Sementara itu, peneliti dari Applied Environmental Research Foundation (AERF), Akshay Gawade, menyatakan, alih fungsi lahan kian masif dan meluas di Ghat Barat yang menjadi pusat keankearagaman hayati di India.
Bagian utara diubah menjadi kebun buah-buahan yang sebagiannya didorong subsidi pemerintah.
“Sistem pertanian tradisional sedang runtuh. Seiring generasi muda pindah, lahan sering dijual kepada pemilik kebun buah-buahan atau penebang kayu. Hal ini mengubah pola penggunaan lahan dengan sangat cepat," jelas Gawade.
Perubahan ini merusak ekosistem pegunungan di sepanjang pantai barat India, rumah bagi lebih dari 5.000 tumbuhan berbunga, 139 mamalia, 508 burung, dan 325 spesies terancam punah.
Baca juga:
Para peneliti menegaskan, memperluas pertanian untuk memenuhi permintaan pangan global bukanlah solusi berkelanjutan. Mereka mendesak perluasan kawasan lindung secara terarah, terutama di wilayah dengan konsentrasi spesies langka.
Mereka menekankan pentingnya peningkatan produktivitas pertanian di lahan yang sudah dibudidayakan sehingga tekanan membuka kawasan baru bisa berkurang.
Kerja sama internasional dalam perdagangan pangan dinilai krusial agar negara-negara yang kaya keanekaragaman hayati tetapi secara ekonomi tertinggal tidak terpaksa mengorbankan ekosistemnya demi memenuhi kebutuhan negara-negara yang lebih makmur.
Terakhir, perlunya melibatkan masyarakat lokal dalam upaya konservasi dan pemantauan satwa maupun tumbuhan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya