Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Saat Kebun Harus Beradaptasi

Kompas.com, 17 November 2025, 17:14 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

EKONOMI Indonesia sejak lama bertumpu pada empat komoditas perkebunan besar, yaitu kelapa sawit, kelapa, kopi, dan kakao, yang menjadi penyumbang devisa sekaligus nadi kehidupan jutaan petani. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fondasi penting ini kian rentan menghadapi gempuran perubahan iklim.

Hujan deras yang datang tiba-tiba, kekeringan panjang, dan pergeseran pola musim membuat ritme budidaya tidak lagi dapat ditebak. Kekeringan ekstrem bahkan diproyeksikan mampu memangkas produksi hingga 30 persen.

Ketika suhu rata-rata naik 2°C di kebun sawit, curah hujan tinggi memicu pembusukan tandan dan meledaknya penyakit jamur. Sementara tanaman kelapa makin mudah diserang hama dan tanaman kopi serta kakao membutuhkan naungan stabil agar terlindungi dari radiasi matahari dan hujan ekstrem.

Dampak ini berakibat panen yang tak menentu, biaya produksi naik, dan pendapatan petani tergerus. Dalam kondisi seperti itu, transformasi menuju sistem pertanian yang baik bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak. Sistem yang benar perlu diterapkan untuk menjaga kesehatan tanah, menekan emisi, sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman menghadapi cuaca ekstrem. Pemerintah perlu memperluas program adaptasi iklim berbasis organik melalui anggaran, regulasi, dan pendampingan yang lebih kuat.

Ketika banyak negara masih terjebak dalam dilema antara mengejar pertumbuhan ekonomi atau menjaga lingkungan, Indonesia justru memiliki peluang untuk tampil sebagai contoh bahwa keduanya dapat berjalan seiring, melalui pertanian tropis yang produktif, tahan iklim, dan benar-benar berkelanjutan.

Baca juga: Pasar Organik dan Produk Perkebunan

Pertanian Organik Rendah Karbon

Di tengah tekanan perubahan iklim yang semakin nyata, pertanian organik rendah karbon muncul sebagai tawaran solusi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Berbeda dengan praktik konvensional yang bergantung pada input kimia, pendekatan organik menempatkan kesehatan agroekosistem sebagai pusat pengelolaan.

Proses-proses alami, mulai dari pengayaan bahan organik hingga peningkatan aktivitas mikroba tanah berperan dalam memperbaiki struktur tanah, menambah kesuburan, sekaligus memperbesar cadangan karbon. Dengan mengganti pupuk sintetis dan mengolah limbah biomassa menjadi kompos atau biochar, emisi gas rumah kaca dapat ditekan secara signifikan.

Sejak 2016, Kementerian Pertanian bahkan menginisiasi program “Desa Organik” berbasis komoditas perkebunan sebagai fondasi hukum, teknis, dan kelembagaan untuk memperkuat arah budidaya berkelanjutan. Semua ini menunjukkan bahwa pertanian organik bukan hanya pilihan etis, melainkan strategi adaptasi iklim yang nyata.

Di tingkat lapangan, berbagai inovasi teknis terus berkembang dan memberikan hasil yang menjanjikan. Salah satunya adalah pendekatan agroforestry, sistem tanam yang mengombinasikan pohon naungan dengan komoditas perkebunan. Cara ini terbukti meningkatkan cadangan karbon tanah, melindungi tanaman dari panas ekstrem, dan mengurangi risiko erosi.

Pada perkebunan kopi, misalnya, penanaman sengon atau gamal di antara barisan, terbukti menambah biomassa dan memperbaiki mikroklimat kebun. Dikombinasikan dengan varietas tahan kekeringan, produktivitas kebun tetap stabil meski curah hujan menurun. Selain itu, limbah kulit kopi yang dulunya dianggap beban kini diolah menjadi kompos atau biochar, sehingga memperkuat model kopi organik yang rendah emisi dan tahan terhadap variabilitas iklim.

Prinsip yang sama juga terlihat pada ekosistem kelapa. Sistem agroforestri kelapa memadukan tanaman sela seperti kakao, pisang, atau rempah-rempah dengan pemupukan berbasis pupuk kandang dan kompos. Vegetasi multistrata yang terbentuk menciptakan mikroekosistem yang lebih lembap, menekan erosi, dan meningkatkan biomassa karbon secara alami. Dengan pendekatan ini, kebun kelapa tidak hanya lebih subur, tetapi juga lebih tangguh menghadapi kekeringan panjang maupun hujan lebat yang kian sering terjadi.

Sementara itu, pada ekosistem kopi, penelitian di NTT menunjukkan bahwa sistem agroforestri organik dapat mengurangi potensi pemanasan global hingga 24,77 persen dibandingkan metode konvensional. Pohon pelindung seperti lamtoro, falcata, dan dadap menjaga kelembapan tanah serta mengurangi evaporasi, sementara penggunaan pupuk sintetis dihilangkan sepenuhnya.

Tak hanya meningkatkan ketahanan tanaman, sistem ini juga memberi pendapatan tambahan dari hasil samping pohon naungan. Pada komoditas kakao, inovasi tak kalah menarik. Limbah kulit buah kakao yang dulu dibiarkan membusuk kini dikumpulkan dan diolah menjadi biochar atau biogas.

Biochar memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation, dan menyimpan karbon dalam jangka panjang. Sementara itu, biogas memberikan alternatif energi bersih bagi rumah tangga petani sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Pendekatan ini bukan hanya mengurangi sampah perkebunan, tetapi juga menciptakan nilai tambah baru, menjadikan kebun kakao sebagai pusat bioindustri pedesaan.

Bagi petani kecil di dataran rendah yang rentan terhadap degradasi tanah, teknologi ini memberikan peluang ekonomi sekaligus perlindungan ekologi.

Baca juga: Agroforestri Efektif Jaga Biodiversitas Hutan Tropis, Gambut, Pesisir

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau