Alih fungsi hutan untuk pertanian atau peternakan juga meningkatkan risiko penularan berbagai penyakit dari kelelawar ke manusia. Sebab, kondisi tersebut mendekatkan manusia dengan habitat kelelawar.
Terlebih kelelawar sudah ribuan tahun menghuni kawasan hutan yang dialihfungsikan itu. Misalnya, kelelawar pemakan buah yang memang menjadikan kawasan hutan tersebut sebagai tempat untuk mencari makan.
"(Ketika tutupan) hutan berubah menjadi peternakan misalnya, ya tapi kelelawarnya tetap ke situ ya dan kotorannya akhirnya mencemari, mengkontaminasi kandang, makanan dari hewan (ternak) atau makanan yang dikonsumsi manusia," ujar Dicky.
Peternakan yang dulunya kawasan hutan, berisiko tinggi menjadi tempat penularan berbagai penyakit dari kelelawar melalui kotorannya.
Berbagai penyakit dapat ditularkan kelelawar melalui kotorannya, dengan perantara hewan ternak, seperti babi atau mamalia lainnya, yang berinteraksi langsung dengan manusia.
Berbagai penyakit juga bisa ditularkan kelelawar ke manusia melalui kotorannya secara langsung, dengan mencemari makanan atau minuman manusia.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya