KOMPAS.com - Mengetahui bahwa mayoritas masyarakat mendukung aksi iklim ternyata tidak otomatis membuat seseorang jadi ikut setuju atau langsung ingin mengubah gaya hidupnya, menurut studi terbaru.
"Orang-orang memang belajar tentang apa yang dipikirkan orang lain mengenai perubahan iklim, dan pembelajaran tersebut dapat bertahan lama. Namun, studi kami menunjukkan batasan yang jelas terhadap apa yang dapat diharapkan dari strategi ini," ucap salah satu peneliti, Florian Stoeckel dari University of Exeter, dilansir dari Phys.org, Jumat (16/1/2026).
Baca juga:
Adapun temuan yang dipublikasikan di Journal of Environmental Psychology ini pun "menantang" pandangan umum tentang konsensus publik dalam mendorong aksi iklim.
Studi tersebut menemukan, mengetahui adanya dukungan publik yang luas terhadap kebijakan aksi iklim pada awalnya dapat membuat orang berpikir bahwa kebijakan semacam itu lebih layak secara politik, serta lebih mungkin untuk diterapkan.
Kendati demikian, efek ini kecil dan bersifat sementara sehingga menimbulkan pertanyaan tentang seberapa efektif strategi komunikasi sejenis dalam praktiknya.
Baca juga:
Penumpang terlihat antre masuk KRL Yogya-Palur di Stasiun Solo-Balapan, Solo, Jawa Tengah, Kamis (25/12/2025). Penelitian menunjukkan, mengetahui banyak orang mendukung aksi iklim hanya berdampak kecil dan sementara terhadap perilaku individu.Dalam studi ini yang dilakukan di Debunker Lab, para peneliti menggunakan data yang dikumpulkan bersama dengan YouGov di Jerman pada tahun 2021 dan mencakup 2.801 responden.
Responden yang sama disurvei dua kali, dengan jarak sekitar dua minggu. Beberapa peserta diperlihatkan informasi tentang seberapa luas dukungan publik terhadap aksi iklim di Jerman.
Sementara itu, yang lainnya tidak diperlihatkan informasi tersebut.
Secara keseluruhan, orang-orang di Jerman memiliki pemahaman yang cukup akurat tentang seberapa besar dukungan publik terhadap aksi iklim.
Rata-rata, mereka tidak percaya bahwa hanya sebagian kecil yang mendukung aksi untuk memerangi perubahan iklim.
Pada saat yang sama, beberapa orang meremehkan seberapa banyak orang lain yang mendukung aksi iklim dan kebijakan iklim tertentu.
Di antara orang-orang yang meremehkan ini, ketika mereka disajikan dengan bukti seberapa banyak dukungan terhadap aksi iklim, mereka kemudian memperbarui pandangan mereka.
"Kami menemukan bahwa paparan terhadap informasi ini dapat menghasilkan peningkatan yang bertahan lama dan signifikan dalam keyakinan tingkat kedua (persepsi tentang opini publik) dua minggu setelah intervensi, terutama di kalangan mereka yang awalnya meremehkan dukungan publik," bunyi studi tersebut, dilansir dari Science Direct.
Namun, meski mengetahui banyak orang lain mendukung aksi iklim, ada responden yang keyakinannya tidak berubah tentang perubahan iklim.
Misalnya soal apakah aktivitas manusia adalah penyebab utama perubahan iklim, preferensi pribadi terhadap kebijakan iklim, atau niat untuk mengubah gaya hidup mereka menjadi lebih ramah lingkungan.
Penelitian menunjukkan, mengetahui banyak orang mendukung aksi iklim hanya berdampak kecil dan sementara terhadap perilaku individu.Lebih lanjut, orang-orang yang mengetahui adanya dukungan publik yang luas terhadap aksi iklim pada awalnya menganggap hal tersebut sebagai aksi iklim politik yang lebih layak.
Contohnya, kebijakan seperti pengenaan pajak pada barang berdasarkan emisi karbon dioksida dapat diimplementasikan secara realistis.
Namun, efek ini memudar pada survei lanjutan.
Baca juga:
"Mempelajari seberapa besar konsensus yang ada dalam dukungan terhadap tindakan kebijakan terkait perubahan iklim tampaknya secara berkelanjutan meningkatkan persepsi orang tentang konsensus tersebut, bahkan untuk kebijakan yang tidak kami jelaskan secara spesifik kepada mereka," ucap pemimpin studi tersebut, Matthew Barnfield.
"Namun, hal ini tampaknya tidak memiliki dampak signifikan terhadap seberapa besar dukungan orang atau bahkan adopsi tindakan ramah lingkungan oleh mereka sendiri. Temuan ini mungkin mengecewakan para ahli yang telah mengadvokasi pendekatan ini sebagai cara untuk mempercepat tindakan iklim di negara-negara demokrasi," lanjut dia.
Dengan demikian, studi tersebut menyampaikan, temuan yang dihasilkan menyoroti kebutuhan akan pendekatan yang lebih terarah, berulang, dan sensitif terhadap konteks.
Hal itu bisa dipertimbangkan jika ingin mengubah keyakinan dan perilaku orang-orang secara signifikan terkait iklim.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya