Lebih lanjut, orang-orang yang mengetahui adanya dukungan publik yang luas terhadap aksi iklim pada awalnya menganggap hal tersebut sebagai aksi iklim politik yang lebih layak.
Contohnya, kebijakan seperti pengenaan pajak pada barang berdasarkan emisi karbon dioksida dapat diimplementasikan secara realistis.
Namun, efek ini memudar pada survei lanjutan.
Baca juga:
"Mempelajari seberapa besar konsensus yang ada dalam dukungan terhadap tindakan kebijakan terkait perubahan iklim tampaknya secara berkelanjutan meningkatkan persepsi orang tentang konsensus tersebut, bahkan untuk kebijakan yang tidak kami jelaskan secara spesifik kepada mereka," ucap pemimpin studi tersebut, Matthew Barnfield.
"Namun, hal ini tampaknya tidak memiliki dampak signifikan terhadap seberapa besar dukungan orang atau bahkan adopsi tindakan ramah lingkungan oleh mereka sendiri. Temuan ini mungkin mengecewakan para ahli yang telah mengadvokasi pendekatan ini sebagai cara untuk mempercepat tindakan iklim di negara-negara demokrasi," lanjut dia.
Dengan demikian, studi tersebut menyampaikan, temuan yang dihasilkan menyoroti kebutuhan akan pendekatan yang lebih terarah, berulang, dan sensitif terhadap konteks.
Hal itu bisa dipertimbangkan jika ingin mengubah keyakinan dan perilaku orang-orang secara signifikan terkait iklim.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya