Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anggaran Karbon 1 Persen Orang Terkaya Habis dalam 10 Hari

Kompas.com, 12 Januari 2026, 14:47 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Kelompok orang super kaya memicu krisis iklim dengan 'kecerobohan karbon yang luar biasa' seiring dengan makin kuatnya desakan untuk menaikkan pajak kekayaan.

Para ahli menggunakan istilah kecerobohan karbon yang luar biasa untuk mengkritik gaya hidup orang kaya seperti penggunaan jet pribadi, kapal pesiar mewah, dan gaya hidup boros emisi lainnya yang dilakukan tanpa memedulikan dampaknya bagi planet.

Analisis baru dari Oxfam menemukan bahwa satu persen orang terkaya telah menghabiskan anggaran karbon tahunan mereka hanya dalam 10 hari pertama tahun 2026.

Artinya, jumlah total karbon dioksida yang diperbolehkan dilepaskan ke atmosfer per tahun per orang agar pemanasan global tetap berada di bawah batas tertentu telah dihabiskan hanya dalam waktu 10 hari. 

Oxfam juga menemukan bahwa 0,01 persen orang terkaya telah melampaui batas karbon mereka hanya dalam 72 jam pertama di tahun baru.

Dilansir dari Euro news, Sabtu (10/1/2026) temuan ini pun, memperingatkan bahwa kaum super kaya harus memangkas emisi mereka sebesar 97 persen pada 2030 untuk memenuhi target iklim yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris yang mengikat secara hukum.

Baca juga: Teknologi AI Jadi Cara Industri Berat Kejar Target Nol Emisi

Pengaruh orang kaya terhadap iklim

Meski orang-orang super kaya telah lama dikritik karena penggunaan jet pribadi dan kapal pesiar mewah mereka yang sembrono, analisis Oxfam menemukan pula bahwa gaya hidup mereka bukanlah satu-satunya masalah.

Individu dan perusahaan terkaya juga memiliki kekuasaan dan pengaruh yang tidak proporsional, dengan banyak yang berinvestasi di industri yang paling berpolusi di dunia.

Sebagai contoh, jumlah pelobi dari perusahaan bahan bakar fosil yang menghadiri KTT COP30 di Brasil tahun lalu lebih banyak daripada delegasi negara mana pun selain negara tuan rumah, dengan jumlah yang sangat mengejutkan yaitu 1.600 peserta.

“Kekuasaan dan kekayaan yang sangat besar dari individu dan perusahaan super kaya juga memungkinkan mereka untuk menggunakan pengaruh yang tidak adil terhadap pembuatan kebijakan dan melemahkan negosiasi iklim,” kata Kepala Kebijakan Iklim Oxfam, Nafkote Dabi.

Penelitian LSM tersebut menemukan bahwa setiap miliarder, rata-rata, memiliki portofolio investasi di perusahaan yang akan menghasilkan 1,9 juta ton CO2 per tahun, yang menurut mereka akan “semakin mengunci dunia ke dalam krisis iklim”.

Menurut analisis Oxfam, emisi dari satu persen orang terkaya yang dihasilkan dalam satu tahun diperkirakan akan menyebabkan 1, 3 juta kematian akibat panas pada akhir abad ini dan memicu kerusakan ekonomi yang signifikan bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah.

Oxfam memperkirakan kerugian tersebut dapat mencapai total hingga 44 triliun dolar AS pada 2050

Desakan pajak kekayaan

Oxfam kini menyerukan kepada pemerintah untuk mengurangi emisi dari orang-orang super kaya dan membuat para pencemar kaya membayar melalui peningkatan pajak penghasilan dan kekayaan.

Baca juga: Jejak Karbon Bulanan ChatGPT Setara 260 Penerbangan

Pajak Keuntungan Polutan Kaya terhadap 585 perusahaan minyak, gas, dan batu bara dapat mengumpulkan dana hingga 400 miliar dolar AS pada tahun pertamanya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau