Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AI Jadi Ancaman Jutaan Pekerjaan di Asia, Ini Peringatan PBB

Kompas.com, 3 Desember 2025, 20:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ledakan kecerdasan buatan (AI atau artificial intelligence) global diprediksi akan merugikan Asia. Sebab, banyak negara di wilayah ini belum dilengkapi infrastruktur digital yang memadai untuk bersaing dalam otomatisasi berbasis AI.

Akibatnya, jutaan lapangan pekerjaan berisiko tergantikan oleh teknologi yang berkembang pesat di negara-negara kaya, menurut para ekonom Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Baca juga: 

"Negara-negara yang berinvestasi dalam keterampilan, daya komputasi, dan sistem tata kelola yang baik akan diuntungkan, sedangkan yang lain berisiko tertinggal jauh," ujar Kepala Ekonom Program Pembangunan PBB untuk kawasan Asia dan Pasifik, Philip Schellekens, dikutip dari laman resmi United Nations, Selasa (2/11/2025).

Meski China, Singapura, dan Korea Selatan telah berinvestasi besar-besaran dan mendapatkan manfaat besar dari AI, para pekerja tingkat pemula di banyak negara terdampak signifikan terhadap perubahan yang sudah terjadi, termasuk otomatisasi.

PBB dalam sebuah laporan baru juga menyoroti bahwa perempuan dan orang dewasa muda menghadapi ancaman terbesar dari AI di tempat kerja.

Jika tren otomatisasi ini tidak dikelola, kemajuan yang dicapai Asia di bidang kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan ekonomi dapat terhenti atau mundur karena hilangnya pekerjaan.

"Infrastruktur, keterampilan, daya komputasi, dan kapasitas tata kelola yang terbatas membatasi potensi manfaat AI sekaligus memperbesar risiko, termasuk hilangnya pekerjaan, eksklusi data, dan dampak tidak langsung seperti meningkatnya permintaan energi dan air global dari sistem yang intensif AI," tulis UNDP, salah satu badan PBB, dalam laporannya.

Baca juga: 

AI mengancam lapangan pekerjaan di Asia Pasifik

Banyak negara belum menempatkan AI sebagai prioritas

PBB memperingatkan jutaan pekerjaan di Asia berisiko hilang akibat ledakan AI. Infrastruktur digital lemah membuat banyak negara tertinggal.Freepik/rawpixel PBB memperingatkan jutaan pekerjaan di Asia berisiko hilang akibat ledakan AI. Infrastruktur digital lemah membuat banyak negara tertinggal.

Tak hanya itu, kesenjangan penggunaan AI terjadi karena beberapa negara di Asia Pasifik belum menempatkan AI sebagai prioritas mereka.

Beberapa negara, seperti Kamboja, Papua Nugini, dan Vietnam, belum menjadikan pengembangan AI sebagai prioritas.

Prioritas negara-negara tersebut dinilai memanfaatkan perangkat berbasis suara yang sudah ada dan relatif sederhana, serta dapat digunakan tenaga kesehatan garda depan dan petani, bahkan ketika internet sedang terputus.

Untuk mencegah krisis pekerjaan yang mengancam, UNDP mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan etika AI sebelum menerapkannya lebih lanjut dan untuk memastikan hal ini dilakukan dengan cara yang inklusif semaksimal mungkin.

“AI sedang melaju pesat, dan banyak negara masih berada di garis start (awal),” kata Asisten Sekretaris Jenderal PBB dan Direktur Regional UNDP untuk Asia dan Pasifik, Kanni Wignaraja.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau