Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jakarta Terancam Tenggelam, Pemprov Tekan Pengambilan Air Tanah

Kompas.com, 28 Januari 2026, 09:49 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Percepatan pengurangan tingkat pengambilan air tanah termasuk strategi utama Jakarta ke depannya untuk menghadapi kenaikan permukaan air laut, ditambah tren peningkatan curah hujan yang dipicu krisis iklim.

"Fenomena Jakarta sinking (tenggelam) memang sudah sejak lama disampaikan oleh berbagai pihak, karenanya kami perlu punya systematic plan untuk bisa menyelesaikannya. Nah, kami melihat bahwa problem yang pertama tentunya water extraction (pengambilan air)," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Baca juga:

Fenomena Jakarta tenggelam, bagaimana menghadapinya?

Tekan pengambilan air tanah

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendorong PAM JAYA untuk lebih agresif dalam memperluas penyediaan layanan air bersih melalui jaringan perpipaan. Pengambilan air tanah dari sektor rumah tangga di Jakarta disebut sudah mulai berkurang.

"Tadi mungkin masih data yang lama, tapi sebenarnya sudah mencapai hampir dua juta (pelanggan)," tutur Atika.

Pemprov DKI Jakarta juga akan membatasi dan menarik pajak untuk pengambilan air tanah dari sektor lain, termasuk gedung, perkantoran, atau bangunan komersial lainnya.

Pemprov DKI Jakarta memberikan disinsentif terhadap perusahaan dan praktik-praktik usaha yang melakukan pengambilan air tanah.

Untuk perlindungan wilayah pesisir, Jakarta membangun tanggul laut dalam proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Jakarta juga memanfaatkan tanggul alami, mangrove, untuk melindungi wilayah pesisir.

Baca juga:

Memperluas ruang terbuka hijau

Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat, Selasa (14/10/2025). Jakarta terus mengalami penurunan tanah akibat pengambilan air tanah. Pemprov tekan pengambilan air tanah dan perluas ruang terbuka hijau.Kompas.com/ Suci Wulandari Putri Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat, Selasa (14/10/2025). Jakarta terus mengalami penurunan tanah akibat pengambilan air tanah. Pemprov tekan pengambilan air tanah dan perluas ruang terbuka hijau.

Di sisi lain, Jakarta ingin memperluas ruang terbuka hijau (RTH) untuk menurunkan risiko genangan dan suhu panas perkotaan (urban heat island).

Atika mengakui RTH yang bersifat publik di Jakarta memang relatif masih lebih kecil daripada privat.

RTH di Jakarta masih dihitung berdasarkan perluasan lahan. Padahal, penambahan luasan lahan untuk RTH di Jakarta memerlukan modal yang cukup besar.

Pemprov DKI Jakarta berencana menambahkan taman vertikal (vertical garden) dan berbagai inovasi lainnya sebagai komponen dalam perhitungan RTH.

"Karena pertumbuhan perkotaan menjadi sangat masif ya, tetapi sebenarnya berbagai inovasi yang bisa dilakukan dalam penghitungan RTH sendiri juga perlu dipertimbangan dengan aligment (penyelarasan)," ucapnya.

Pemprov Jakarta mendorong program penghijauan lingkungan di berbagai fasilitas publik dengan menyediakan ruang untuk area vegetasi yang lebih luas. Masyarakat pun diimbau untuk ikut serta dalam upaya penambahan ruang untuk area vegetasi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau