KOMPAS.com - Lebih dari 26 persen spesies di ekosistem terbesar dunia hilang akibat pertanian, menurut studi yang diterbitkan di Communications Earth & Environment.
Para peneliti menyebutkan, pertanian dan pembangunan di perkotaan menggerus 148 juta hektar hotspot atau titik keanekaragaman hayati selama 24 tahun terakhir.
Baca juga:
Research Associate di Centre for Science and Environment (CSE) India, Shimali Chauhan mengatakan, wilayah yang kaya secara biologis saat ini kehilangan 70 persen vegetasi alaminya. Pada saat yang sama, pertanian kian meluas di daerah tropis dekat garis khatulistiwa.
"Akibatnya, sebagian besar keanekaragaman hayati unik dunia kini terdesak ke dalam habitat yang kecil dan terus menyusut sehingga perlindungan kawasan ini menjadi sangat krusial untuk mencegah kepunahan," ujar Shimali, dilansir dari Down to Earth, Jumat (10/1/2026).
Berdasarkan studi, lebih dari 26 persen spesies hilang akibat aktivitas pertanian. Simak selengkapnya.Adapun studi ini dipimpin peneliti dari Chinese Academy of Sciences dan China Agricultural University, dengan kolaborator dari University of Cambridge, University of Maryland, serta University of Oklahoma.
Dalam risetnya, tim peneliti berfokus pada mamalia kecil, burung, dan amfibi yang hidup di wilayah geografis terbatas.
Peneliti menyebut, spesies-spesies tersebut sangat bersiko lantaran hilangnya habitat dalam skala kecil sekali pun bisa memusnahkan seluruh populasinya.
Spesies yang terancam itu berperan dalam penyerbukan, penyebaran biji, dan pengendalian hama.
Artinya, berkurangnya populasi dapat memicu efek domino yang mengganggu keseluruhan ekosistem.
"Studi ini menunjukkan bahwa pertanian di dalam hotspot keanekaragaman hayati telah menyebabkan penurunan kekayaan spesies sebesar 26 persen, yang berarti lebih sedikit jenis tumbuhan dan hewan yang dapat bertahan di lahan pertanian dibandingkan dengan habitat alami. Terjadi pula penurunan yang jelas dalam jumlah total individu satwa," jelas Shimali.
Baca juga:
Berdasarkan studi, lebih dari 26 persen spesies hilang akibat aktivitas pertanian. Simak selengkapnya.Para peneliti menggunakan data survei satwa liar di seluruh dunia dalam database PREDICTS, lalu membandingkan daerah yang memiliki hutan dan padang rumput alami dengan wilayah yang diubah menjadi lahan pertanian.
Hasilnya, konversi lahan menjadi pertanian menyebabkan hilangnya 26 persen spesies, sedangkan jumlah hewan dan tumbuhan berkurang 12 persen. Keanekaragaman hayati dalam komunitas dengan ukuran populasi serupa ikut menyusut hampir sembilan persen.
"Hal ini lebih kentara di daerah tropis dan wilayah berkembang seperti Cerrado dan Hutan Atlantik di Amerika Selatan, Indo-Burma dan Sundaland di Asia Tenggara, serta sebagian wilayah timur dan selatan Afrika," kata Shimali.
Dengan menggabungkan peta perluasan lahan pertanian dengan persebaran vertebrata berukuran kecil, para peneliti mengidentifikasi 3.483 zona bahaya berisiko tinggi di seluruh wilayah keanekaragaman hayati global.
Secara keseluruhan, zona-zona ini mencakup sekitar 1.741 juta hektar area. Shimali mencatat, hampir 1.031 juta hektar dari zona berisiko tinggi terletak di luar kawasan lindung sehingga rentan terhadap konversi lahan pertanian.
"Wilayah yang menghadapi risiko terbesar meliputi Hutan Atlantik, Indo-Burma, Ghat Barat dan Sri Lanka, Sundaland, dan Himalaya Timur," ucap dia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya