Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Trump Pertanyakan Pemanasan Global di Saat AS Dilanda Badai Musim Dingin, Para Ilmuwan Beri Penjelasan

Kompas.com, 27 Januari 2026, 08:36 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Presiden Amerika Serika (AS), Donald Trump membantah bahwa dunia sedang memanas, dengan membenturkannya dengan kenyataan saat itu.

Dia menyebut mayoritas wilayah di Negeri Paman Sam menghadapi cuaca dengan suhu rendah yang menusuk, es berbahaya, dan salju lebat akibat dahsyatnya badai musim dingin.

Di dalam akun Truth Social miliknya, Trump menyebut, para pendukung dan ilmuwan sebagai 'pemberontak lingkungan', mengacu pada suhu dingin yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Belasan ilmuwan menilai klaim Trump keliru karena musim dan cuaca dingin akan tetap terjadi ketika dunia menjadi lebih hangat.

Baca juga: AS dan Venezuela, Ekstraksi Minyak Ekstensif Tingkatkan Emisi Metana

Meski cuaca dingin terjadi di AS bagian timur, para ilmuwan menegaskan bahwa sebagian besar wilayah dunia lain sudah semakin menghangat. Mereka menggaribawahi pentingnya membedakan antara cuaca harian dan lokal, dengan krisis iklim jangka panjang di seluruh dunia.

Catatan pemerintah AS menunjukkan bahwa cuaca pernah jauh lebih dingin di masa lalu.

“Unggahan media sosial ini memuat sejumlah besar bahasa provokatif dan pernyataan yang tidak akurat secara faktual dalam sebuah pernyataan yang sangat singkat. Pertama-tama, pemanasan global terus berlanjut—dan bahkan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir," ujar ilmuwan iklim Daniel Swain dari California Institute for Water Resources, dilansir AP dikutip Selasa (27/1/2026).

Ilmuwan iklim dari Universitas Princeton, Gabriel Vecchi membantah Trump yang mempertanyakan eksistensi pemanasan global dan menyebutnya justru sedang terjadi.

Apalagi, 2023-2025 menjadi tahun-tahun terpanas yang pernah tercatat, dengan peningkatan suhu yang jauh lebih cepat daripada sebelumnya.

Secara global, suhu musim dingin — pada bulan Desember, Januari, dan Februari — telah meningkat sebesar 1,3 derajat Fahrenheit (0,72 derajat Celsius) sejak tahun 1995.

Berdasarkan catatan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional, dua musim dingin sebelumnya malah menjadi yang terpanas.

AS memang mengalami pemanasan lebih lambat ketimbang negara-negara lain di dunia atau sekitar setengah derajat Fahrenheit (0,28 derajat Celsius) sejak tahun 1995. Bulan Desember lalu merupakan yang terpanas kelima dalam catatan secara global dan di AS sendiri.

AS hanya 2 persen dari luas bumi. Peta suhu global menunjukkan dua pertiga wilayah AS jauh lebih dingin dari biasanya, seperti Rusia. Namun, Australia, Afrika, Arktik, Antartika, Asia, Kanada, Greenland, dan sebagian besar Eropa lebih hangat dari biasanya.

“Meskipun Bumi menghangat, hari-hari dingin dan musim dingin yang dingin diproyeksikan tidak akan hilang, hanya jumlahnya akan berkurang,” ucap ilmuwan iklim Universitas Princeton, Michael Oppenheimer.

Baca juga: AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi

Selain itu, apa yang terjadi beberapa hari selama periode singkat bukanlah indikasi untuk keseluruhan kondisi di AS atau pun bumi dalam jangka panjang. Wilayah AS bagian timur dilanda musim dingin lebih ekstrem karena pemanasan Arktik, yang menjadi bagian dari krisis iklim.

Wilayah AS bagian timur menjadi area penelitian aktif dengan ketidakpastian.

"Salah satu hipotesisnya, pemanasan Arktik mengurangi kontras suhu antara kutub dan garis lintang tengah, yang terkadang dapat melemahkan atau mendistorsi arus jet dan memungkinkan udara dingin Arktik menyebar ke selatan," ujar profesor meteorologi Universitas Northern Illinois, Victor Gensini.

Sebelumnya, Trump bersikap skeptis terhadap isu iklim. Dia menyebut energi terbarukan dan krisis iklim sebagai penipuan terbesar di dunia dalam pidatonya di hadapan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (23/9/2025).

Ia menyinggung kebijakan Uni Eropa untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang menyebabkan pemanasan global maupun krisis iklim.

”Semua prediksi yang dibuat PBB dan banyak pihak lain itu salah. Prediksi itu dibuat orang-orang bodoh yang membuat negara mereka kehilangan kekayaan dan kesempatan untuk sukses,” ujar Trump.

Baca juga: Kerja Sama Iklim Internasional Meningkat Meskipun Ada Efek Trump

Trump membanggakan bahwa AS saat ini sedang memerangi penggunaan energi terbarukan, dengan menyatakan bahwa pemanfaatan tenaga matahari dan angin terlau mahal.

Bahkan, UU terbaru mengakhiri kredit pajak energi terbarukan dan AS mulai mengeksplorasi pengeboran cadangan gas, minyak, dan batubara baru.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau