Penulis
KOMPAS.com - Sejumlah sekolah di Mataram, Nusa Tenggara Barat, melakukan pengelolaan sampah organik dengan sistem tempah dedoro. Hal ini bagian dari program Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram.
Perluasan sistem tempah dedoro merupakan upaya Pemerintah Kota Mataram untuk menekan volume sampah harian yang terus meningkat.
Baca juga:
"Untuk di sekolah-sekolah di bawah Dinas Pendidikan Kota Mataram, Alhamdulillah sudah berjalan baik di tingkat SD maupun SMP," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, H Nizar Denny Cahyadi, dilansir dari Antara, Minggu (18/1/2026).
Saat ini, sampah di Kota Mataram mencapai sekitar 250 ton per hari. Dari jumlah itu, 60 persen merupakan sampah organik yang sebenarnya bisa diolah langsung dari sumbernya.
Adapun keberhasilan program ini mendorong Dinas Lingkungan Hidup Mataram untuk melakukan duplikasi secara masif agar semakin banyak sekolah mampu mengelola sampahnya sendiri.
Program pengolahan sampah organik dengan sistem tempah dedoro sejalan dengan instruksi Wali Kota Mataram.
Dalam kebijakan tersebut, pusat perkantoran, hotel, restoran, katering, dan sekolah diminta mengelola sampah secara mandiri.
Tujuannya agar sampah tidak lagi seluruhnya dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pengolahan harus dimulai dari lokasi asal sampah dihasilkan.
Salah satu sistem yang dikembangkan secara khusus adalah tempah dedoro, terutama untuk mengolah sampah organik.
Baca juga:
Sekolah di Mataram bisa mengolah sampah sendiri lewat sistem tempah dedoro yang sederhana dan ramah lingkungan.Sistem tempah dedoro tergolong sederhana dan mudah diterapkan. Media pengolahannya dibuat dari buis beton yang dilengkapi penutup, lalu di bagian tertentu terdapat lubang khusus untuk membuang sampah organik.
Melalui wadah ini, pihak sekolah dapat mengolah sampah secara mandiri di lingkungan sekolah. Bahkan, sistem tersebut bisa dimanfaatkan oleh warga di sekitar sekolah.
Sampah organik yang dimasukkan akan mengalami proses penguraian alami. Untuk menghilangkan bau sekaligus mempercepat proses tersebut, digunakan cairan EM4.
Setelah proses penguraian selesai, sampah organik akan berubah menjadi kompos. Kompos ini bisa digunakan sebagai pupuk alami.
Adapun penerapan sistem tempah dedoro tidak hanya dilakukan di sekolah. Kantor instansi pemerintah di bawah Pemerintah Kota Mataram juga telah menjalankan program serupa.
Selain itu, pelaku usaha seperti hotel, restoran, dan katering juga mulai mengelola sampah organik secara mandiri.
Jika seluruh sektor dapat menjalankan program ini secara konsisten, beban pengelolaan sampah kota akan berkurang secara signifikan.
Baca juga:
DLH Mataram juga telah menyiapkan skema pengelolaan untuk sampah anorganik. Sekitar 40 persen sampah anorganik, terutama plastik kantong kresek, akan dialihkan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya.
Di lokasi tersebut, sampah plastik diolah menjadi batako yang memiliki nilai guna.
Sementara itu, sampah berupa botol bekas air mineral dan sejenisnya dialihkan ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) Kebon Talo.
"Dengan demikian, sampah yang akan kami buang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Lombok Barat, hanya residu yang tidak bisa diolah," tutur Nizar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya