Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bambu Bisa Jadi "Superfood", tapi Ada Risiko yang Perlu Diperhatikan

Kompas.com, 29 Januari 2026, 14:41 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com -Tinjauan terbaru tentang manfaat kesehatan bambu menunjukkan bahwa tanaman ini layak disebut sebagai superfood.

Sebuah tim peneliti internasional menganalisis berbagai studi terdahulu yang melibatkan campuran uji coba pada manusia dan studi laboratorium untuk menimbang efek-efek yang terkait dengan mengonsumsi tunas bambu yang sering disebut rebung serta produk turunan bambu lainnya.

Menurut peneliti, terdapat banyak manfaat mengonsumsi bambu seperti misalnya peningkatan kesehatan metabolisme dan pencernaan, berkurangnya peradangan dan toksisitas sel, serta penurunan risiko sejumlah penyakit.

"Temuan dari tinjauan sistematis kami, yang mencakup 16 studi, menunjukkan bahwa jika dipersiapkan dengan tepat, konsumsi bambu mungkin memiliki banyak manfaat kesehatan bagi manusia," tulis para peneliti.

Baca juga: Krisis Nutrisi akibat Iklim: Tanaman Makin Berkalori, Kita Makin Rentan

Melansir Science Alert, Rabu (28/1/2026) sudah diketahui sebelumnya bahwa bambu tinggi akan protein dan serat, rendah lemak, serta kaya akan berbagai nutrisi dan vitamin. Namun, ini adalah pertama kalinya semua data ilmiah yang tersedia mengenai bambu dalam pola makan dianalisis secara kolektif.

Salah satu manfaat potensial yang bisa didapatkan dengan menambahkan sedikit rebung ke dalam tumisan adalah peningkatan kontrol glikemik atau pengaturan gula darah, yang dapat menurunkan risiko diabetes atau membantu mengelolanya.

Dalam studi lain yang ditinjau, bambu terbukti memiliki efek meningkatkan probiotik, yang berarti meningkatkan kadar bakteri hidup yang sehat di usus.

Meski disebut superfood, tinjauan para peneliti juga mengakui bahwa terdapat kandungan sianida alami yang berpotensi beracun di dalam bambu. Itu mengapa bambu perlu diolah terlebih dahulu agar racunnya hilang sebelum dikonsumsi.

Peneliti juga menemukan bahwa di beberapa wilayah, tanaman bambu dapat menyerap logam berat seperti timbal dari tanah atau air yang tercemar.

Beberapa studi juga menunjukkan adanya senyawa tertentu salam bambu yang jika dikonsumsi berlebihan atau tidak diolah dengan benar, dapat menghambat penyerapan yodium oleh tubuh. Hal ini bisa menyebabkan kelenjar tiroid membengkak.

"Bambu sudah umum dikonsumsi di beberapa bagian Asia, dan memiliki potensi besar untuk menjadi tambahan yang sehat dan berkelanjutan untuk makanan di seluruh dunia tetapi harus disiapkan dengan benar," kata Lee Smith, seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Anglia Ruskin di Inggris.

"Berbagai manfaat kesehatan yang kami identifikasi, termasuk potensinya untuk mengatasi tantangan kesehatan modern seperti diabetes dan penyakit jantung, kemungkinan besar disebabkan oleh kandungan nutrisi bambu dan ekstraknya, di mana bambu kaya akan protein, asam amino, karbohidrat, mineral, dan vitamin," terannya lagi.

Baca juga: Tanaman Ternyata Tak Banyak Menyerap Karbon Dioksida, Mengapa?

Tinjauan ini memperkuat potensi bambu, dengan manfaat kesehatan yang sangat banyak dan beragam. Di saat yang sama, jelas bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan mengenai dampak bambu terhadap tubuh kita.

Banyak studi dalam tinjauan ini berukuran relatif kecil atau terbatas pada eksperimen di laboratorium, bukan pada manusia secara langsung.

Studi ini pun diharapkan bisa mendorong penelitian lebih lanjut. Dengan penyelidikan yang lebih besar dan lebih mendalam, kita akan bisa mengetahui seberapa tinggi potensi maksimal dari bambu sebagai sebuah superfood.

"Tinjauan kami menunjukkan janji yang jelas dari bambu sebagai calon superfood, namun masih terdapat celah dalam pengetahuan kami. Perlu uji coba tambahan pada manusia yang berkualitas tinggi sebelum kami dapat memberikan rekomendasi yang pasti," kata Smith.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau