Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

7 Resolusi Tahun Baru 2026 agar Hidup Lebih Ramah Lingkungan

Kompas.com, 1 Januari 2026, 13:17 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Sudah punya resolusi tahun baru 2026? Jika belum, bisa mencoba beberapa cara agar hidupmu lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan tahun ini. 

Kamu bisa memulainya di rumah dengan barang-barang yang sudah ada. Tak harus sempurna dan tak harus semuanya, yang penting kamu bisa menjalankannya dengan konsisten. Simak selengkapnya. 

Baca juga:

Resolusi tahun baru 2026 untuk hidup ramah lingkungan

1. Hemat energi di rumah

Tak perlu mahal atau ribet, kamu bisa mulai resolusi ramah lingkungan 2026 dari rumah. Simak selengkapnya.Africa Studio Tak perlu mahal atau ribet, kamu bisa mulai resolusi ramah lingkungan 2026 dari rumah. Simak selengkapnya.

Menghemat energi tidak hanya baik untuk lingkungan, tapi juga membantu menghemat pengeluaran. Kamu bisa memulainya di rumah. 

Perangkat elektronik dan alat rumah tangga bisa terus mengonsumsi daya listrik, bahkan saat dimatikan, dilansir dari AP, Kamis (1/1/2026).

Oleh sebab itu, kamu dapat mengurangi penggunaan ghost energy (energi tak terlihat) dengan mencabut colokan perangkat yang tidak digunakan, seperti pengisi daya ponsel, atau menggunakan stopkontak dengan tombol on-off.

Vice Chairman dari National Hispanic Energy Council, Matthew Gonzales menuturkan, kamu bisa menggunakan lampu LED dan mengganti filter udara yang kotor agar sistem pendingin ruangan bekerja lebih efisien.

Selain itu, manfaatkan cahaya alami matahari saat siang hari, matikan lampu saat tidak dibutuhkan, serta menutup atau membuka tirai agar panas bisa terkelola dengan baik.

"Jangan biarkan kesempurnaan menjadi musuh dari yang cukup baik," kata Gonzales.

2. Kurangi food waste

Tak perlu mahal atau ribet, kamu bisa mulai resolusi ramah lingkungan 2026 dari rumah. Simak selengkapnya.FREEPIK/FREEPIK Tak perlu mahal atau ribet, kamu bisa mulai resolusi ramah lingkungan 2026 dari rumah. Simak selengkapnya.

Mengurangi food waste (mubazir makanan) tak hanya baik untuk lingkungan, tapi juga pola makan dan keuanganmu.

Dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (16/5/2023), food waste di Indonesia paling banyak di dunia pada tahun 2020 yakni sebanyak 20,94 juta metrik ton.

Food waste berkontribusi pada perusakan lingkungan dan krisis iklim. Sebab, ketika limbah makanan berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), limbah tersebut membusuk dan melepaskan metana dalam jumlah besar yang bisa merusak lapisan ozon. 

Menurut penulis buku masakan, Anne-Marie Bonneau, kamu bisa mengurangi food waste dengan bahan-bahan yang ada di dapur.

"Jika Anda memiliki lemak, bawang, dan beberapa sayuran random, atau bahkan satu sayuran random atau sisa protein atau biji-bijian yang sudah dimasak, Anda sudah punya bahan untuk membuat sup," ucap Bonneau. 

Bonneau juga merekomendasikan untuk mengawetkan bahan makanan sebelum busuk, misalnya dengan menjadikannya acar. Bisa pula mengolah tomat menjadi saus yang kemudian dibekukan agar bisa digunakan nanti.

Tidak hanya itu, kurangilah konsumsi makanan ultra-proses (ultra-processed foods) yang biasanya dikemas dalam kemasan plastik. 

"Anda akan memperbaiki pola makan Anda, mengurangi limbah, dan makanan Anda akan lebih sedikit bersentuhan dengan plastik," kata dia.

Baca juga:

3. Declutter

Tak perlu mahal atau ribet, kamu bisa mulai resolusi ramah lingkungan 2026 dari rumah. Simak selengkapnya.Dok. Freepik/pressfoto Tak perlu mahal atau ribet, kamu bisa mulai resolusi ramah lingkungan 2026 dari rumah. Simak selengkapnya.

Sepintas decluttering memang terdengar sulit dan merepotkan, apalagi kamu harus memilah barang-barang tertentu. 

Dilansir dari Country Livingdecluttering penting dilakukan agar hidup lebih berkelanjutan. Alih-alih langsung membuang barang yang dikira sudah tidak bisa dipakai, kamu bisa memberinya kesempatan kedua.

Sebagai contoh, kotak kayu bisa dijadikan pot tanaman atau wadah penyimpanan. Furnitur lama yang sebenarnya kondisinya masih bagus bisa digunakan kembali, tapi mungkin harus sedikit diperbaiki.

Menyusun barang-barang tidak selalu berarti harus membeli kotak penyimpanan baru atau membuang barang-barang. Sering kali hal tersebut bisa dimulai dengan memanfaatkan apa yang sudah kamu punya.

Decluttering membantumu mengurangi keinginan belanja impuslif. Sebab, kamu akan paham barang-barang apa saja yang sebenarnya kamu gunakan. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau