaman perlu dilihat sebagai peluang. Konsumen ingin tahu dari mana bahan-bahan produk berasal dan mereka adalah raja. Jadi, jika mereka menuntut nol deforestasi, jika mereka menuntut ketertelusuran, kita perlu memberikannya kepada mereka," ujar Adjunct Professor dari John Cabot University, Roma, Pietro Paganini dalam acara 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Prince Outlook (IPOC2025) di Bali, Jumat (14/11/2025).

Baca juga: Fragmentasi Regulasi Hambat Keberlanjutan Industri Sawit RI

Indonesia memperkenalkan fase uji coba selama 2 tahun dan setahun untuk masa transisi bagi petani sawit rakyat maupun UMKM, sebelum EUDR direvisi pada 2028 nanti.

Indonesia juga memperkenalkan pembentukan komunitas praktik dan komite pengarah sebagai kompromi realistis dalam memastikan implementasi yang inklusif.

Menurut Paganini, teknologi perlu dipandang bukan sebagai beban biaya, melainkan investasi strategis dalam daya saing dan kepercayaan terhadap produk sawit dari Indonesia. Di antaranya, pemanfaatan drone dan satelit untuk pemantauan dan kepatuhan, blockchain untuk transparansi dan ketertelusuran, serta kecerdasan buatan (AI) untuk peningkatan efisiensi.

Dalam menjawab kebutuhan mendesak akan minyak sawit, peningkatan produktivitas bisa dilakukan pula melalui peremajaan (replantingi) sawit, inovasi agronomi, hingga digitalisasi lahan merupakan pilar utama keberlanjutan.

“Semakin tinggi hasil panen, semakin rendah tekanan terhadap lahan. Inilah keberlanjutan yang sesungguhnya,” tutur Paganini.

Kata dia, arah pengembangan industri sawit di Indonesia harus bergeser dari berorientasi ekspansi lahan, menuju ke pertumbuhan yang berbasis inovasi. Permasalahan produktivitas dapat diperbaiki dengan berbagai inovasi, termasuk dalam mencegah risiko penyebaran penyakit yang mengancam perkebunan sawit di masa mendatang.

RI bisa Didahului Malaysia

Lead Analyst, Agricultural Research LSEG Singapore, Kian Pang Tan memprediksi produksi minyak sawit di Asia Tenggara melemah pada 2026 akibat kombinasi kendala struktural di kebun, cuaca kering berkepanjangan, serta tekanan perdagangan global.

Penerapan tarif oleh Amerika Serikat (AS) dan ketegangannya dengan Tiongkok mengganggu arus perdagangan internasional, yang pada gilirannya memperlambat perekonomian pengimpor utama minyak sawit dari Asia Tenggara, seperti Tiongkok, India, serta Uni Eropa.

Secara khusus, produksi minyak sawit di Indonesia pada 2026 juga turun disebabkan pohon tua, replanting lambat, penegakan lahan, serta kemarau pertengahan tahun. Sebagai penyumbang 14 persen produksi sawit nasional, Aceh dan Sumatera akan menjadi provinsi paling terdampak musim kemarau pada Mei-Juli.

La Niña juga memperparah gangguan panen karena curah hujan tinggi dan risiko banjir lokal. Selain itu, pasokan ekspor Indonesia diperkirakan turun 1,5–3 juta ton jika program B50 atau bakar bahan hasil dari pencampuran solar dan biodiesel dari minyak sawit sebesar 50 persen, berjalan penuh.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi Malaysia untuk meningkatkan ekspor hingga 1 juta ton. Malaysia mencatat penurunan ekspor 9,5 persen pada Januari–Oktober, yang dipicu harga minyak sawit (RBD) yang lebih tinggi dibanding Indonesia.

Di sisi lain, soft commodity analyst Bloomberg, Alvin T menilai, dinamika perdagangan antara Malaysia dan AS semakin menentukan masa depan ekspor minyak sawit Indonesia. Malaysia telah menandatangani perjanjian dagang dengan AS, mengantongi tarif bea masuk 19 persen, serta tarif nol untuk sejumlah komoditas utama, seperti minyak sawit, kakao, dan karet.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua
MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua
LSM/Figur
Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
LSM/Figur
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
LSM/Figur
Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Pemerintah
PHE Konsisten Lestarikan Elang Jawa di Kamojang Jawa Barat
PHE Konsisten Lestarikan Elang Jawa di Kamojang Jawa Barat
Pemerintah
Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
LSM/Figur
Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Pemerintah
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Pemerintah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
Pemerintah
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
Pemerintah
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
LSM/Figur
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Swasta
KLH Identifikasi Hutan di Aceh Dibuka untuk Sawit dan Tambang Ilegal
KLH Identifikasi Hutan di Aceh Dibuka untuk Sawit dan Tambang Ilegal
Pemerintah
Menjaga Bumi Nusantara Melalui Kearifan Lokal
Menjaga Bumi Nusantara Melalui Kearifan Lokal
Pemerintah
Tingkatkan Produktivitas Lahan, IPB Latih Petani Kuasai Teknik Agroforestri
Tingkatkan Produktivitas Lahan, IPB Latih Petani Kuasai Teknik Agroforestri
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau