Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan Uji Klaim Dark Oxygen dari Batu Logam di Dasar Laut

Kompas.com, 22 Januari 2026, 10:56 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP, BBC

KOMPAS.com - Ilmuwan dunia bersiap melakukan ekspedisi laut dalam untuk mengungkap fenomena yang disebut dark oxygen (oksigen gelap). 

Penemuan tersebut memicu perdebatan di kalangan peneliti dan industri tambang laut dalam. Bila terbukti, temuan ini bisa mengubah pemahaman manusia terkait asal usul kehidupan bumi.

Baca juga:

Uji klaim logam dasar laut bisa hasilkan dark oxygen

Bisakah oksigen terbentuk tanpa proses fotosintesis?

Tim peneliti menyampaikan, Selasa (20/1/2026), mereka telah alat pendarat laut dalam (deep-sea landers) baru. Alat ini dirancang untuk menguji klaim batuan logam di dasar laut dapat menghasilkan oksigen tanpa cahaya matahari.

Penelitian ini dipimpin oleh Andrew Sweetman, ahli ekologi laut asal Inggris. Sweetman juga memimpin riset pada tahun 2024 yang pertama kali mengungkap kemungkinan adanya dark oxygen di kedalaman samudera.

Sebagai informasi, dark oxygen merupakan istilah untuk menggambarkan oksigen yang terbentuk tanpa proses fotosintesis.

Selama ini, ilmuwan percaya bahwa oksigen di bumi hanya bisa muncul melalui aktivitas organisme hidup yang memanfaatkan cahaya matahari, dikutip dari BBC.

Namun, penelitian Sweetman menunjukkan kemungkinan lain. Ia menemukan bahwa nodul polimetalik, atau batuan seukuran kentang di dasar laut, mungkin mampu menghasilkan oksigen secara mandiri.

Para ilmuwan menduga nodul tersebut melepaskan muatan listrik yang cukup kuat. Muatan ini dapat memecah air laut menjadi hidrogen dan oksigen melalui proses yang disebut elektrolisis.

Jika mekanisme ini benar, oksigen kemungkinan bisa terbentuk bahkan di tempat paling gelap di planet ini.

Baca juga:

Ekspedisi ke kedalaman 11 kilometer

Ilmuwan menyiapkan ekspedisi laut dalam untuk menguji dark oxygen, oksigen yang diduga muncul dari batuan logam di dasar samudera.pexels Ilmuwan menyiapkan ekspedisi laut dalam untuk menguji dark oxygen, oksigen yang diduga muncul dari batuan logam di dasar samudera.

Untuk menguji klaim tersebut, Sweetman dan timnya saat ini menyiapkan ekspedisi laut dalam baru. Mereka memperkenalkan dua deep-sea landers yang mampu menyelam hingga kedalaman 11 kilometer.

Alat ini dirancang berbeda dari misi sebelumnya. Sensor yang digunakan secara khusus mampu mengukur respirasi dasar laut.

Tidak hanya itu, alat tersebut mampu menahan tekanan hingga 1.200 kali tekanan di permukaan Bumi. Bentuk dan teknologinya bahkan disebut lebih mirip peralatan eksplorasi luar angkasa.

Ekspedisi ini akan dilakukan di Clarion-Clipperton Zone, wilayah luas di Samudera Pasifik yang terletak di antara Hawaii dan Meksiko.

Wilayah ini menjadi sorotan karena menyimpan jutaan nodul polimetalik yang kaya logam bernilai tinggi. Banyak perusahaan berencana menambang nodul tersebut karena bisa digunakan untuk baterai mobil listrik dan teknologi modern lainnya.

Kritik dan perdebatan ilmiah

Ilmuwan menyiapkan ekspedisi laut dalam untuk menguji dark oxygen, oksigen yang diduga muncul dari batuan logam di dasar samudera.Unsplash Ilmuwan menyiapkan ekspedisi laut dalam untuk menguji dark oxygen, oksigen yang diduga muncul dari batuan logam di dasar samudera.

Penemuan dark oxygen tidak diterima begitu saja. Sejumlah peneliti mempertanyakan hasil riset tahun 2024 tersebut.

Beberapa pihak menyebut oksigen yang terdeteksi mungkin berasal dari gelembung udara yang terperangkap di alat ukur.

Sweetman membantah klaim itu. Menurutnya, instrumen tersebut telah digunakan selama 20 tahun tanpa pernah mengalami masalah gelembung udara.

Selain itu, timnya juga telah melakukan pengujian tambahan untuk menyingkirkan kemungkinan kesalahan alat.

Baca juga:

Adapun riset tahun 2024 itu sebagian didanai oleh perusahaan tambang laut dalam asal Kanada, The Metals Company. Namun, perusahaan tersebut saat ini mengkritik hasil penelitian Sweetman.

"Bila penambangan komersil berjalan, dampaknya akan cukup luas. Nodul-nodul ini adalah rumah dari beragam fauna," tutur Sweetman.

Sementara itu, ahli biogeokimia dari GEOMAR Helmholtz Centre for Ocean Research di Jerman, Matthias Haeckel, menuturkan, penelitiannya tidak menemukan tanda produksi oksigen dari nodul.

Namun, ia menyambut baik rencana kolaborasi. Sweetman dijadwalkan bergabung dalam pelayaran riset mereka pada akhir tahun untuk membandingkan metode penelitian.

Ekspedisi terbaru ini didanai oleh Nippon Foundation dari Jepang. Tim peneliti akan menghabiskan bulan Mei di atas kapal riset di Clarion-Clipperton Zone.

"Kami akan bisa mengonfirmasi produksi dark oxygen dalam 24 atau 48 jam setelah landers diangkat ke permukaan," kata Sweetman.

Namun, publik baru akan mengetahui hasilnya setelah kapal kembali pada bulan Juni. Eksperimen lanjutan di darat bahkan bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau