KOMPAS.com - Kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terkait pemotongan pendanaan untuk sains berpotensi menciptakan celah dalam penelitian iklim.
Namun, berdasarkan laporan Copernicus Climate Change Service milik Uni Eropa, pemangkasan tersebut tidak berdampak terhadap laporan tahunan pemanasan global yang dipantau ketat, dan sebagian bergantung pada data dari pemerintah Amerika Serikat.
Baca juga:
"Amerika Serikat masih menjadi penyedia data yang andal untuk perkiraan cuaca," tutur Direktur Jenderal Pusat Perkiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF), yang mengoperasikan Copernicus Climate Change Service, Florian Pappenberger, dilansir dari AFP, Kamis (15/1/2026).
"Saat ini kami belum melihat... dampak operasional (dari pemotongan yang diumumkan)," tambah dia.
Pemotongan dana sains era Trump dinilai belum berdampak pada laporan pemanasan global. Namun, keberlanjutan data iklim global berisiko.Sebelumnya Copernicus Climate Change Service merilis laporan bulanan dan tahunan tentang keadaan iklim.
Berdasarkan laporan sorotan iklim global terbarunya yang dirilis Rabu (14/1/2026), tahun 2025 merupakan tahun terpanas ketiga dalam catatan, setelah rekor tertinggi sepanjang masa pada tahun 2023 dan tahun 2024.
Copernicus menggunakan pengamatan satelit dan cuaca baik dari darat maupun laut, termasuk dari lembaga Amerika Serikat, dengan catatan yang berasal dari beberapa dekade lalu.
Meskipun belum terlihat dampak pemotongan pendanaan sains terhadap operasional, Pappenberger mengkhawatirkan potensi hilangnya data pada masa mendatang.
Kehilangan pengamatan menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi setiap prakiraan cuaca. Sebab, ketersediaan dan kuantitas pengamatan secara langsung erat kaitannya dengan kualitas prakiraan cuaca.
"Kekhawatiran utamanya adalah Anda menghentikan sistem pemantauan yang sudah ada sehingga tidak memiliki data untuk latihan pada masa depan dalam pembuatan laporan semacam ini," ucap Pappenberger.
Baca juga:
Pemotongan dana sains era Trump dinilai belum berdampak pada laporan pemanasan global. Namun, keberlanjutan data iklim global berisiko.Trump telah melakukan pemotongan besar-besaran terhadap dana penelitian iklim federal dan pengamatan bumi, termasuk program-program yang menyumbangkan data ke jaringan pemantauan internasional.
Para anggota parlemen Amerika Serikat telah menyusun rancangan undang-undang pengeluaran tahun 2026 yang akan menolak pemotongan Trump terhadap NASA dan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA). Namun, undang-undang tersebut belum diselesaikan.
Direktur Copernicus Climate Change Service, Carlo Buontempo mengatakan, koordinasi dengan NASA dan NOAA tetap berlanjut, tapi potensi pemotongan dana menjadi risiko yang perlu dipertimbangkan.
Baca juga:
Diketahui, Amerika Serikat merupakan penyumbang keuangan utama untuk program data kelautan internasional. Salah satunya, pelampung robotik bawah air yang berada di peraian selama berhari-hari, lalu muncul kembali ke permukaan untuk mengirimkan informasi ke satelit.
"Jika kita kehilangan pengamatan laut dalam, hal ini akan membuat kita 'buta' selama beberapa tahun," ujar Buontempo.
Sebelumnya, Copernicus Climate Change Service dan Berkeley Earth melaporkan bahwa untuk pertama kalinya, suhu global melebihi 1,5 derajat celsius relatif terhadap masa pra-industri rata-rata selama tiga tahun terakhir.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres memperingatkan para kepala negara di dunia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secepat mungkin.
Di sisi lain, upaya untuk menahan laju pemanasan global mengalami berbagai kemunduran. Misalnya, di bawah pimpinan Trump, Amerika Serikat keluar dari perjanjian iklim PBB.
Padahal Amerika Serikat merupakan negara penyumbang pemanasan global kedua di dunia setelah China.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya