Penulis
KOMPAS.com - Populasi bulu babi atau landak laut (Diadema africanum) di Kepulauan Canary, Spanyol, terancam punah. Sebuah studi terbaru menunjukkan, wabah misterius telah memicu kematian massal bulu babi sejak tahun 2021.
"Bulu babi Diadema africanum, herbivora utama yang membentuk ekosistem bentik dangkal di Kepulauan Canary, telah mengalami peristiwa kematian massal berulang (MMEs) dalam beberapa tahun terakhir," tulis studi tersebut, dilansir dari Frontiers, Jumat (12/12/2025).
Baca juga:
Studi dari peneliti Universitas La Laguna, Iván Cano, ini menyatakan, wabah yang melanda spesies Diadema africanum di wilayah tersebut telah menghapus hampir seluruh populasi.
"Sejak 2021, apa yang kami lihat benar-benar mengkhawatirkan. Kita sedang berbicara tentang hilangnya beberapa spesies dalam waktu yang sangat singkat," ucap Cano, dilansir dari The Guardian.
Data menunjukkan gambaran yang lebih suram. Populasi bulu babi di Tenerife, pulau terbesar di Kepulauan Canary, anjlok 99,7 persen, sedangkan di wilayah Madeira populasinya turun 90 persen.
Kematian massal ini tidak hanya terjadi di Atlantik. Dalam periode yang sama, kematian serupa terdeteksi pada spesies bulu babi di Laut Merah, Mediterania, Karibia, dan Samudra Hindia bagian barat.
Populasi bulu babi di Kepulauan Canary, Spanyol, turun drastis akibat penyakit misterius dan terancam punah. Simak selengkapnya.Bulu babi bukan sekadar makhluk laut berduri. Mereka memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan ekosistem.
Mereka bernapas melalui kaki tabung kecil, dan duri-duri mereka menjadi pelindung alami dari predator sekaligus tempat berlindung bagi organisme laut kecil.
Bulu babi dikenal sebagai ecosystem engineers (insinyur ekosistem) karena bisa mengubah dan mengatur lingkungannya. Caranya sederhana, tapi sangat penting. Bulu babi memakan alga yang menutupi permukaan terumbu karang.
Ketika alga terkendali, karang keras dapat tumbuh dengan stabil. Karang ini adalah rumah bagi ribuan spesies laut.
Di beberapa wilayah Karibia, hilangnya bulu babi menyebabkan penurunan tutupan karang hingga setengahnya, sedangkan tutupan alga meningkat 85 persen.
Hal ini bukan sekadar perubahan visual, tapi perubahan ekologi besar yang merusak keseimbangan hidup laut.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya