Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Virus Nipah Terjadi Musiman, BRIN Ingatkan Pola Penularan dan Risiko di Indonesia

Kompas.com, 28 Januari 2026, 14:43 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Infeksi virus Nipah terjadi musiman, menurut Peneliti Ahli Utama Virologi, Emerging dan Re-emerging Diseases Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Niluh Putu Indi Dharmayanti.

"Sejauh ini memang KLB (kejadian luar biasa) virus Nipah yang ada di Asia Selatan memang memiliki pola musiman, masih terbatas," kata Niluh saat dihubungi Kompas.com, Rabu (28/1/2026).

Baca juga:

Virus Nipah berpotensi menyebar akibat perubahan iklim

Genom virus Nipah sudah terdeteksi di Sumatera sejak 2013

Niluh mengatakan, penularan virus Nipah terjadi dari hewan ke manusia dan manusia ke manusia lainnya seperti pada kasus KLB di India, Bangladesh, Malaysia, serta Filipina.

Biasanya penularan terjadi ketika manusia berkontak langsung dengan kelelawar ataupun hewan yang terinfeksi. Kontaminasi virus juga terjadi ketika manusia memakan kelelawar yang terinfeksi Nipah.

"Terkait dengan KLB misalnya di beberapa negara di Asia Selatan, biasanya memang di sekitar Desember-Mei. Jadi di bulan-bulan musim dingin dan sekitar musim semi," tutur dia. 

Kata Niluh, BRIN telah mendeteksi keberadaan genom virus Nipah pada spesies kelelawar Pteropus vampyrus sejak 2013 lalu di Sumatera.

"Walaupun kami mendeteksi adanya genom ataupun antibodi virus Nipah ini sudah terdeteksi di kelelawar buah yang ada di Indonesia, namun ini masih hati-hati. Memang kita harus perlu tetap waspada dan segera mengaktifkan surveilans untuk kesiapsiagaan (penyebaran) virus Nipah," jelas dia. 

Genom virus Nipah kembali ditemukan pada kelelawar jenis Pteropus hipomelanus di Jawa Tengah tahun 2025. Penelitiannya lalu dipublikasikan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases.

Baca juga:

Risiko penularan virus Nipah di Indonesia

Infeksi virus Nipah memiliki pola musiman. Genome virus ini bahkan sudah terdeteksi di Sumatera pada tahun 2013 lalu.Shutterstock/Independent birds Infeksi virus Nipah memiliki pola musiman. Genome virus ini bahkan sudah terdeteksi di Sumatera pada tahun 2013 lalu.

Dia menekankan, Indonesia memiliki keragaman spesies kelelawar yang tinggi sehingga potensi keberadaan reservoir virus pun lebih besar.

"Kemudian kedekatan habitat kelelawar dengan pemukiman manusia, ada praktek perburuan, perdagangan kelelawar, juga adanya keberadaan pasar hewan yang mungkin memiliki sanitasi yang kurang baik, itu juga akan meningkatkan risiko spillover dari virus ini ke manusia," jelas Niluh.

Sejauh ini virus Nipah belum pernah dilaporkan menginfeksi masyarakat di Indonesia. Namun, Niluh menegaskan deteksi dini dan pemantauan penyakit harus dilakukan.

Terlebih vaksin ataupun antivirus spesifik untuk virus Nipah belum tersedia.

"Kemudian, meningkatkan kapasitas dari laboratorium untuk mendeteksi secara cepat, terhadap kasus yang mungkin akan ada. Karena ini adalah reservoir-nya dari kelelawar, memang tentunya pendengkatan One Health yang melibatkan sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan sektor kesehatan lingkungan sangat penting dalam memantau dan mengendalikan risiko dari virus Nipah di Indonesia," terang Niluh.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
LSM/Figur
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Pemerintah
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
LSM/Figur
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Pemerintah
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau