Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suhu Global Tetap Tinggi, meski Siklus Alami Pemanasan El Nino Absen

Kompas.com, 30 Desember 2025, 16:03 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan tahunan World Weather Attribution (WWA) mengungkapkan suhu global sepanjang 2025 tetap tinggi meski tidak adanya siklus alami pemanasan El Nino.

Sementara itu, siklus La Nina yang terjadi tahun ini dan biasanya dikaitkan dengan suhu lebih dingin, juga tidak memberikan pengaruh pada suhu global.

Tahun 2025 tetap termasuk di antara tiga tahun terpanas yang tercatat, dengan suhu rata-rata global selama tiga tahun melampaui ambang batas 1,5 derajat C untuk pertama kalinya.

Hal ini menurut WWA merupakan dampak perubahan iklim yang didorong oleh penggunaan bahan bakar fosil.

Sjoukje Philip, peneliti dari Institut Meteorologi Kerajaan Belanda (KNMI) mengungkapkan variabilitas iklim alami tidak dapat menjelaskan skala pemanasan yang terlihat tahun ini.

“Tidak ada dalam model iklim alami yang dapat menjelaskan mengapa tahun 2025 sepanas ini,” katanya dikutip dari Down to Earth, Selasa (30/12/2025).

“Peningkatan emisi gas rumah kaca yang terus menerus telah mendorong iklim kita ke keadaan baru yang lebih ekstrem, di mana bahkan peningkatan kecil dalam suhu global sekarang memicu dampak yang jauh lebih parah,” paparnya lagi.

Baca juga: Kita Tak Bisa Menghindar Lagi, Suhu Bumi Naik Minimal 2,3 Derajat Celsius

Sejak Perjanjian Paris sendiri, pemanasan global telah meningkat sekitar 0,3 derajat C yang berdampak besar panas ekstrem, curah hujan dan kebakaran.

Selain itu, menurut laporan baru yang dipublikasikan 30 Desember 2025 ini, perubahan iklim telah membuat badai menjadi lebih basah dan lebih kuat, kekeringan serta kebakaran hutan memburuk yang akhirnya mendorong jutaan orang mendekati batas adaptasi.

Tak cukup adaptasi saja

WWA pun memperingatkan bahwa adaptasi saja tidak dapat mengimbangi risiko yang terus meningkat. Tanpa transisi yang cepat dari bahan bakar fosil, masyarakat akan kesulitan untuk mengatasi di tahun-tahun mendatang.

Pengurangan penggunaan bahan bakar fosil secara cepat dan drastis tetap menjadi cara paling efektif untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim.

“Laporan kami menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk mengurangi emisi karbon, upaya tersebut belum cukup untuk mencegah kenaikan suhu global dan dampak terburuknya," kata Friederike Otto, profesor ilmu iklim di Imperial College London dan salah satu pendiri WWA.

"Para pengambil keputusan harus menghadapi kenyataan bahwa ketergantungan mereka yang terus menerus pada bahan bakar fosil merenggut nyawa, menyebabkan kerugian ekonomi miliaran dolar, dan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat dipulihkan pada masyarakat di seluruh dunia,” tambahnya.

Peristiwa cuaca ekstrem tahun 2025

WWA mengidentifikasi 157 peristiwa cuaca ekstrem pada tahun 2025 yang memenuhi kriteria dampak kemanusiaannya. Banjir dan gelombang panas adalah yang paling sering terjadi, masing-masing dengan 49 peristiwa, diikuti oleh badai (38), kebakaran hutan (11), kekeringan (7), dan gelombang dingin (3).

Dari 22 peristiwa yang dianalisis secara mendalam di Afrika, Amerika, Asia, Eropa, dan Oseania, 17 ditemukan menjadi lebih parah atau lebih mungkin terjadi karena perubahan iklim.

Baca juga: Kebakaran, Banjir, dan Panas Ekstrem Warnai 2025 akibat Krisis Iklim

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau