Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekspansi Sawit hingga Masifnya Permukiman Gerus Hutan di DAS Sumatera Utara

Kompas.com, 25 Desember 2025, 19:03 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara, Achmad Siddik Thoha mengungkapkan ekspansi sawit, masifnya pembangunan permukiman, dan perkebunan lahan kering mengakibatkan makin tergerusnya hutan di daerah aliran sungai (DAS) Sumatera Utara. Diketahui, provinsi ini menjadi salah satu wilayah terdampak banjir bandang dan longsor akhir November 2025 lalu.

"Kondisi lahan di Sumatera Utara ini memang banyak mengalami deforestasi, khususnya di dalam kawasan hutan, lindung dan gambut sehingga memang ini menjadi pemicu dari respons yang terjadi akibat perubahan iklim," kata Achmad dalam webinar LRI Talk 3, Rabu (24/12/2025).

Dia memerinci, di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah dan Sibulga terdapat empat DAS penting yakni DAS Batang Toru, Aek Pandan, Sibangkuan serta Sibuluan. DAS Batang Toru yang paling menjadi sorotan, lantaran banyak operasional perusahaan ekstraktif yang berdiri di sana.

Baca juga: Walhi Sebut Banjir Sumatera Bencana yang Direncanakan, Soroti Izin Tambang dan Sawit

Pembukaan lahannya pun sangat luas, hingga menjadi pehatian khusus aparat penegak hukum dan pemerintah.

"Ini juga bisa kita telusuri lagi, dengan peluasan sawit dan di Sumatera Utara banyak lahan-lahan yang digunakan untuk membuka lahan baru kopi, kakao dan yang lain. Itu banyak dilakukan di daerah-daerah berlereng curam sehingga menjadi potensi baru meningkatnya bencana," jelas dia.

Deforestasi Tinggi

Achmad mencatat lima kabupaten kota dengan laju forestasi tertinggi yakni Mandailing Natal (21.503 hektare), Tapanuli Selatan (13.846 ha), Padang Lawas (13.378 ha), Tapanuli Utara (8.982 ha), serta Dairi (7.493 ha). Mandailing Natal menjadi daerah paling rawan banjir karena dikelilingi lahan gambut. Sedangkan Dairi mengalami longsor hampir setiap tahunnya.

Ia mencontohkan dampak nyata kerusakan DAS di Sungai Lepan dan DAS Batang Serangan. Banjir bandang menghancurkan permukiman warga, termasuk di Kota Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, yang sempat lumpuh selama beberapa hari.

Achmad menyampaikan, banjir juga melanda Desa Garoga dan Huta Godang di DAS Batang Toru. Permukiman kini berubah menjadi lautan lumpur dan tumpukan kayu akibat aliran air yang berbelok ke arah kampung karena tersumbat material kayu besar.

"Di Garoga masih banyak puing belum dibersihkan karena memang kerusakannya sangat masif dan sangat parah. Di situ kami lihat DAS-nya memang dominannya adalah perkebunan dan pertanian lahaan kering," beber dia.

Sebagian besar titik bencana berada di kawasan permukiman. Hal ini menunjukkan lemahnya perencanaan tata ruang di area DAS.

Baca juga: Guru Besar IPB Soroti Pembalakan liar di Balik Bencana Banjir Sumatera

"Tahap berikutnya menjadi perhatian bagaimana tata ruang perlu dievaluasi, sehingga masyarakat maupun pemerintah tidak menempatkan pembangunan di zona-zona bahaya," kata Achmad.

Achmad mendesak perlindungan DAS dilakukan secara serius melalui audit perizinan maupun moratorium perluasan sawit. Selain itu, pengembangan sistem peringatan dini banjir bandang serta pembangunan infrastruktur yang adaptif.

“Kita sudah berkali-kali mengalami kejadian serupa, tetapi sering lupa pada penyelesaiannya. Perlindungan hutan dan DAS harus menjadi agenda utama agar bencana tidak terus berulang,” ucap Achmad.

Banjir bandang dan longsor melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh pada 25-27 November 2025. Berdasarkan dara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban tewas akibat banjir Sumatera mencapai 1.129 jiwa. 

Saat ini, Tim SAR Gabungan masih mencari keberadaan 174 korban yang belum ditemukan. Sementara, jumlah warga yang masih berada di pengungsian tercatat sebanyak 496.293 jiwa. 

Terkait status kedaruratan wilayah, tercatat sebanyak 12 kabupaten dan kota telah mengalami pergeseran status dari masa tanggap darurat menuju status transisi darurat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
'Long Service Award', Humanisasi di Tengah Era Transaksional
"Long Service Award", Humanisasi di Tengah Era Transaksional
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau