Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hujan Ekstrem di Lokasi Banjir Bandang Sumatera Diprediksi Hingga Mei 2026

Kompas.com, 5 Januari 2026, 21:31 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan dalam 6 bulan ke depan intensitas curah hujan di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumbar masuk dalam kategori esktrem.

Hal itu merupakan hasil analisa perangkat decision support system /DSS Kamajaya BRIN yang menunjukkan bahwa terdapat potensi pengulangan hujan dengan curah hujan ekstrem.

"Ada another peak (puncak curah hujan). Peak-nya kemarin (saat banjir bandang Sumatera November 2025) memang sudah lewah tuh, ekstrem banget. Tapi, ada secondary peak, ada third peak, yang harus kita siapkan," ujar Peneliti klimatologi dan perbahan iklim BRIN, Erma Yulihastin dalam webinar pekan lalu.

Baca juga: Banjir Sumatera Berpotensi Terulang Lagi akibat Kelemahan Tata Kelola

Untuk secondary peak, kata dia, kemungkinan akan terjadi dasarian III awal bulan ini atau 21-31 Januari 2026 dengan curah hujan mencapai hampir 399,192 mm/dasarian di Aceh Tengah. Adapun third peak terjadi pada dasarian III juga pada bulan ketiga atau 21-31 Maret 2026, dengan curah hujan mencapai 583,576 mm/dasarian di Aceh Tengah.

Sementara itu, second dan third peak juga terjadi di Agam (Sumbar) maupun Tapanuli Tengah (Sumut). Bahkan, thrid peak di Agam dan Tapanuli Tengah terjadi pada bulan Mei 2026, yang semestinya sudah memasuki musim kemarau.

"Saya enggak mengatakan ini berarti seperti Senyar, sama persis. Mungkin lebih kecil, namun kitaharus bersiap. Belum kelar cuaca ekstremnya, belum benar-benar masuk ke situis reduksi hujan atau minimal hujan, bahkan Mei pun itu masih mencapai titik ini (peak atau puncak hujan)," tutur Erma.

Kendati tidak separah dampak siklon tropis Senyar, kata dia, risiko puncak curah hujan lain perlu diantisipasi. Ini mengingat pada bulan Mei, potensi curah hujan di Agam sebesar 571,858 mm/dasarian dan Tapanuli tengah 614.481 mm/dasarian.

Tingginya potensi curah hujan tersebut disebabkan adanya siklonik atau sirkulasi angin berputar ke dalam, yang menarik massa udara dan uap air ke pusatnya.

Pola perilaku sirkulasi angin tersebut mulai mengalami perubahan, dengan badai menjadi semakin dekat dengan daratan Indonesia. Erma menilai, lokasi-lokasi terpanas di perairan wilayah Indonesia atau hotspot semakin mendekat dengan daratan akibat kenaikan suhu permukaan laut. Tren badai cenderung mendekat ke daratan di Indonesia terjadi dalam lima tahun terakhir.

"Jadi memang, mengapa badai itu melipir banget di sini? Karena yang terpanas ada di sini, dibanding dengan laut yang tengahnya, itu lebih panas di dekat darat. Fenomenanya itu disebut dengan marine heat wave," ucapnya.

Selain Sumatera bagian utara, badai-badi tropis juga terbentuk di Samudera Hindia, yang lebih ke arah perairan selatan Jawa. Walau intensitas curah hujan pada Mei 2026 tidak setinggi saat siklon tropis Senyar, tetapi Indonesia harus menghadapinya dalam waktu beberapa bulan ke depan.

Baca juga: Tahap Pemulihan Pasca-Bencana Sumatera jadi Fase yang Paling Rapuh

Berdasarkan proyeksi jangka panjang, Sumatera menjadi pulau paling rawan terdampak peningkatan frekuensi maupun intensitas hujan ekstrem dan angin kencang akibat krisis iklim hingga 2040. Di susul kemudian Kalimantan dan Jawa.

Sebelumnya, Guru Besar Ilmu Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), Muhammad Basyuni menilai, siklon tropis Senyar hanya pemicu dari banjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Kata dia, jika hutan di dalam daerah aliran sungai (DAS) kawasan bencana Sumatera sudah melampaui titik kritis dan belum ada upaya pemulihan, maka ke depannya curah hujan ekstrem akibat siklon tropis akan kembali menyebabkan banjir bandang.

"Kalau hulunya (hutan dalam DAS) tidak diperbaiki, nanti jika terjadi siklon baru, ada cuaca ekstrem, maka akan terjadi yang seperti ini (banjir bandang), bahkan (bisa) lebih parah lagi, ketika hulunya tidak dipulihkan," ucap.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau