KOMPAS.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa bauran energi baru terbarukan (EBT) di sektor listrik tahun 2025 melampaui target Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). Kapasitas pembangkitnya bertambah 15.630 megawatt (MW) selama lima tahun terakhir.
"Kalau khusus di ketenagalistrikan, itu (bauran EBT) tercapai 16,3 persen. Itu di atas RUKN yang hanya menargetkan 15,9 persen," kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi dalam keterangannya, Jumat (9/1/2026).
Sementara itu, investasi subsektor EBT mencapai 2,4 miliar dollar AS. Eniya mengatakan, sektor ESDM tetap menjadi tulang punggung penerimaan negara dengan capaian Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp 138,37 triliun, setara 108,56 persen dari yang ditargetkan.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia memerinci kapasitas listrik bersih didominasi oleh pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas 7.587 MW, bioenergi 3.148 MW, dan panas bumi sebesar 2.744 MW.
Baca juga: Belajar dari India, Indonesia Dinilai Perlu Target Ambisius EBT
Kemudian, kontribusi dari sumber energi lain berupa PLTS sebesar 1.494 MW, gasifikasi batu bara sebesar 450 MW, pembangkit listrik tenaga angin 152 MW, pemanfaatan sampah menjadi listrik sebesar 36 MW, maupun sumber lainnya sebanyak 18 MW.
"Sebenarnya penambahan EBT ini cukup besar di tahun 2025, tetapi kalau dikonversi menjadi turun persentasenya karena ada penambahan (pembangkit) dari gas dan batu bara," tutur Bahlil.
Di sisi lain, ia mencatat kapasitas pembangkit lisrik dalam setahun belakangan ikut melonjak. Sepanjang 2025 kenaikan kapasitas terpasang bertambah sekitar 7 gigawatt (GW) menjadi 107,51 GW. Angkanya naik dari yang sebelumnya 100,65 GW pada 2024.
Menurut Bahlil, kenaikan kapasitas terpasang harus ditingkatkan sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional. Kehadiran listrik menjadi salah satu pendorong peningkatan investasi dan industri nasional.
Baca juga: Inggris Catat Rekor Tertinggi Produksi Listrik Energi Terbarukan pada 2025
"Dalam analisa kami di tahun 2026, kami harus genjot (pembangkit). Karena seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan oleh Pemerintah pada tahun ini," tutur Bahlil.
Secara historis, kapasitas terpasang pembangkit selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun sejak 2020. Kementerian ESDM melaporkan, pada 2020 kapasitas terpasang pembangkit sebesar 72,75 GW, lalu naik menjadi 74,53 GW pada 2021. Tren ini berlanjut pada 2022 di mana terjadi pertumbuhan mencapai 83,81 GW, kemudian 91,17 GW tahun 2023.
Pemerintah juga menargetkan peningkatkan konsumsi listrik per kapita pada 2025 sebesar 1.464 kilowatt hour (kWh). Realisasinya melampaui target tersebut, yakni 1.584 kWh atau 108,2 persen dari target.
Bahlil menyampaikan, kenaikan konsumsi per kapita ini tidak terlepas dari keberhasilan program Listrik Desa dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Sepanjang 2025, Program Listrik Desa direalisasikan di 1.516 lokasi dan menjangkau 77.616 pelanggan. Sementara, hingga 31 Desember 2025, program BPBL menjangkau 205.968 rumah tangga.
"Jadi konsumsi (listrik) kita naik. Kalau konsumsi naik, itu artinya terjadi pertumbuhan permintaan, dan itu kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Dan yang kedua adalah terjadi juga pemerataan," jelas dia.
Pemerintah berkomitmen melanjutkan pembangunan sektor ketenagalistrikan, termasuk peningkatan pembangunan pembangkit sesuai yang ditetapkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya