Penulis
Penelitian tersebut juga menemukan pola yang konsisten. Tahun-tahun yang mengalami pemutihan karang massal ternyata memiliki lebih banyak hari cerah dan tenang.
Pada periode itu, jumlah hari dengan angin pasat kuat jauh lebih sedikit, terutama antara Desember dan April.
Kondisi ini memungkinkan panas terakumulasi dalam waktu lama. Suhu tinggi tidak hanya muncul lebih awal, tapi juga bertahan hingga akhir musim panas.
Situasi tersebut menciptakan kondisi ideal bagi terbentuknya gelombang panas laut, salah satu penyebab utama pemutihan terumbu karang secara luas di Great Barrier Reef.
Profesor Steven Siems dari Sekolah Ilmu Bumi, Atmosfer, dan Lingkungan Monash University menuturkan, bahwa fenomena ini tidak bisa diabaikan.
Menurutnya, ketika Great Barrier Reef mengalami pemutihan karang massal, periode doldrum terjadi lebih sering dan berlangsung lebih lama.
Ia menjelaskan bahwa hilangnya proses pendinginan di akhir musim panas bisa mengubah tahun biasa menjadi tahun bencana bagi terumbu karang.
Studi ini mendesak pemantauan pola atmosfer yang lebih ketat di Australia.
Para peneliti memperingatkan bahwa perubahan iklim terus mengganggu sistem cuaca global. Dalam kondisi tersebut, peran angin pasat menjadi semakin penting bagi perlindungan terumbu karang.
Jika gangguan terhadap angin pasat semakin sering terjadi,risiko pemutihan massal di Great Barrier Reef akan meningkat.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya