"Yang pertama (paling parah) adalah Aceh Utara sebenarnya, meskipun di media sosial lebih banyak disebutkan Aceh Tamiang ya. Aceh Tamiang dari jumlah korban atau jumlah rumah yang terdampak ada di urutan kedua," ucapnya.
Sebelumnya, Guru Besar Ergonomi Kehutanan IPB University, Efi Yuliati Yovi mengatakan, alih fungsi lahan tanpa mempertimbangkan kondisi lingkungan dan tingkat risiko bencana dapat berakibat fatal. Penilaian risiko (risk assessment) secara menyeluruh terhadap pemanfaatan ruang di suatu kawasan tidak bisa disamaratakan.
Baca juga: Hutan Lindung Sungai Wain di Balikpapan Dirambah untuk Kebun Sawit
Pemanfaatan ruang di kawasan daerah aliran sungai (DAS) untuk permukiman harus memperhatikan tingkat risikonya. Setiap kawasan DAS memiliki karakteristik berbeda-beda. Tidak semua kawasan DAS sangat riskan untuk dijadikan kawasan permukiman.
Untuk banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 lalu, kata dia, membutuhkan multi layer solution. Menurut Yovi, solusi berbasis alam (natured-based solutions/NbS) diperlukan, meski tidak cukup hanya dangan itu.
Mengembalikan fungsi hutan pasca bencana banjir bandang memang sangat penting. Namun, mengembalikan fungsi hutan membutuhkan waktu 5-20 tahun dan harus dipelihara usai ditanam atau tidak langsung ditinggalkan.
"Tapi hutan itu bukan obat sapu jagat lah, istilahnya ya. NbS itu bagus ya, tapi juga punya ambang batas, punya kemampuan. Jadi, tidak cukup," ujar Efi dalam webinar Selasa (6/1/2025).
Untuk mencegah terjadinya banjir bandang berulang pasca bencana di Sumatera, NbS perlu disertai dengan multi layer solution. Misalnya, dengan membangun infrastruktur untuk memitigasi banjir bandang. Infrastruktur, seperti bendungan, tanggul, atau kanal, harus dirancang untuk kejadian ekstrem atau harus mampu menghadapi bencana banjir bandang yang dipicu siklon tropis Senyar.
Baca juga: Tutupan Hutan DAS Tamiang Aceh Tergerus Sawit dan Permukiman Selama 20 Tahun
Hutan memang bukan satu-satunya 'perisai' untuk mencegah terjadinya banjir bandang. Infrastruktur mitigasi banjir bandang bisa menjadi 'perisai' paling akhir untuk melengkapi hutan yang mampu menurunkan dampak bencana secara signifikan.
"Kalau kita punya perisai yang berlapis-lapis. (Infrastruktur) itu perisai yang paling dalam, itu sudah lapisan paling akhir ya," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya