Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bulu Babi di Spanyol Terancam Punah akibat Penyakit Misterius

Kompas.com, 12 Desember 2025, 18:35 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Populasi bulu babi atau landak laut (Diadema africanum) di Kepulauan Canary, Spanyol, terancam punah. Sebuah studi terbaru menunjukkan, wabah misterius telah memicu kematian massal bulu babi sejak tahun 2021. 

"Bulu babi Diadema africanum, herbivora utama yang membentuk ekosistem bentik dangkal di Kepulauan Canary, telah mengalami peristiwa kematian massal berulang (MMEs) dalam beberapa tahun terakhir," tulis studi tersebut, dilansir dari Frontiers, Jumat (12/12/2025).

Baca juga:

Studi dari peneliti Universitas La Laguna, Iván Cano, ini menyatakan, wabah yang melanda spesies Diadema africanum di wilayah tersebut telah menghapus hampir seluruh populasi.

"Sejak 2021, apa yang kami lihat benar-benar mengkhawatirkan. Kita sedang berbicara tentang hilangnya beberapa spesies dalam waktu yang sangat singkat," ucap Cano, dilansir dari The Guardian

Data menunjukkan gambaran yang lebih suram. Populasi bulu babi di Tenerife, pulau terbesar di Kepulauan Canary, anjlok 99,7 persen, sedangkan di wilayah Madeira populasinya turun 90 persen.

Kematian massal ini tidak hanya terjadi di Atlantik. Dalam periode yang sama, kematian serupa terdeteksi pada spesies bulu babi di Laut Merah, Mediterania, Karibia, dan Samudra Hindia bagian barat.

Bulu babi, "insinyur ekosistem" yang terancam punah

Populasi bulu babi di Kepulauan Canary, Spanyol, turun drastis akibat penyakit misterius dan terancam punah. Simak selengkapnya.Dok. Wikimedia Commons/Julien Renoult Populasi bulu babi di Kepulauan Canary, Spanyol, turun drastis akibat penyakit misterius dan terancam punah. Simak selengkapnya.

Bulu babi bukan sekadar makhluk laut berduri. Mereka memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan ekosistem.

Mereka bernapas melalui kaki tabung kecil, dan duri-duri mereka menjadi pelindung alami dari predator sekaligus tempat berlindung bagi organisme laut kecil.

Bulu babi dikenal sebagai ecosystem engineers (insinyur ekosistem) karena bisa mengubah dan mengatur lingkungannya. Caranya sederhana, tapi sangat penting. Bulu babi memakan alga yang menutupi permukaan terumbu karang.

Ketika alga terkendali, karang keras dapat tumbuh dengan stabil. Karang ini adalah rumah bagi ribuan spesies laut.

Di beberapa wilayah Karibia, hilangnya bulu babi menyebabkan penurunan tutupan karang hingga setengahnya, sedangkan tutupan alga meningkat 85 persen.

Hal ini bukan sekadar perubahan visual, tapi perubahan ekologi besar yang merusak keseimbangan hidup laut.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau