KOMPAS.com - Pasar karbon sukarela (voluntary carbon market) memang belum sebesar pasar karbon wajib (mandatory compliance systems). Namun, survei terbaru Morgan Stanley Institute for Sustainable Investing menunjukkan, pasar karbon sukarela diprediksi tumbuh secara signifikan.
Sebagai informasi, pasar karbon sukarela merupakan pasar di mana perusahaan, organisasi, atau individu membeli kredit karbon atas kemauan sendiri untuk mengimbangi emisi gas rumah kaca yang mereka hasilkan.
Baca juga:
Sementara itu, kredit karbon adalah instrumen yang dapat diperdagangkan yang mewakili klaim atas pengurangan emisi gas rumah kaca yang dihindari atau peningkatan penyerapan emisi gas rumah kaca, dilansir dari Offset Guide, Selasa (13/1/2026).
Dalam surveinya, Morgan Stanley menemukan, perusahaan-perusahaan yang sudah aktif di pasar tersebut melihat kredit karbon sebagai bagian strategi iklim jangka panjang mereka, alih-alih hanya sebagai solusi jangka pendek.
Survei ini dilakukan terhadap 225 perusahaan global dengan pendapatan tahunan di atas satu miliar dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 16.846 triliun).
Survei kemudian menyoroti perbedaan yang jelas antara perusahaan yang sudah membeli kredit karbon, perusahaan yang berencana untuk melakukannya pada masa mendatang, dan perusahaan yang memilih untuk tidak berpartisipasi sama sekali.
Baca juga:
Survei Morgan Stanley mengungkap pasar karbon sukarela bakal tumbuh signifikan. Perusahaan-perusahaan yang saat ini membeli kredit karbon sukarela sebagian besar adalah perusahaan terbuka (listed firms) berskala besar yang telah menetapkan target net-zero.
Dilansir dari Know ESG, lebih dari 90 persen perusahaan menyatakan bahwa mereka berniat untuk terus membeli kredit tersebut, dan sebagian besar memperkirakan permintaan akan meningkat seiring berjalannya waktu.
Bagi perusahaan-perusahaan ini, kemajuan dalam memotong emisi dalam operasional dan rantai nilai (value chain) mereka merupakan pendorong terbesar bagi permintaan kredit karbon pada masa mendatang.
Sekitar 32 persen menyebutkan bahwa kemajuan dekarbonisasi internal adalah faktor utama yang memengaruhi volume pembelian, jauh melampaui pertimbangan harga.
Hal ini menunjukkan bahwa kredit karbon digunakan untuk melengkapi pengurangan emisi, bukan menggantikannya.
Rata-rata, para pembeli saat ini memperkirakan sekitar dua pertiga dari pengurangan emisi mereka akan berasal dari operasional atau rantai nilai mereka.
Sementara itu, 28 persen lainnya diharapkan berasal dari dekarbonisasi jaringan listrik dan langkah-langkah serupa sehingga hanya menyisakan tujuh persen emisi sisa yang akan ditangani melalui penghapusan karbon.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya