Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pria Lebih Rentan, Mikroplastik Bisa Menyumbat Arteri dan Percepat Serangan Jantung

Kompas.com, 8 Januari 2026, 09:24 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Rutin terpapar mikroplastik bisa mempercepat aterosklerosis atau penyumbatan arteri, serta menyebabkan serangan jantung dan strok, menurut studi terbaru dari Universitas California, Amerika Serikat.

Efek berbahaya mikroplastik hanya muncul pada tikus jantan, yang mana menunjukkan bagaimana partikel berukuran kurang dari lima milimeter ini memengaruhi kesehatan jantung manusia.

Baca juga:

“Temuan kami sesuai dengan pola yang lebih luas yang terlihat dalam penelitian kardiovaskular, yang mana laki-laki dan perempuan sering merespons secara berbeda,” ujar profesor ilmu biomedis sekaligus peneliti utama studi ini, Changcheng Zhou, dilansir dari SciTechDaily, Kamis (8/1/2026).

Dampak mikroplastik bagi kesehatan, percepat aterosklerosis

Mikroplastik bahkan sudah terdeteksi dalam tubuh manusia

Zhou menduga faktor kromosom seks dan hormon kemungkinan berperan dalam memengaruhi perbedaan laki-laki dan perempuan dalam menanggapi dampak mikroplastik bagi kesehatan tubuh mereka.

Meski mekanisme dampak mikroplastik belum diketahui secara pasti, efek perlindungan hormon seks utama pada perempuan, esterogen, kemungkinan berkontribusi.

Saat ini mikroplastik sangat sulit dihindari, yang bahkan sudah terdeteksi di dalam tubuh manusia. Mikroplastik telah tertanam dalam plak aterosklerotik yang tingginya konsentrasinya dikaitkan dengan risiko penyakit kardiovaskular.

Namun, hingga saat ini, belum jelas apakah mikroplastik secara aktif merusak arteri atau hanya menyertai penyakit.

Menurut Zhou, strategi terbaik untuk mengurangi paparan mikroplastik dengan membatasi penggunaan plastik dalam wadah makanan dan air. Khususnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menghindari makanan olahan tinggi.

Ia menambahkan, belum ada cara efektif untuk menghilangkan mikroplastik dari tubuh. Maka dari itu, penting meminimalisasi paparan dan menjaga kesehatan kardiovaskular secara keseluruhan melalui diet, olahraga, serta pengelolaan faktor risiko.

Baca juga:

Laki-laki lebih rentan mikroplastik

Berdasarkan uji coba tikus jantan dan tikus betina

Penyakit jantung termasuk dampak mikroplastik bagi kesehatan manusia. Laki-laki disebut lebih rentan.freepik Penyakit jantung termasuk dampak mikroplastik bagi kesehatan manusia. Laki-laki disebut lebih rentan.

Studi tersebut menggunakan tikus sebagai model yang telah diterima secara luas untuk penelitian penyakit jantung.

Tikus jantan dan betina diberi makan diet rendah lemak dan kolestrol yang setara dengan orang kurus dalam kondisi sehat. Tikus menerima dosis mikroplastik setiap hari atau 10 miligram per kilogram berat badan selama periode sembilan minggu.

Penentuan tingkat paparan disesuaikan dengan keadaan yang mencerminkan jumlah relevan manusia terkontaminasi mikrplastik melalui makanan dan air. Hasilnya, terdapat perbedaan mencolok antara tikus jantan dan betina.

Paparan mikroplastik cukup memperceat aterosklerosis tikus jantan. Penumpukan plak meningkat sebesar 63 persen pada akar aorta, bagian aorta yang terhubung ke jantung.

Lalu, penumpukan plak sebesar 624 persen pada arteri brakiocephalica, yang bercabang dari aorta di dada bagian atas.

Sementara itu, tikus betina tidak mengalami peningkatan signifikan dalam pembentukan plak.

Bahkan, mikroplastik tersebut tidak menyebabkan tikus bertambah berat badan atau meningkatkan kadar kolesterolnya, yang mana mereka tetap kurus dan pengukuran lipid darahnya sama saja.

Artinya, kerusakan arteri tidak disebabkan oleh faktor risiko klasik, seperti obesitas atau kolesterol tinggi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau