Penulis
Saat musim dingin, air laut membeku menjadi es. Dalam proses ini, garam terdorong keluar dari kristal es. Air yang kaya garam menjadi lebih berat, lalu tenggelam ke dasar laut. Bersamaan dengan itu, panas dari Atlantik ikut terbawa ke kedalaman.
Selain itu, panas alami dari dalam bumi atau panas geotermal juga terus menghangatkan dasar cekungan Eurasia.
Sebelumnya, pemanasan laut dalam ini masih dapat diimbangi oleh aliran air dingin dari cekungan di timur Greenland. Air tersebut dingin dan asin sehingga mampu menetralkan panas dari Atlantik dan panas geotermal.
Kendati demikian, situasi tersebut berubah. Pencairan lapisan es Greenland telah memasukkan lebih banyak air tawar ke laut. Air tawar menghambat proses tenggelamnya air asin yang dingin, alhasil suplai air dingin ke laut dalam melemah.
Suhu laut dalam di cekungan Greenland pun meningkat dari -1,1 derajat celsius menjadi -0,7 derajat celsius.
Akibat perubahan ini, air dingin dari Greenland tidak lagi mampu menyeimbangkan panas yang masuk ke Samudra Arktik.
"Pemanasan di cekungan Greenland kini telah meluas hingga ke Arktik,” ujar anggota tim peneliti, Ruizhe Song.
Baca juga:
Penelitian ini mengungkap adanya mekanisme pemanasan baru di laut terdalam Arktik. Temuan ini memperluas bukti bahwa pemanasan global menjangkau hampir seluruh sistem Bumi.
Pemanasan laut dalam ini berpotensi memicu dampak lanjutan. Salah satunya adalah mempercepat pencairan es laut dari bawah.
Dampak lain yang lebih mengkhawatirkan adalah kemungkinan mencairnya permafrost bawah laut. Di dalam permafrost tersebut terdapat endapan mirip es yang disebut clathrate, yang menyimpan gas metana.
Jika terganggu, metana bisa terlepas ke atmosfer dan mempercepat pemanasan global.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya