Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

SCG Pangkas Emisi lewat Semen Rendah Karbon dan Efisiensi Energi

Kompas.com, 2 Desember 2025, 16:35 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Siam Cement Group (SCG) disebut memangkas emisi gas rumah kaca dengan memproduksi semen rendah karbon. Sejauh ini, SCG baru memproduksi semen rendah karbon di Thailand dan berencana mengembangkannya ke negara lain termasuk Indonesia.

President & CEO SCG, Thammasak Sethaudom, mengatakan bahwa, selain semen, perusahaan tersebut juga menggenjot efisinsi energi melalui pengembangan heat battery.

Baca juga: 

"Kami akan mengembangkan pembangunan heat battery di fasilitas Indonesia. Kami masih melihat potensi yang sangat baik di Indonesia dalam jangka panjang," kata Thammasak di sela ESG Symposium 2025 yang digelar SCG di Jakarta Selatan, Selasa (2/12/2025).

SCG produksi semen rendah karbon dan heat battery

SCG membuka peluang kerja sama dengan perusahaan di Indonesia terkait pembangunan heat battery

Baterai bekerja dengan mengubah energi angin dan matahari yang secara alami terputus-putus menjadi panas yang tersimpan dalam media termal. Energi panas nantinya dapat digunakan dan disalurkan secara terus-menerus selama 24 jam.

"Saya pikir transisi hijau sangat penting bagi setiap negara di Asia Tenggara, dan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjalankan transisi industri yang sangat berkembang," papar Thammasak.

Perusahaannya pun berkomitmen menjalankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dan mendukung target Net Zero Emission 2060 melalui teknologi, model bisnis, serta investasi industri hijau di Indonesia.

Baca juga: 

Masyarakat berperan besar dalam transisi energi

SCG disebut memangkas emisi dengan memproduksi semen rendah karbon, pembangunan RDF, serta mengembangkan heat battery. PIXABAY/LEEROY AGENCY SCG disebut memangkas emisi dengan memproduksi semen rendah karbon, pembangunan RDF, serta mengembangkan heat battery.

Di sisi lain, Thammasak menekankan bahwa masyarakat berperan besar dalam transisi energi.

"Saya pikir masyarakat sangat penting untuk menciptakan dampak yang berdampak jangka panjang. Jadi bukan hanya teknologi, regulasi, tetapi juga masyarakat yang perlu memahami dan mendukung transisi ini," tutur dia.

Dalam pengelolaan sampah, SCG membangun fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) di TPA Cimenteng, Sukabumi.

Fasilitas senilai lebih dari Rp 110 miliar itu mampu mengolah 200 ton sampah per hari menjadi bahan bakar alternatif untuk pabrik Semen Jawa.

"Ini membuktikan bahwa keberlanjutan sudah terjadi di sini karena kita melakukannya bersama. Dipandu oleh prinsip pertumbuhan hijau yang inklusif, SCG tetap berkomitmen untuk bekerja bersama pemerintah, mitra bisnis, dan komunitas untuk mendukung transisi berkelanjutan Indonesia," sebut Thammasak.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau