KOMPAS.com - Cuaca ekstrem dan pemanasan global dinilai membuat sejumlah jalur pendakian menjadi tidak aman. Tidak hanya itu, jumlah pendaki yang berlebihan bisa merusak lingkungan setempat.
Hal ini berarti banyak jalur yang kemudian membatasi akses, memberlakukan biaya pengunjung yang lebih tinggi, atau melakukan penutupan total.
Baca juga:
Cuaca ekstrem dan pemanasan global dinilai membuat sejumlah jalur pendakian menjadi tidak aman.
Salah satu contohnya terjadi di Pegunungan Alpen. Puluhan jalur pendakian ditutup sementara menyusul longsoran batu yang berbahaya.
Ratusan pendaki dan wisatawan dievakuasi dari lereng Cima Falkner di Pegunungan Brenta Dolomites di Italia utara pada bulan Juli 2025 lalu.
Para ahli memperingatkan tentang peningkatan tajam longsor di wilayah tersebut yang terkait dengan mencairnya lapisan es abadi.
"Beberapa longsoran batu telah terjadi di lereng barat dan timur Cima Falkner di Grup Brenta. Akibatnya, semua jalur pendakian dan jalan setapak yang terkena dampak langsung di daerah tersebut segera ditutup," bunyi pernyataan dari pihak berwenang di wilayah Trentino-Alto Adige, dilansir dari The Guardian, Kamis (22/1/2026).g routes and hiking trails directly affected by the area have been immediately closed.
Tahun lalu, di Swiss, jalur pendakian ditutup hingga musim gugur karena kekhawatiran cuaca dan iklim.
Lebih dari 70 rute, dari Lower Engadine di timur Swiss hingga Lower Valais di perbatasan dengan Perancis, dilarang dilalui karena alasan keselamatan.
“Curah hujan yang berkepanjangan dan intens memicu longsoran batu, banjir bandang, dan tanah longsor di beberapa tempat,” kata manajer komunikasi digital di organisasi jalur pendakian Swiss, Schweizer Wanderwege, Vera In-Albon, dikutip dari Euronews.
Baca juga:
Cuaca ekstrem dan pemanasan global dinilai membuat sejumlah jalur pendakian menjadi tidak aman. Jepang akhirnya mengenakan biaya tambahan bagi pendaki yang ingin mendaki Gunung Fuji melalui salah satu dari empat jalur utamanya sejak musim panas lalu.
Gunung tertinggi di Negeri Sakura ini telah mengalami overtourism (jumlah wisatawan melebihi kapasitas yang ada). Hal tersebut tidak hanya menyebabkan keselamatan semakin berisiko, tapi juga polusi.
Biaya tambahan ini bertujuan untuk membantu membersihkan gunung dengan salju di puncaknya ini, sekaligus melestarikan lingkungannya.
Sebelumnya, pengunjung harus membayar 2.000 yen (sekitar Rp 212.505) untuk mendaki jalur Yoshida.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya