Penulis
KOMPAS.com - Pemerintah Spanyol akan membangun jaringan penampungan iklim nasional (national network of climate shelters) untuk yang terdampak gelombang panas ekstrem.
Menurut Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, langkah ini diambil karena gelombang panas di negara tersebut tidak lagi bersifat sementara dan terpisah. Panas ekstrem saat ini berlangsung panjang dari Juni hingga Agustus, kondisi yang ia sebut sebagai "kenormalan baru".
Baca juga: Menunda Net Zero Picu Gelombang Panas Ekstrem, Wilayah Dekat Khatulistiwa Paling Terdampak
"Sebelum musim panas mendatang, kami akan mendirikan jaringan pusat perlindungan iklim di seluruh negeri, menggunakan gedung-gedung pemerintah, terutama dari pemerintahan pusat, dan membuatnya terbuka untuk semua orang," kata Sanchez, dilansir dari AFP, Jumat (19/12/2025).
Hadapi musim panas yang paling panas, Spanyol siapkan shelter atau jaringan penampungan untuk lindungi warga terdampak.Sanchez menambahkan, pemerintah pusat tidak bekerja sendirian. Jaringan penampungan iklim nasional ini akan dikoordinasikan dengan jaringan serupa yang sudah dibangun oleh sejumlah pemerintah regional.
Adapun Catalonia dan Basque Country menjadi contoh wilayah yang lebih dulu mengambil inisiatif menghadapi gelombang panas.
Barcelona, ibu kota Catalonia, disebut sebagai pelopor. Kota ini telah membangun jaringan penampungan iklim di berbagai fasilitas publik.
Perpustakaan, sekolah, dan gedung umum lain yang memiliki pendingin udara dimanfaatkan sebagai tempat berlindung warga di kota tersebut. Model seperti itu akan diperluas ke seluruh Spanyol.
Selain memanfaatkan bangunan yang sudah ada, pemerintah juga akan mendanai pembangunan penampungan di kawasan tertentu.
Fokus diberikan pada lingkungan yang paling membutuhkan. Area yang panasnya paling ekstrem dan berdampak langsung pada warga akan menjadi prioritas utama pendanaan.
Baca juga:
Ilustrasi Barcelona di Spanyol. Hadapi musim panas yang paling panas, Spanyol siapkan shelter atau jaringan penampungan untuk lindungi warga terdampak.Kebijakan tentang jaringan penampungan ini muncul di tengah rekor suhu yang terus dipecahkan.
Spanyol mencatat musim panas terpanas sepanjang sejarah pada tahun ini. Rata-rata suhu mencapai 24,2 derajat celsius. Angka ini melampaui rekor sebelumnya pada tahun 2022 yang berada di 24,1 derajat celsius, menurut AEMET (Badan Meteorologi Nasional Spanyol).
Rekor tersebut juga menjadi yang tertinggi sejak pencatatan suhu dimulai pada tahun 1961.
Setelah warga Spanyol melewati musim gugur yang hangat, AEMET memperkirakan bahwa tahun 2025 kemungkinan besar akan menjadi tahun terpanas ketiga atau keempat sepanjang sejarah negara tersebut.
Baca juga: Gelombang Panas Hantam Laut Inggris dan Irlandia, Apa Dampaknya?
Tidak hanya itu, jumlah kematian akibat panas di Spanyol antara 16 Mei dan 30 September 2025 mencapai 3.832, meningkat 87,6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024, menurut data Kementerian Kesehatan Spanyol.
Menentukan jumlah kematian akibat panas memang tidak mudah karena panas jarang dicatat langsung sebagai penyebab kematian.
Namun, suhu tinggi berkontribusi besar pada berbagai masalah kesehatan serius. Heatstroke (serangan panas) dan dehidrasi menjadi dampak langsung yang paling umum.
Selain itu, panas ekstrem juga meningkatkan risiko serangan jantung, strok, dan gangguan pernapasan. Semua kondisi ini berpotensi mematikan, terutama bagi kelompok rentan, misalnya lanjut usia (lansia).
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya