Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jakarta Masuk Daftar Kota dengan Tekanan Air Ekstrem

Kompas.com, 23 Januari 2026, 10:41 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Jakarta diklasifikasikan sebagai kota yang menghadapi tekanan air ekstrem atau sangat tinggi (highly-stressed), bersanding dengan London di Inggris dan Bangkok di Thailand. 

Hal itu menurut pemetaan Watershed Investigations dan The Guardian terhadap kota-kota di daerah aliran sungai (DAS) yang mengalami tekanan air yang tinggi (water stress).

Baca juga:

Tekanan tersebut berasal dari pengambilan air tanah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan kepentingan industri yang hampir melebihi ketersediaan pasokan, yang mana disebabkan pengelolaan sumber daya air yang buruk dan diperparah krisis iklim.

Dilansir dari The Guardian, Jumat (23/1/2026), setengah dari 100 kota besar di dunia mengalami tekanan air yang tinggi. Sebanyak 38 kota besar di antaranya berada di wilayah bertekanan air yang cukup tinggi. 

Adapun Beijing, China; New York dan Los Angeles, Amerika Serikat; Rio de Janeiro Brasil; serta Delhi, India termasuk jajaran kota besar dengan tekanan air yang tinggi. 

Kekeringan dan peningkatan curah hujan

London, Bangkok, dan Jakarta diklasifikasikan sebagai kota yang menghadapi tekanan air ekstrem atau sangat tinggi.Pixabay London, Bangkok, dan Jakarta diklasifikasikan sebagai kota yang menghadapi tekanan air ekstrem atau sangat tinggi.

Secara terpisah, analisis terbaru dari data satelit NASA yang disusun oleh para ilmuwan di University College London menunjukkan, 100 kota terbesar mengalami kekeringan atau peningkatan curah hujan selama 20 tahun terakhir.

Kota-kota besar, seperti Chennai, India; Teheran, Iran; dan Zhengzhou, China; menunjukkan tren kekeringan jangka panjang yang parah, dengan sekitar 1,1 miliar orang tinggal di wilayah itu.

Di sisi lain, kota-kota besar, seperti Tokyo, Jepang; Lagos, Nigeria; dan Kampala, Uganda; justru menunjukkan tren peningkatan curah hujan yang kuat, dengan 96 juta orang tinggal di wilayah itu.

Namun, data satelit dinilai terlalu "kasar" untuk menunjukkan detail dan konteks pada skala lokal.

Sebagian besar perkotaan di zona curah hujan tinggi berada di Afrika sub-Sahara, dengan hanya Tokyo dan Santo Domingo di Republik Dominika yang berada di wilayah lain.

Mayoritas pusat kota di daerah dengan sinyal kekeringan terkuat terkonsentrasi di seluruh Asia, terutama India utara dan Pakistan.

Baca juga:

Saat ini, memasuki tahun keenam kekeringan, Teheran berada dalam kondisi yang sangat dekat dengan "hari nol" ketika tidak ada air yang tersedia untuk warganya.

Cape Town dan Chennai sama-sama hampir mencapai "hari nol" dan banyak kota dengan pertumbuhan tercepat di dunia terletak di zona kering, yang mana dapat mengalami kekurangan air pada masa depan.

"Dengan melacak perubahan total penyimpanan air dari luar angkasa, (proyek NASA) Grace menunjukkan kota mana yang mengalami kekeringan dan kota mana yang mengalami peningkatan ketersediaan air sehingga memberikan peringatan dini tentang munculnya ketidakamanan air," ujar profesor krisis air dan pengurangan risiko di University College London, Mohammad Shamsudduha.

Memasuki masa kebangkrutan air

London, Bangkok, dan Jakarta diklasifikasikan sebagai kota yang menghadapi tekanan air ekstrem atau sangat tinggi.SHUTTERSTOCK/Piyaset London, Bangkok, dan Jakarta diklasifikasikan sebagai kota yang menghadapi tekanan air ekstrem atau sangat tinggi.

Direktur United Nations University Institute for Water, Environment, and Health (UNU-INWEH), Kaveh Madani mengatakan, pengelolaan air yang buruk menjadi penyebab utama "kebangkrutan air" (water bankruptcy).

Ia menganggap krisis iklim jarang menjadi satu-satunya alasan kebangkrutan air.

“Perubahan iklim seperti resesi di atas pengelolaan bisnis yang buruk," tutur Madani.

Bank Dunia telah menyuarakan kekhawatiran cadangan air tawar global yang telah anjlok tajam selama 20 tahun terakhir.

Bumi kehilangan sekitar 324 miliar meter kubik air tawar setiap tahun, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tahunan 280 juta orang atau setara populasi Indonesia. Kehilangan tersebut memengaruhi cekungan sungai utama di setiap benua.

Sebelumnya, pada Selasa (20/1/2026), United Nations (Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB) mengumumkan bahwa dunia telah memasuki keadaan kebangkrutan air.

Baca juga: 

Laporan PBB mendefinisikan istilah kebangkrutan air sebagai suatu keadaan ketika penggunaan air jangka panjang melebihi pasokan dan merusak alam. Bahkan, kerusakan sumber daya air yang sedemikian parah berdampak permanen dan tidak dapat dipulihkan.

"Laporan ini mengungkapkan kenyataan yang tidak nyaman: Banyak wilayah hidup melampaui batas kemampuan hidrologisnya, dan banyak sistem air kritis sudah bangkrut," ujar Madani, penulis utama laporan tersebut, dilansir dari laman Universitas PBB, Rabu (21/1/2026).

Selain penggunaan air secara berlebihan, laporan PBB itu menilai, polusi dan krisis iklim juga telah mendorong banyak sistem air hingga melampaui titik pemulihan.

Ke depannya, kebangkrutan air akan resmi diartikan sebagai penarikan berlebihan secara berkelanjutan dari air permukaan maupun air tanah, dibandingkan dengan aliran masuk yang dapat diperbarui dan tingkat deplesinya aman.

Kebangkrutan air juga akan bermakna kerugian sumber daya alam terkait air yang tidak dapat dipulihkan atau terlalu mahal untuk diperbaiki.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau