KOMPAS.com - Para peneliti di Arizona State University mengembangkan jaring ikan bertenaga surya melalui kolaborasi dengan nelayan jaring insang (gillnet) di Teluk California, Meksiko.
Inovasi ini tak hanya mengatasi hambatan lama seperti masalah limbah, eksperimen terkontrol tersebut menunjukkan jaring juga menurunkan tangkapan sampingan penyu sebesar 63 persen namun tetap mempertahankan jumlah tangkapan ikan target.
Seperti namanya, jaring bertenaga surya ini memiliki lampu yang berfungsi sebagai pelampung, sementara bola lampu LED tetap aktif selama lebih dari lima hari.
Desain ini mudah diintegrasikan ke dalam peralatan penangkapan ikan yang ada tanpa memerlukan modifikasi peralatan yang signifikan.
Baca juga: Tak Lepas dari Ancaman, Bahan Kimia Abadi Ditemukan di Hewan Laut
Studi sebelumnya juga menunjukkan jaring yang memiliki penerangan mengurangi tangkapan sampingan penyu laut dan hiu. Akan tetapi lampu bertenaga baterai memiliki masa pakai yang pendek, mahal untuk diganti, lampu berat dan rentan tersangkut pada jaring.
Nah, jaring ikan bertenaga surya mengatasi kendala tersebut.
Melansir Happy Eco News, Senin (29/12/2025) eksperimen terkontrol kemudian membandingkan jaring yang memiliki lampu dan tidak.
Jaring dengan tenaga surya menangkap 17 penyu laut selama pengujian. Jaring yang tidak diterangi menangkap hingga 50 penyu.
Pengurangan sebanyak 63 persen tersebut menunjukkan pencegahan tangkapan sampingan yang signifikan sementara tangkapan ikan target tetap serupa. Jaring ikan bertenaga surya terbukti tidak mengganggu keberhasilan penangkapan ikan sambil mengurangi tangkapan penyu.
Keterjeratan alat tangkap ikan termasuk di antara ancaman utama bagi penyu yang terancam punah.
Di sepanjang pantai Pasifik Meksiko, setidaknya 1.000 penyu tempayan Pasifik yang terancam punah mati terperangkap jaring insang di satu area penangkapan ikan dalam satu tahun.
Sementara penyu membantu menjaga kesehatan padang lamun dan fungsi terumbu karang. Mereka telah ada selama lebih dari 100 juta tahun, memenuhi peran ekologis yang tidak dapat ditiru oleh spesies lain.
Baca juga: KKP: 20 Juta Ton Sampah Masuk ke Laut, Sumber Utamanya dari Pesisir
Lebih lanjut, tim peneliti terus melakukan penelitian untuk memahami respons perilaku penyu terhadap lampu yang berkedip. Para peneliti tengah menjalankan studi menggunakan sistem video bawah air dan alat perekam data untuk mengamati interaksi penyu dengan jaring berlampu tersebut.
Observasi tersebut akan mengungkap apakah cahaya tersebut sekadar menerangi bahaya agar terlihat, atau membuat jaring tersebut menjadi kurang menarik bagi para penyu.
Inovasi ini pun mampu mengatasi tantangan global dalam industri perikanan skala kecil terutama di negara-negara berkembang, di mana tata kelola yang lemah dan kurangnya sumber daya menyebabkan minimnya perhatian terhadap dampak tangkapan sampingan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya