Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Energia Prima Nusantara Catat Kapasitas Listrik dari Pembangkit EBT Capai 162 MW

Kompas.com, 25 November 2025, 11:44 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - PT Energia Prima Nusantara (EPN) mencatat kapasitas listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) hingga saat ini telah mencapai 162 MW.

Direktur EPN Boy Gemino Kalauserang mengatakan, kapasitas itu dihasilkan dari berbagai pembangkit listrik di berbagai wilayah di Indonesia.

"Jumlah itu di luar pembangkit yang kami baru dapat PPA (purchase power agreement/perjanjian jual-beli listrik) yang bisa menambah 20 MW. Itu kami sedang mengejar untuk financial closing," jelas dia pekan lalu.

Boy mengungkapkan pihaknya akan terus mencari berbagai peluang untuk meningkatkan kapasitas listrik energi baru terbarukan, dengan melihat berbagai tender yang dibuka oleh PLN selaku pembeli listrik.

Baca juga: United Tractors Perkuat Perkuat Komitmen Transisi Energidengan Optimalkan PLTM Besai Kemu

Salah satu pembangkit yang berada di bawah naungan EPN adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air tipe Aliran Sungai Langsung (run-of-river) Besai Kemu yang dijalankan oleh anak usaha EPN, PT Uway Energi Perdana (UEP).

Fasilitas ini berkapasitas 2 × 3,5 MW dan secara konsisten mampu menghasilkan pasokan listrik sebesar 33,4 GWh per tahun yang disalurkan kepada PT PLN (Persero).

Dengan kapasitas tersebut, PLTM Besai Kemu mampu menyediakan listrik setara kebutuhan sekitar 16.000 hingga 22.000 rumah tangga per tahun.

EPN adalah perusahaan energi terbarukan yang berfokus pada pengembangan dan implementasi teknologi energi hijau, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap, Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

EPN memanfaatkan energi berkelanjutan yang mendukung pengurangan emisi karbon di Indonesia.

Sejak 2018 hingga Juni 2024, EPN telah memasang PLTS atap dengan total kapasitas 17,3 MWp, dengan tambahan sekitar 3,7 MWp yang sedang dalam proses instalasi dan 12,55 MWp dalam proses perizinan di PLN.

Untuk proyek PLTS atap di Astra Daihatsu Motor (ADM) dan beberapa lokasi Anak Usaha Astra, EPN bekerja sama dengan PLN Icon Plus, subholding PLN yang berfokus pada pengembangan PLTS atap.

Selain PLTS atap, EPN juga mengembangkan sistem offgrid microgrid hybrid yang menggabungkan Solar PV dengan Battery Energy Storage System (BESS) dan genset diesel untuk mengurangi pemakaian bahan bakar diesel dan emisi CO2.

Proyek hybrid yang sedang berlangsung antara lain di tiga lokasi Pama Grup, yakni PAMA BAYA (336 kWp dan 60 kWh BESS), PAMA MTBU (615 kWp dan 200 kWh BESS), serta KPP INDEXIM (369 kWp dan 200 kWh BESS) dengan total kapasitas sekitar 1,3 MWp dan 460 kWh BESS, serta rencana pemasangan lanjutan di PAMA Teluk Timbau dan PAMA BRCB.

Baca juga: Transisi Energi di Daerah 3T harus Disesuaikan dengan Potensi Sumber Energi Baru

Portofolio pembangkit Independent Power Producer (IPP) berbasis energi terbarukan yang
dikembangkan grup EPN mencakup beberapa PLTM dengan total kapasitas 24,4 MW yang telah
beroperasi dan 25,4 MW dalam tahap konstruksi, serta PLTP Rantau Dedap dengan kapasitas 91,2 MW.

Selain itu, EPN juga tengah melakukan negosiasi Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PPA) untuk proyek PLTSa Legok Nangka berkapasitas 40 MW.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau