Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tahu Banyak Orang Peduli Aksi Iklim, Mengapa Tetap Enggan Berubah? Ini Penelitiannya

Kompas.com, 16 Januari 2026, 15:59 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Mengetahui bahwa mayoritas masyarakat mendukung aksi iklim ternyata tidak otomatis membuat seseorang jadi ikut setuju atau langsung ingin mengubah gaya hidupnya, menurut studi terbaru.

"Orang-orang memang belajar tentang apa yang dipikirkan orang lain mengenai perubahan iklim, dan pembelajaran tersebut dapat bertahan lama. Namun, studi kami menunjukkan batasan yang jelas terhadap apa yang dapat diharapkan dari strategi ini," ucap salah satu peneliti, Florian Stoeckel dari University of Exeter, dilansir dari Phys.org, Jumat (16/1/2026).

Baca juga: 

Adapun temuan yang dipublikasikan di Journal of Environmental Psychology ini pun "menantang" pandangan umum tentang konsensus publik dalam mendorong aksi iklim.

Studi tersebut menemukan, mengetahui adanya dukungan publik yang luas terhadap kebijakan aksi iklim pada awalnya dapat membuat orang berpikir bahwa kebijakan semacam itu lebih layak secara politik, serta lebih mungkin untuk diterapkan.

Kendati demikian, efek ini kecil dan bersifat sementara sehingga menimbulkan pertanyaan tentang seberapa efektif strategi komunikasi sejenis dalam praktiknya.

Baca juga:

Dukungan aksi iklim tak selalu picu tindakan

Efek soal informasi aksi iklim bisa cepat memudar

Penumpang terlihat antre masuk KRL Yogya-Palur di Stasiun Solo-Balapan, Solo, Jawa Tengah, Kamis (25/12/2025). Penelitian menunjukkan, mengetahui banyak orang mendukung aksi iklim hanya berdampak kecil dan sementara terhadap perilaku individu.KOMPAS.com/Labib Zamani Penumpang terlihat antre masuk KRL Yogya-Palur di Stasiun Solo-Balapan, Solo, Jawa Tengah, Kamis (25/12/2025). Penelitian menunjukkan, mengetahui banyak orang mendukung aksi iklim hanya berdampak kecil dan sementara terhadap perilaku individu.

Dalam studi ini yang dilakukan di Debunker Lab, para peneliti menggunakan data yang dikumpulkan bersama dengan YouGov di Jerman pada tahun 2021 dan mencakup 2.801 responden.

Responden yang sama disurvei dua kali, dengan jarak sekitar dua minggu. Beberapa peserta diperlihatkan informasi tentang seberapa luas dukungan publik terhadap aksi iklim di Jerman.

Sementara itu, yang lainnya tidak diperlihatkan informasi tersebut. 

Secara keseluruhan, orang-orang di Jerman memiliki pemahaman yang cukup akurat tentang seberapa besar dukungan publik terhadap aksi iklim.

Rata-rata, mereka tidak percaya bahwa hanya sebagian kecil yang mendukung aksi untuk memerangi perubahan iklim.

Pada saat yang sama, beberapa orang meremehkan seberapa banyak orang lain yang mendukung aksi iklim dan kebijakan iklim tertentu.

Di antara orang-orang yang meremehkan ini, ketika mereka disajikan dengan bukti seberapa banyak dukungan terhadap aksi iklim, mereka kemudian memperbarui pandangan mereka.

"Kami menemukan bahwa paparan terhadap informasi ini dapat menghasilkan peningkatan yang bertahan lama dan signifikan dalam keyakinan tingkat kedua (persepsi tentang opini publik) dua minggu setelah intervensi, terutama di kalangan mereka yang awalnya meremehkan dukungan publik," bunyi studi tersebut, dilansir dari Science Direct.

Namun, meski mengetahui banyak orang lain mendukung aksi iklim, ada responden yang keyakinannya tidak berubah tentang perubahan iklim.

Misalnya soal apakah aktivitas manusia adalah penyebab utama perubahan iklim, preferensi pribadi terhadap kebijakan iklim, atau niat untuk mengubah gaya hidup mereka menjadi lebih ramah lingkungan.

Penelitian menunjukkan, mengetahui banyak orang mendukung aksi iklim hanya berdampak kecil dan sementara terhadap perilaku individu.FREEPIK/WAYHOMESTUDIO Penelitian menunjukkan, mengetahui banyak orang mendukung aksi iklim hanya berdampak kecil dan sementara terhadap perilaku individu.

Lebih lanjut, orang-orang yang mengetahui adanya dukungan publik yang luas terhadap aksi iklim pada awalnya menganggap hal tersebut sebagai aksi iklim politik yang lebih layak.

Contohnya, kebijakan seperti pengenaan pajak pada barang berdasarkan emisi karbon dioksida dapat diimplementasikan secara realistis.

Namun, efek ini memudar pada survei lanjutan.

Baca juga: 

"Mempelajari seberapa besar konsensus yang ada dalam dukungan terhadap tindakan kebijakan terkait perubahan iklim tampaknya secara berkelanjutan meningkatkan persepsi orang tentang konsensus tersebut, bahkan untuk kebijakan yang tidak kami jelaskan secara spesifik kepada mereka," ucap pemimpin studi tersebut, Matthew Barnfield. 

"Namun, hal ini tampaknya tidak memiliki dampak signifikan terhadap seberapa besar dukungan orang atau bahkan adopsi tindakan ramah lingkungan oleh mereka sendiri. Temuan ini mungkin mengecewakan para ahli yang telah mengadvokasi pendekatan ini sebagai cara untuk mempercepat tindakan iklim di negara-negara demokrasi," lanjut dia. 

Dengan demikian, studi tersebut menyampaikan, temuan yang dihasilkan menyoroti kebutuhan akan pendekatan yang lebih terarah, berulang, dan sensitif terhadap konteks. 

Hal itu bisa dipertimbangkan jika ingin mengubah keyakinan dan perilaku orang-orang secara signifikan terkait iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau