Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW

Kompas.com, 10 Januari 2026, 15:10 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa bauran energi baru terbarukan (EBT) di sektor listrik tahun 2025 melampaui target Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). Kapasitas pembangkitnya bertambah 15.630 megawatt (MW) selama lima tahun terakhir.

"Kalau khusus di ketenagalistrikan, itu (bauran EBT) tercapai 16,3 persen. Itu di atas RUKN yang hanya menargetkan 15,9 persen," kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi dalam keterangannya, Jumat (9/1/2026).

Sementara itu, investasi subsektor EBT mencapai 2,4 miliar dollar AS. Eniya mengatakan, sektor ESDM tetap menjadi tulang punggung penerimaan negara dengan capaian Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp 138,37 triliun, setara 108,56 persen dari yang ditargetkan.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia memerinci kapasitas listrik bersih didominasi oleh pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas 7.587 MW, bioenergi 3.148 MW, dan panas bumi sebesar 2.744 MW.

Baca juga: Belajar dari India, Indonesia Dinilai Perlu Target Ambisius EBT

Kemudian, kontribusi dari sumber energi lain berupa PLTS sebesar 1.494 MW, gasifikasi batu bara sebesar 450 MW, pembangkit listrik tenaga angin 152 MW, pemanfaatan sampah menjadi listrik sebesar 36 MW, maupun sumber lainnya sebanyak 18 MW.

"Sebenarnya penambahan EBT ini cukup besar di tahun 2025, tetapi kalau dikonversi menjadi turun persentasenya karena ada penambahan (pembangkit) dari gas dan batu bara," tutur Bahlil.

Meningkatnya Kapasitas Listrik

Di sisi lain, ia mencatat kapasitas pembangkit lisrik dalam setahun belakangan ikut melonjak. Sepanjang 2025 kenaikan kapasitas terpasang bertambah sekitar 7 gigawatt (GW) menjadi 107,51 GW. Angkanya naik dari yang sebelumnya 100,65 GW pada 2024.

Menurut Bahlil, kenaikan kapasitas terpasang harus ditingkatkan sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional. Kehadiran listrik menjadi salah satu pendorong peningkatan investasi dan industri nasional.

Baca juga: Inggris Catat Rekor Tertinggi Produksi Listrik Energi Terbarukan pada 2025

"Dalam analisa kami di tahun 2026, kami harus genjot (pembangkit). Karena seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan oleh Pemerintah pada tahun ini," tutur Bahlil.

Secara historis, kapasitas terpasang pembangkit selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun sejak 2020. Kementerian ESDM melaporkan, pada 2020 kapasitas terpasang pembangkit sebesar 72,75 GW, lalu naik menjadi 74,53 GW pada 2021. Tren ini berlanjut pada 2022 di mana terjadi pertumbuhan mencapai 83,81 GW, kemudian 91,17 GW tahun 2023.

Pemerintah juga menargetkan peningkatkan konsumsi listrik per kapita pada 2025 sebesar 1.464 kilowatt hour (kWh). Realisasinya melampaui target tersebut, yakni 1.584 kWh atau 108,2 persen dari target.

Bahlil menyampaikan, kenaikan konsumsi per kapita ini tidak terlepas dari keberhasilan program Listrik Desa dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Sepanjang 2025, Program Listrik Desa direalisasikan di 1.516 lokasi dan menjangkau 77.616 pelanggan. Sementara, hingga 31 Desember 2025, program BPBL menjangkau 205.968 rumah tangga.

"Jadi konsumsi (listrik) kita naik. Kalau konsumsi naik, itu artinya terjadi pertumbuhan permintaan, dan itu kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Dan yang kedua adalah terjadi juga pemerataan," jelas dia.

Pemerintah berkomitmen melanjutkan pembangunan sektor ketenagalistrikan, termasuk peningkatan pembangunan pembangkit sesuai yang ditetapkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau