Editor
Penemuan dark oxygen tidak diterima begitu saja. Sejumlah peneliti mempertanyakan hasil riset tahun 2024 tersebut.
Beberapa pihak menyebut oksigen yang terdeteksi mungkin berasal dari gelembung udara yang terperangkap di alat ukur.
Sweetman membantah klaim itu. Menurutnya, instrumen tersebut telah digunakan selama 20 tahun tanpa pernah mengalami masalah gelembung udara.
Selain itu, timnya juga telah melakukan pengujian tambahan untuk menyingkirkan kemungkinan kesalahan alat.
Baca juga:
Adapun riset tahun 2024 itu sebagian didanai oleh perusahaan tambang laut dalam asal Kanada, The Metals Company. Namun, perusahaan tersebut saat ini mengkritik hasil penelitian Sweetman.
"Bila penambangan komersil berjalan, dampaknya akan cukup luas. Nodul-nodul ini adalah rumah dari beragam fauna," tutur Sweetman.
Sementara itu, ahli biogeokimia dari GEOMAR Helmholtz Centre for Ocean Research di Jerman, Matthias Haeckel, menuturkan, penelitiannya tidak menemukan tanda produksi oksigen dari nodul.
Namun, ia menyambut baik rencana kolaborasi. Sweetman dijadwalkan bergabung dalam pelayaran riset mereka pada akhir tahun untuk membandingkan metode penelitian.
Ekspedisi terbaru ini didanai oleh Nippon Foundation dari Jepang. Tim peneliti akan menghabiskan bulan Mei di atas kapal riset di Clarion-Clipperton Zone.
"Kami akan bisa mengonfirmasi produksi dark oxygen dalam 24 atau 48 jam setelah landers diangkat ke permukaan," kata Sweetman.
Namun, publik baru akan mengetahui hasilnya setelah kapal kembali pada bulan Juni. Eksperimen lanjutan di darat bahkan bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya