Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Muhammad Azzam Fawwaz
Direktur Bidang Informasi Indonesian Coexistence

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Menjaga Lawu di Tengah Ambisi Geothermal

Kompas.com, 17 November 2025, 08:17 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

GUNUNG Lawu kembali menjadi panggung perdebatan besar setelah pemerintah melalui Kementerian ESDM menetapkan rencana eksplorasi panas bumi sebagai bagian dari agenda energi terbarukan nasional.

Dalam dokumen kebijakan transisi energi, panas bumi dianggap sebagai salah satu sumber daya paling stabil dan rendah emisi. Namun di sisi lain, gelombang penolakan dari pegiat lingkungan, masyarakat lokal, hingga komunitas pendaki belum mereda.

Perdebatan ini mempertemukan ambisi negara menuju energi bersih dengan kekhawatiran publik atas kelestarian ekologi dan nilai budaya yang mengakar kuat di kaki dan puncak Lawu.

Potensi Panas Bumi dan Narasi Transisi Energi

Pemerintah menilai kawasan sekitar Lawu memiliki potensi panas bumi yang layak dikembangkan untuk mendukung target bauran energi nasional. Dalam peta eksplorasi yang dirilis ESDM, area survei pendahuluan ditempatkan di wilayah Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar bukan di puncak maupun zona konservasi utama Gunung Lawu.

Potensi panas bumi di kawasan ini telah beberapa kali disebut dalam kajian geologi nasional yang menyoroti keberadaan manifestasi panas seperti sumber air panas dan zona rekahan panas bumi.

Argumentasi pemerintah sederhana: Indonesia membutuhkan percepatan energi terbarukan untuk memenuhi target penurunan emisi 2030 dan mencapai net zero pada 2060. Panas bumi, yang bersifat base load, dianggap mampu menjaga kestabilan listrik nasional di tengah penetrasi energi surya dan angin yang sifatnya intermiten.

Namun narasi besar ini tidak serta-merta menenangkan kekhawatiran publik. Banyak pihak mencatat bahwa proyek panas bumi di kawasan pegunungan kerap membawa risiko eksternalitas, terutama terhadap hidrologi, stabilitas tanah, dan keberlanjutan masyarakat adat atau komunitas lokal.

Baca juga: Rencana Bahlil Lelang Proyek Geothermal di Gunung Lawu Tuai Penolakan

Menjaga kelestarian Lawu

Sejumlah kelompok seperti Jagalawu, Tim Jaga Lawu, komunitas pendaki, serta jejaring masyarakat adat dan pelestari budaya menyatakan keberatan terhadap rencana geothermal ini. Mereka menilai bahwa walaupun titik survei tidak berada di puncak Lawu, ekosistem gunung bersifat menyatu dan saling terkait.

Kekhawatiran utama berkisar pada tiga hal. Pertama, risiko terhadap sumber air. Warga di lereng Lawu, khususnya petani, menggantungkan hidup pada mata air pegunungan yang pasokannya sangat sensitif terhadap gangguan geologis. Aktivitas pengeboran panas bumi berpotensi mengubah tekanan bawah tanah dan memengaruhi debit mata air.

Kedua, kekhawatiran terhadap kerusakan hutan. Lawu merupakan rumah bagi berbagai spesies endemik serta menjadi benteng ekologi di Jawa. Pembukaan akses jalan, mobilisasi alat berat, hingga kegiatan pengeboran dikhawatirkan membuka ruang fragmentasi habitat.

Ketiga, kekhawatiran budaya dan spiritual. Lawu sejak lama dikenal sebagai salah satu gunung paling sakral di Jawa. Tradisi ritual, napak tilas sejarah, hingga situs-situs budaya menjadi bagian dari identitas masyarakat. Dalam sejumlah pernyataan publik, tokoh budaya menilai bahwa eksplorasi geothermal dapat mengganggu tatanan spiritual yang telah dijaga turun-temurun.

Baca juga: Kontroversi Geothermal Gunung Lawu, ESDM Pastikan Tak Ada Eksplorasi Maupun Lelang di Kawasan Sakral

Kawah Gunung Lawu, Sabtu (18/5/2024).KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Kawah Gunung Lawu, Sabtu (18/5/2024).

Antara Risiko dan Kehati-Hatian

Para ahli lingkungan dan geologi menilai bahwa pengembangan geothermal bukan tanpa risiko. Profesor geologi lingkungan dari ITB, misalnya, sering menyebut bahwa panas bumi membutuhkan pemetaan hidrologi yang sangat detail sebelum pengeboran dilakukan. Kesalahan dalam analisis dapat menyebabkan migrasi fluida panas yang mengurangi pasokan air dingin di permukaan.

Sementara ahli kebijakan energi menegaskan bahwa yang terpenting bukan penolakannya, melainkan prosedur ilmiah dan konsultasi publik yang ketat. Pengembangan geothermal di kawasan sensitif harus memastikan terpenuhinya prinsip precautionary mendahulukan kehati-hatian sebelum terjadi kerusakan.

Dalam sejumlah kasus panas bumi lain di Indonesia, seperti di Dieng atau Kamojang, disebutkan bahwa mitigasi modern dapat menekan risiko. Namun hal itu tetap mensyaratkan transparansi data, pengawasan independen, serta keterlibatan masyarakat di setiap tahap.

Baca juga: Ritual 1 Suro di Gunung Lawu: Ratusan Pendaki Lansia Naik Tanpa Alas Kaki, Bawa Dupa dan Bunga

Survei Ditunda, Dialog Diperluas

Hingga perkembangan terakhir, pemerintah menyatakan bahwa kegiatan survei pendahuluan (PSPE) di Jenawi belum akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Penundaan ini dilakukan karena proses sosialisasi dan dialog dengan masyarakat belum dianggap tuntas. ESDM menyatakan bahwa proyek geothermal di area sekitar Lawu tidak akan dijalankan tanpa pemahaman dan dukungan masyarakat.

Di sisi lain, kelompok penolak terus memperkuat gerakan advokasi. Mereka mendesak agar peta wilayah kerja panas bumi dibuka seluruhnya, menuntut kajian AMDAL independen, serta meminta pemerintah mempertimbangkan opsi energi terbarukan lain yang tidak memiliki risiko geologis sebesar geothermal.

Menimbang Arah Kebijakan Energi dan Masa Depan Lawu

Dari perspektif kebijakan publik, polemik Lawu memperlihatkan realitas transisi energi: energi terbarukan tidak otomatis ramah lingkungan jika dilaksanakan tanpa pendekatan berbasis ekosistem dan keadilan sosial. Penyediaan energi rendah emisi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan komunitas lokal, sumber air, ataupun warisan budaya.

Gunung Lawu bukan sekadar lanskap alam; ia adalah ruang hidup, ruang spiritual, dan ruang ekologis. Transisi energi membutuhkan dukungan publik, dan dukungan hanya bisa tumbuh jika negara membangun kepercayaan melalui transparansi, dialog setara, dan kajian ilmiah yang bisa diuji.

Jika Lawu benar-benar akan dimanfaatkan sebagai proyek geothermal, maka prosesnya harus dijalankan dengan standar tertinggi: pemetaan risiko menyeluruh, keterlibatan masyarakat yang bermakna, dan jaminan perlindungan kawasan konservasi. Jika tidak, energi bersih justru berpotensi menghasilkan luka ekologis dan sosial yang panjang. Pada akhirnya, masa depan Lawu adalah ujian komitmen Indonesia dalam membangun energi hijau yang bukan hanya rendah karbon, tetapi juga adil dan berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mengapa Anggaran Perlindungan Anak Harus Ditambah? Ini Penjelasannya
Mengapa Anggaran Perlindungan Anak Harus Ditambah? Ini Penjelasannya
LSM/Figur
Banjir di Sumatera, Kemenhut Beberkan Masifnya Alih Fungsi Lahan
Banjir di Sumatera, Kemenhut Beberkan Masifnya Alih Fungsi Lahan
Pemerintah
Limbah Plastik Diprediksi Capai 280 Juta Metrik Ton Tahun 2040, Apa Dampaknya?
Limbah Plastik Diprediksi Capai 280 Juta Metrik Ton Tahun 2040, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
Koperasi Bisa Jadi Kunci Transisi Energi di Masyarakat
Koperasi Bisa Jadi Kunci Transisi Energi di Masyarakat
LSM/Figur
2025 Termasuk Tahun Paling Panas Sepanjang Sejarah, Mengapa?
2025 Termasuk Tahun Paling Panas Sepanjang Sejarah, Mengapa?
LSM/Figur
Jelajah Mangrove di Pulau Serangan Bali, Terancam Sampah dan Sedimentasi
Jelajah Mangrove di Pulau Serangan Bali, Terancam Sampah dan Sedimentasi
LSM/Figur
Guru Besar IPB Sebut Tak Tepat Kebun Sawit Penyebab Banjir Sumatera
Guru Besar IPB Sebut Tak Tepat Kebun Sawit Penyebab Banjir Sumatera
LSM/Figur
Perkuat Profesionalisme, AIIR Jadi Organisasi Profesi Investor Relations Pertama di Indonesia
Perkuat Profesionalisme, AIIR Jadi Organisasi Profesi Investor Relations Pertama di Indonesia
LSM/Figur
13 Perusahaan Dinilai Picu Banjir Sumatera, Walhi Desak Kemenhut Cabut Izinnya
13 Perusahaan Dinilai Picu Banjir Sumatera, Walhi Desak Kemenhut Cabut Izinnya
LSM/Figur
Agroforestri Karet di Kalimantan Barat Kian Tergerus karena Konversi Sawit
Agroforestri Karet di Kalimantan Barat Kian Tergerus karena Konversi Sawit
LSM/Figur
Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir
Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir
Pemerintah
Di Balik Kayu Gelondongan yang Terdampar
Di Balik Kayu Gelondongan yang Terdampar
LSM/Figur
Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja Meningkat
Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja Meningkat
Swasta
Menunda Net Zero Picu Gelombang Panas Ekstrem, Wilayah Dekat Khatulistiwa Paling Terdampak
Menunda Net Zero Picu Gelombang Panas Ekstrem, Wilayah Dekat Khatulistiwa Paling Terdampak
LSM/Figur
Guru Besar IPB Sebut Kebun Sawit di Sumatera Bisa Jadi Hutan Kembali
Guru Besar IPB Sebut Kebun Sawit di Sumatera Bisa Jadi Hutan Kembali
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau