KOMPAS.com - Sebuah studi menemukan, perluasan wilayah kota berdampak terhadap bagaimana masyarakat mengakses air dan sanitasi. Studi ini melakukan analisis lebih dari 100 kota di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Analisis tersebut, yang dilakukan oleh para peneliti di Complexity Science Hub (CSH) dan Bank Dunia, memeriksa data infrastruktur dan indikator ekonomi, termasuk informasi tentang jejak 183 juta bangunan dan 125.000 survei rumah tangga guna memahami hubungan antara bentuk perkotaan serta akses ke air bersih dan sanitasi.
Baca juga:
Potret ramainya lalu lintas di ibu kota India, New Delhi, pada 15 Oktober 2015. Sebuah studi menunjukkan, perluasan kota secara horizontal bisa membuat jutaan orang kehilangan akses air pipa dan sanitasi pada 2050.Studi yang dipublikasikan di Nature Cities ini memodelkan tiga skenario untuk perluasan perkotaan yaitu compact atau membangun lebih padat dan mengisi ruang kosong, serta persistent atau melanjutkan pola perluasan saat ini.
Selanjutnya ada skenario horizontal atau menyebar secara luas alih-alih tumbuh ke atas, atau membangun di lahan kosong yang sudah ada di pusat kota.
"Kami menganggap satu-satunya hal yang berubah adalah lokasi di mana pembangunan baru terjadi di dalam kota," kata penulis utama dari CSH, Rafael Prieto-Curiel, dilansir dari Phys.org, Selasa (2/12/2025).
Ketiganya menunjukkan, bila kota-kota berkembang secara horizontal dibanding membangun dengan kepadatan lebih tinggi, akses terhadap air bersih dan sanitasi dasar dapat terdampak signifikan.
Baca juga: Mikroplastik di Air Hujan hingga Pakaian, Produsen Didesak Ikut Tanggung Jawab
Ilustrasi Kairo di Mesir. Sebuah studi menunjukkan, perluasan kota secara horizontal bisa membuat jutaan orang kehilangan akses air pipa dan sanitasi pada 2050."Dengan pertumbuhan horizontal, 220 juta orang lebih sedikit akan memiliki akses ke air pipa dan 190 juta orang lebih sedikit akan memiliki akses ke sistem pembuangan limbah pada tahun 2050," jelas Prieto-Curiel.
Temuan studi tersebut tidak hanya teoritis, tetapi mengonfirmasi kesulitan nyata yang dialami penduduk di kota-kota yang tumbuh menyebar, seperti New Delhi di India, Kairo di Mesir, Lagos di Nigeria, atau Bogota di Kolombia.
Tagihan air di kota-kota yang luas dan tersebar lebih tinggi 75 persen dibandingkan dengan kota-kota yang padat.
Sementara itu, akses ke air pipa berkurang 50 persen di wilayah perkotaan yang lebih tersebar.
"Penduduk di pinggiran kota juga memiliki akses 40 persen lebih sedikit ke infrastruktur penting dibandingkan dengan mereka yang tinggal lebih dekat ke pusat kota," tambah peneliti studi tersebut.
Baca juga: Akhiri Krisis Air, Vinilon Group dan Solar Chapter Alirkan Air Bersih ke Desa Fafinesu NTT
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya