Penulis
KOMPAS.com - Pengunjung Kebun Raya Bedugul di Kabupaten Tabanan, Bali, bisa mengikuti program eksplorasi kunang-kunang.
Program ini bertujuan menumbuhkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya konservasi flora dan fauna.
Baca juga:
"Sehingga upaya konservasi tidak hanya terhenti pada perlindungan kawasan tapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif," kata Direktur Pengelola Kebun Raya, Marga Anggrianto, dilansir dari Antara, Rabu (14/1/2026).
Kebun Raya Bedugul di Bali menghadirkan petualangan melihat kunang-kunang sebagai sarana edukasi lingkungan.Program eksplorasi kunang-kunang ini dikemas dalam bentuk petualangan edukatif.
Kegiatan dilakukan mulai pukul 16.00 hingga 21.00 Wita. Waktu tersebut merupakan masa peralihan dari siang ke malam.
Adapun periode tersebut dikenal sebagai fase krepuskular. Pada fase inilah kunang-kunang mulai aktif.
Eksplorasi dilakukan dengan menyusuri beberapa titik di kawasan hutan Kebun Raya Bedugul. Lokasi yang dilewati, antara lain area pemandangan Danau Beratan, hutan tropis, serta Taman Panca Yadnya.
Kawasan tersebut memiliki vegetasi hutan tropis yang masih terjaga sehingga bisa menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.
Baca juga:
Kebun Raya Bedugul di Bali menghadirkan petualangan melihat kunang-kunang sebagai sarana edukasi lingkungan.Dalam kegiatan eksplorasi, pengunjung dapat menemukan beberapa jenis kunang-kunang.
Jenis yang tercatat, antara lain Lamprigera species pluralis (Spp) dan Abscondita Spp. Kedua jenis ini banyak ditemukan di area pemandangan danau serta Taman Panca Yadnya.
Marga menjelaskan, kemunculan kunang-kunang menjadi penanda kondisi lingkungan yang baik.
Habitat yang optimal ditandai dengan kelembaban udara yang tinggi, suhu udara yang terasa sejuk, sirkulasi udara yang berjalan baik, dan intensitas cahaya buatan yang rendah. Kondisi ini mendukung kehidupan serangga bercahaya alami tersebut.
Sebagai informasi, cahaya kunang-kunang berasal dari proses bioluminesensi. Proses ini merupakan reaksi kimia alami di dalam tubuh serangga. Reaksi tersebut hampir tidak menghasilkan panas.
Untuk kunang-kunang, cahaya berfungsi sebagai alat komunikasi. Fungsi utamanya berkaitan dengan proses reproduksi. Selain itu, cahaya ini juga menjadi daya tarik visual yang bernilai edukatif bagi masyarakat.
Kebun Raya Bedugul di Bali menghadirkan petualangan melihat kunang-kunang sebagai sarana edukasi lingkungan.Program eksplorasi tidak hanya menampilkan kunang-kunang. Pengunjung juga dapat menjumpai fauna malam lainnya.
Jenis yang ditemukan, antara lain amfibi, reptil, burung, serta berbagai jenis serangga. Keanekaragaman ini menunjukkan peran kebun raya sebagai habitat penting bagi satwa liar.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan menggandeng komunitas Nusantara Wilderness. Komunitas ini fokus pada eksplorasi alam dan edukasi lingkungan.
Perwakilan komunitas Nusantara Wilderness, Bella Evanglista menjelaskan bahwa eksplorasi tak hanya terkait melihat satwa, tapi juga memahami bagaimana lingkungan bekerja menjaga keseimbangan alam.
"Kebun raya memegang peranan penting dalam perlindungan habitat," ujar Bella.
Baca juga:
Sebagai informasi, Kebun Raya Bedugul juga dikenal sebagai Kebun Raya Bali. Menempati lahan seluas 157,5 hektar, tempat wisata ini dibuka setiap hari. Pada hari kerja, jam operasionalnya mulai pukul 08.00 Wita sampai 16.00 Wita.
Sementara itu, pada akhir pekan dan hari libur nasional, jam operasionalnya dari pukul 08.00 Wita sampai 17.00 Wita, dilansir dari laman resminya.
Kebun Raya Bedugul memiliki beragam area, di antaranya Patung Kumbarna Laga, Rumah Kaca Kaktus, Pohon Fikus Raksasa, dan Petak Cemara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya