Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perluasan Kota Ancam Akses Air Bersih pada 2050, Ini Studinya

Kompas.com, 2 Desember 2025, 18:46 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sebuah studi menemukan, perluasan wilayah kota berdampak terhadap bagaimana masyarakat mengakses air dan sanitasi. Studi ini melakukan analisis lebih dari 100 kota di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. 

Analisis tersebut, yang dilakukan oleh para peneliti di Complexity Science Hub (CSH) dan Bank Dunia, memeriksa data infrastruktur dan indikator ekonomi, termasuk informasi tentang jejak 183 juta bangunan dan 125.000 survei rumah tangga guna memahami hubungan antara bentuk perkotaan serta akses ke air bersih dan sanitasi.

Baca juga: 

Studi dampak perluasan kota terhadap akses air bersih

Menggunakan tiga skenario perluasan perkotaan

Potret ramainya lalu lintas di ibu kota India, New Delhi, pada 15 Oktober 2015. Sebuah studi menunjukkan, perluasan kota secara horizontal bisa membuat jutaan orang kehilangan akses air pipa dan sanitasi pada 2050.AFP PHOTO/ROBERTO SCHMIDT Potret ramainya lalu lintas di ibu kota India, New Delhi, pada 15 Oktober 2015. Sebuah studi menunjukkan, perluasan kota secara horizontal bisa membuat jutaan orang kehilangan akses air pipa dan sanitasi pada 2050.

Studi yang dipublikasikan di Nature Cities ini memodelkan tiga skenario untuk perluasan perkotaan yaitu compact atau membangun lebih padat dan mengisi ruang kosong, serta persistent atau melanjutkan pola perluasan saat ini.

Selanjutnya ada skenario horizontal atau menyebar secara luas alih-alih tumbuh ke atas, atau membangun di lahan kosong yang sudah ada di pusat kota.

"Kami menganggap satu-satunya hal yang berubah adalah lokasi di mana pembangunan baru terjadi di dalam kota," kata penulis utama dari CSH, Rafael Prieto-Curiel, dilansir dari Phys.org, Selasa (2/12/2025).

Ketiganya menunjukkan, bila kota-kota berkembang secara horizontal dibanding membangun dengan kepadatan lebih tinggi, akses terhadap air bersih dan sanitasi dasar dapat terdampak signifikan. 

Baca juga: Mikroplastik di Air Hujan hingga Pakaian, Produsen Didesak Ikut Tanggung Jawab

Ilustrasi Kairo di Mesir. Sebuah studi menunjukkan, perluasan kota secara horizontal bisa membuat jutaan orang kehilangan akses air pipa dan sanitasi pada 2050.Dok. Unsplash/Omar Elsharawy Ilustrasi Kairo di Mesir. Sebuah studi menunjukkan, perluasan kota secara horizontal bisa membuat jutaan orang kehilangan akses air pipa dan sanitasi pada 2050.

"Dengan pertumbuhan horizontal, 220 juta orang lebih sedikit akan memiliki akses ke air pipa dan 190 juta orang lebih sedikit akan memiliki akses ke sistem pembuangan limbah pada tahun 2050," jelas Prieto-Curiel.

Temuan studi tersebut tidak hanya teoritis, tetapi mengonfirmasi kesulitan nyata yang dialami penduduk di kota-kota yang tumbuh menyebar, seperti New Delhi di India, Kairo di Mesir, Lagos di Nigeria, atau Bogota di Kolombia.

Tagihan air di kota-kota yang luas dan tersebar lebih tinggi 75 persen dibandingkan dengan kota-kota yang padat. 

Sementara itu, akses ke air pipa berkurang 50 persen di wilayah perkotaan yang lebih tersebar.

"Penduduk di pinggiran kota juga memiliki akses 40 persen lebih sedikit ke infrastruktur penting dibandingkan dengan mereka yang tinggal lebih dekat ke pusat kota," tambah peneliti studi tersebut.

Baca juga: Akhiri Krisis Air, Vinilon Group dan Solar Chapter Alirkan Air Bersih ke Desa Fafinesu NTT

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau